Studi Sarankan Pekerja Ambil Liburan Setiap Dua Bulan Sekali

Studi Sarankan Pekerja Ambil Liburan Setiap Dua Bulan Sekali

Sebuah studi dari PubMed Central tahun 2025 menyarankan para pekerja untuk mengambil waktu liburan setiap dua bulan sekali guna memulihkan tubuh dan pikiran dari tekanan rutinitas pekerjaan sehari-hari, dilansir dari Lifestyle pada Rabu (20/5/2026).

Rekomendasi mengenai frekuensi istirahat berkala ini dinilai penting karena dapat membantu menurunkan hormon stres seperti kortisol yang memicu gangguan tidur, penurunan imun, serta masalah konsentrasi jika dibiarkan tinggi dalam jangka panjang.

Penelitian tersebut menekankan bahwa efektivitas pemulihan energi lebih dipengaruhi oleh frekuensi liburan daripada kemewahan destinasi, sehingga aktivitas sederhana seperti staycation atau mematikan laptop di akhir pekan sudah dianggap cukup efektif.

“Kami menekankan bagaimana liburan secara teratur membantu pemulihan dan meningkatkan kesejahteraan, sehingga mengurangi stres serta meningkatkan performa kerja,” kata peneliti Selvaraj Giridharan, dilansir Your Tango, Rabu (20/5/2026).

Giridharan menambahkan bahwa integrasi waktu istirahat yang lebih sering perlu dimasukkan ke dalam budaya kerja organisasi melalui berbagai strategi praktis demi menjaga kesehatan para pekerja.

“Kami mendorong integrasi jeda istirahat yang lebih sering ke dalam budaya kerja melalui strategi praktis bagi individu maupun organisasi,” tulisnya.

Dampak stres kerja kronis ini juga diperkuat oleh penelitian terpisah terhadap 749 perempuan yang menunjukkan bahwa mereka yang berlibur kurang dari sekali dalam enam tahun memiliki risiko masalah jantung delapan kali lebih besar dibandingkan yang berlibur dua kali setahun.

Kendati manfaatnya besar bagi kesehatan fisik dan jantung, data survei dari Pew Research Center menunjukkan sebanyak 46 persen pekerja yang memiliki jatah cuti berbayar justru mengambil waktu libur lebih sedikit dari hak yang mereka miliki.

Keengganan berlibur tersebut didorong oleh kekhawatiran dari 49 persen responden terkait pekerjaan yang menumpuk serta rasa takut membebani rekan kerja lainnya saat mereka mengambil cuti.

Artikel terkait

Rekomendasi