Penelitian terbaru dari Rice University yang dilansir dari Lestari pada Selasa (12/5/2026) mengungkapkan bahwa fenomena iklim El Niño-Southern Oscillation (ENSO) memicu peningkatan risiko konflik bersenjata global. Risiko tersebut terutama melonjak di wilayah yang terdampak kondisi cuaca lebih kering akibat anomali suhu laut tersebut.
Data riset menunjukkan bahwa dampak perubahan iklim tidak merata di seluruh dunia. Faktor tekanan pada ketersediaan air dan sektor pertanian akibat kekeringan menjadi pendorong utama yang menghubungkan kondisi iklim dengan stabilitas keamanan di suatu wilayah.
Ketua studi sekaligus mahasiswa doktoral statistik Rice University, Tyler Bagwell, menjelaskan bahwa korelasi kuat ditemukan pada wilayah yang mengalami penurunan curah hujan ekstrem selama fase El Niño.
"Kami menemukan bahwa risiko konflik bersenjata global lebih besar selama El Niño dibandingkan dengan La Niña, tetapi kami juga menemukan bahwa peningkatan risiko konflik selama El Niño terutama terkait dengan wilayah yang mengalami kondisi lebih kering," ujar Tyler Bagwell, mahasiswa doktoral statistik Rice.
Bagwell menambahkan bahwa tidak ditemukan bukti hubungan yang kredibel antara risiko konflik dengan wilayah El Niño yang justru mengalami kondisi lebih basah. Peneliti juga mencatat pentingnya pemanfaatan dataset resolusi tinggi untuk memetakan lebih dari 500 kejadian konflik sejak tahun 1950 hingga 2023.
"Tingkat detail spasial yang mendokumentasikan konflik dalam rentang waktu yang begitu panjang belum pernah ada sebelumnya dalam sebuah dataset. Hal ini memungkinkan kami untuk melihat bagaimana variabilitas iklim memengaruhi risiko konflik pada skala yang jauh lebih lokal selama beberapa dekade," tutur Tyler Bagwell, mahasiswa doktoral statistik Rice.
Penelitian ini pun menyoroti prediksi kemunculan El Niño super pada akhir tahun 2026 yang membuat temuan ini menjadi sangat relevan bagi para pengambil kebijakan global.
"Temuan kami sangat tepat waktu," ujar Tyler Bagwell, mahasiswa doktoral statistik Rice.
Selain ENSO, studi yang terbit dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences ini mengidentifikasi peran Indian Ocean Dipole (IOD). Berbeda dengan ENSO, baik fase positif maupun negatif IOD terbukti meningkatkan risiko konflik di Tanduk Afrika dan Asia Tenggara.
Profesor Madya bidang ilmu bumi, lingkungan, dan planet, Sylvia Dee, menekankan bahwa pola iklim ini dapat diprediksi jauh hari untuk memperkuat sistem peringatan dini kemanusiaan.
"Pola iklim ini dapat diprediksi dalam skala waktu musiman hingga tahunan. Itu berarti ada peluang untuk menggunakan informasi ini sebagai bagian dari sistem peringatan dini," tutur Sylvia Dee, ilmuwan iklim.
Ahli statistik Frederi Viens memberikan penegasan bahwa meskipun iklim bukan penyebab langsung sebuah peperangan, anomali cuaca secara signifikan mengubah probabilitas terjadinya bentrokan fisik.
"Kita tidak bisa mengatakan secara pasti bahwa iklim menyebabkan konflik. Tetapi kita dapat mengatakan bahwa beberapa pola iklim mengubah probabilitas konflik. Dan memahami pergeseran risiko tersebut sangat berharga untuk perencanaan dan mitigasi," ucap Frederi Viens, ahli statistik.
Analisis data dalam riset ini dilakukan secara manual terhadap sumber-sumber primer termasuk laporan berita multisahasa. Proses identifikasi lokasi geografis setiap peristiwa konflik tersebut dilakukan secara mendalam untuk memastikan akurasi data hubungan lokal antara variabilitas iklim dan gangguan keamanan.