Operator Seluler Didorong Racik Strategi Frekuensi Hadapi Era 5G

Operator Seluler Didorong Racik Strategi Frekuensi Hadapi Era 5G

Operator seluler di Indonesia dituntut cermat dalam menentukan strategi penggunaan spektrum frekuensi guna memaksimalkan potensi teknologi 5G yang lebih stabil. Penataan aset vital ini krusial untuk menentukan arah bisnis jangka panjang perusahaan di tengah perkembangan teknologi digital yang kian kompleks pada Rabu (30/4/2026).

Kombinasi penggunaan berbagai pita frekuensi menjadi modal utama bagi operator dalam membangun infrastruktur 5G yang berkualitas. Dilansir dari Teknologi, langkah strategis tersebut diperlukan untuk membedakan kualitas layanan, baik bagi konsumen individu maupun kebutuhan spesifik sektor korporasi.

President Director Ericsson Indonesia, Nora Wahby, menjelaskan bahwa operator seluler perlu memadukan pita rendah dan pita tinggi. Sinergi ini bertujuan untuk menjamin jangkauan jaringan yang luas sekaligus performa konektivitas yang mumpuni.

"Anda memerlukan low band untuk menjamin jangkauan yang luas, dan Anda juga harus mengombinasikannya demi performa 5G standalone yang terbaik," kata Nora Wahby, President Director Ericsson Indonesia.

Penggunaan pita frekuensi tinggi seperti 2600 MHz dan 3,5 GHz menjadi faktor penting untuk mencapai latensi rendah dan kecepatan tinggi di area dalam ruangan. Integrasi spektrum frekuensi ini tidak dapat dilakukan secara terpisah jika ingin mengejar performa maksimal.

Kehadiran kecerdasan buatan (AI) turut mendorong pergeseran fundamental pada kebutuhan konektivitas global. Infrastruktur digital kini dituntut mampu memberikan jaminan kualitas layanan (guaranteed quality of service) yang jauh melampaui prinsip dasar layanan internet biasa.

"Jadi, kombinasi kedua spektrum tersebut sangatlah penting untuk mendapatkan performa yang tepat," kata Nora Wahby, President Director Ericsson Indonesia.

Dirjen Infrastruktur Digital Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Wayan Toni Supriyanto, menyatakan pihaknya terus memantau aspirasi operator terkait lelang spektrum frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz. Pemerintah saat ini tengah mempertimbangkan beban finansial yang akan dihadapi perusahaan seluler.

"Biasa permintaan operator, sampai saat ini kami masih menerima masukan dan belum bisa menjawab. Harga dasar sudah diterima dan mendapat masukan dari BPKP," ujar Wayan Toni Supriyanto, Dirjen Infrastruktur Digital Komdigi.

Pemerintah berencana melepas total pita sebesar 260 MHz dalam lelang kali ini, yang tercatat sebagai distribusi frekuensi terbesar dalam sejarah industri telekomunikasi Indonesia. Meski menjadi peluang ekspansi, kebijakan pembayaran di muka (upfront fee) sebanyak dua kali pada tahun pertama menjadi perhatian serius bagi pelaku industri.

Biaya frekuensi di Indonesia menunjukkan tren peningkatan dengan rasio pendapatan terhadap beban menyentuh 12,2 persen. Angka ini tercatat lebih rendah dibandingkan rata-rata kawasan ASEAN maupun global, yang mencerminkan tantangan investasi bagi operator lokal.

Lelang pita 700 MHz ditujukan untuk memperluas cakupan jaringan hingga wilayah rural karena daya tembus dinding yang kuat. Sebaliknya, pita 2,6 GHz difokuskan pada peningkatan kapasitas data di wilayah urban guna mengakselerasi layanan 5G berkecepatan tinggi.

Fleksibilitas diberikan dalam aturan lelang kali ini, di mana satu peserta dimungkinkan menguasai lebih dari dua blok frekuensi. Keputusan tersebut bergantung pada kebutuhan teknis dan kesiapan finansial masing-masing operator dalam menyeimbangkan investasi dan pembangunan infrastruktur.

"Saya memungkinkan begitu tergantung dari keinginan mereka," tambah Wayan Toni Supriyanto, Dirjen Infrastruktur Digital Komdigi.

Artikel terkait

Rekomendasi