Studi IBM Ungkap 80 Persen CEO di Indonesia Sebut AI Definisikan Ulang Bisnis

Studi IBM Ungkap 80 Persen CEO di Indonesia Sebut AI Definisikan Ulang Bisnis

Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) kini mengubah paradigma kepemimpinan di tingkat tertinggi perusahaan. Berdasarkan studi terbaru dari IBM Institute for Business Value yang dirilis pada 20 Mei 2026, sebanyak 80% CEO di Indonesia menyatakan bahwa AI mendefinisikan ulang inti bisnis mereka, seperti dikutip dari Medcom.

Peran jajaran C-suite saat ini mentransformasi AI menjadi model operasional baru. Langkah strategis ini dilakukan untuk mendorong efisiensi menyeluruh di berbagai lini organisasi.

Studi yang melibatkan 2.000 CEO global ini menunjukkan bahwa 90% pemimpin perusahaan di Indonesia telah mengintegrasikan AI ke dalam berbagai alur kerja operasional. Bahkan, dalam tiga tahun ke depan, modernisasi teknologi dan AI menjadi prioritas strategis utama bagi 30% CEO di tanah air.

Kepercayaan terhadap teknologi ini juga semakin kuat di tingkat kepemimpinan. Sebanyak 65% CEO mengaku nyaman mengambil keputusan strategis besar berdasarkan masukan yang dihasilkan oleh sistem AI.

Perubahan ini turut menuntut evolusi dalam struktur kepemimpinan perusahaan. Catherine Lian, General Manager and Technology Leader IBM ASEAN, menekankan bahwa AI bukan lagi sekadar eksperimen, melainkan penggerak utama daya saing bisnis. Hal ini terlihat dari munculnya peran baru seperti Chief AI Officer (CAIO).

Secara global, kehadiran CAIO melonjak drastis dari 17% pada 2025 menjadi 70% pada 2026. Di Indonesia, para CEO memprediksi peran CAIO akan semakin strategis hingga tahun 2030 mendatang.

Selain itu, tantangan operasional seperti produktivitas dan profitabilitas tetap menjadi perhatian utama bagi 35% pemimpin organisasi. Guna menghadapi hal tersebut, para CEO mulai mendesentralisasi pengambilan keputusan.

Diprediksi pada tahun 2030, sebanyak 48% keputusan operasional rutin akan diambil sepenuhnya oleh AI tanpa campur tangan manusia. Integrasi antara strategi talenta dan teknologi kini menjadi kunci utama bagi perusahaan yang ingin mencapai target bisnis mereka di era ekonomi berbasis AI.

Meski teknologi berkembang pesat, 75% CEO di Indonesia sepakat bahwa keberhasilan implementasi AI sangat bergantung pada adopsi manusia. Tantangan terbesar saat ini adalah kesenjangan keterampilan; meskipun 80% CEO percaya karyawan mereka mampu berkolaborasi dengan AI, faktanya baru sekitar 26% tenaga kerja yang menggunakannya secara rutin.

Sebagai dampaknya, pelatihan ulang menjadi krusial bagi keberlanjutan organisasi. Antara tahun 2026 hingga 2028, diperkirakan 30% karyawan perlu mempelajari keterampilan baru untuk peran yang berbeda, sementara 52% lainnya membutuhkan peningkatan kemampuan agar tetap efektif di posisi saat ini.

Artikel terkait

Rekomendasi