Penggunaan gelas atau botol minum reusable kini makin populer di tengah masyarakat Indonesia sebagai langkah memangkas produksi sampah plastik sekali pakai. Produk tumbler sering kali diklaim secara otomatis lebih ramah lingkungan daripada kemasan plastik sekali pakai.
Namun, riset terbaru menunjukkan bahwa anggapan tersebut tidak selamanya tepat. Dilansir dari Suara, penelitian dari International Degree Program in Climate Change and Sustainable Development (IPCS) National Taiwan University menyatakan manfaat hijau dari gelas reusable sangat bergantung pada tingkat intensitas pemakaiannya.
Tim peneliti menemukan bahwa gelas berbahan polypropylene (PP) baru bisa memberikan dampak lingkungan yang lebih rendah daripada kemasan sekali pakai setelah dipakai minimal sekitar 120 kali.
“Kemampuan untuk digunakan kembali saja tidak menjamin manfaat bagi lingkungan. Frekuensi penggunaan adalah faktor penentu yang sebenarnya,” ujar Yan-Ruei Huang selaku penulis utama penelitian bersama Prof. Yu-Kai Liao.
Laporan ini mempertegas bahwa produk ramah lingkungan tersebut memerlukan siklus pemakaian jangka panjang. Hal ini diperlukan agar jejak karbon dari proses manufakturnya yang menghabiskan banyak energi dan material dapat terbayar seimbang.
Apabila wadah reusable tersebut hanya dipakai beberapa kali saja lalu rusak atau hilang, beban karbon dari proses produksinya justru berpotensi lebih besar daripada kemasan sekali pakai. Studi ini juga menyoroti vitalnya sistem pendukung kemasan pakai ulang.
Aspek pembersihan, manajemen distribusi, pengumpulan wadah, hingga kultur konsumen turut menentukan efektivitas pengurangan beban ekologis. Manfaat hijau ini bahkan bisa merosot tajam jika proses pencucian gelas mengonsumsi air dan energi yang terlampau tinggi.
Di Indonesia sendiri, tren membawa botol minum terus tumbuh seiring meluasnya kampanye pembatasan sampah plastik. Data survei Jakpat 2024 menunjukkan ada 56 persen Gen Z di Indonesia yang membiasakan diri membawa botol minum sendiri demi menjaga lingkungan.
Sejumlah pelaku usaha kuliner juga ikut mendukung gerakan ini dengan memberikan potongan harga khusus bagi konsumen yang membawa tempat minum sendiri. Kendati demikian, hasil kajian ini mengingatkan bahwa adopsi gaya hidup berkelanjutan tidak boleh berhenti pada tahap membeli atau memiliki produk reusable saja.
Konsistensi penggunaan dalam jangka panjang menjadi kunci utama agar dampak positifnya terhadap bumi dapat terwujud nyata. Di sisi lain, timbunan sampah kemasan sekali pakai masih menjadi persoalan pelik di kawasan perkotaan Indonesia.
Limbah plastik, gelas minuman, hingga sisa makanan masih mendominasi muatan sampah kota dan belum terkelola secara optimal. Oleh karena itu, penggunaan produk reusable tetap menawarkan potensi besar dengan syarat didukung konsistensi perilaku serta ekosistem pengelolaan yang berkelanjutan.