Gerobak kaca tua berwarna cokelat tetap berdiri kokoh menjajakan camilan tradisional galundeng atau kue bantal di kawasan Pasar Ikan Jatinegara, Jakarta Timur. Pria asal Solo bernama Suyatno yang kini berusia 60 tahun merupakan sosok di balik keuletan menjaga kuliner tersebut.
Dikutip dari Megapolitan, Suyatno rutin menggelar dagangannya setiap pukul 22.00 WIB di area parkir sepeda motor. Meski harus bersaing dengan ruang parkir dan cuaca yang tidak menentu, ia tetap setia menunggu pembeli setianya setiap malam.
Kue bantal buatannya memiliki ciri khas warna cokelat, tekstur empuk, dan bentuk kotak yang disusun rapi di dalam gerobak. Jajanan tradisional ini terus diminati berbagai kalangan, mulai dari anak muda hingga lansia yang silih berganti datang membeli.
"Dagang udah dari tahun 1983-an," kata dia ketika diwawancarai Kompas.com di Pasar Ikan, Jatinegara, Rabu (6/5/2025) malam.
Suyatno mengakui bahwa mempertahankan eksistensi kue bantal di tengah tren roti kekinian bukanlah perkara mudah. Banyak produk serupa yang kini hadir dengan kemasan menarik dan beragam varian rasa seperti cokelat, stroberi, keju, hingga susu.
Namun, ia memilih untuk tidak mengikuti tren rasa modern dan tetap mempertahankan resep autentik. Galundeng buatannya tetap menonjolkan rasa yang tidak terlalu manis dengan balutan gula merah pada bagian luarnya.
Kunci kelembutan kuenya terletak pada penggunaan bahan-bahan dasar seperti tepung terigu cakra, gula pasir, margarin, dan pengembang. Suyatno khawatir penambahan bahan lain justru akan merusak cita rasa dan tekstur asli yang telah ia jaga selama puluhan tahun.
Setiap hari, ia memulai proses produksi sejak pukul 15.00 WIB hingga 20.00 WIB. Sebanyak 700 buah kue bantal berhasil ia bentuk secara manual menggunakan tangan terampilnya.
Separuh dari hasil produksinya diambil oleh rekan penjual lain dengan harga Rp 1.100 per buah. Sementara itu, 350 buah sisanya dijual sendiri oleh Suyatno di depan Pasar Ikan Jatinegara dan selalu habis terjual.
"Walaupun ada roti kekinian, dagangan saya tetap habis, selalu 350 buah ludes," tutur dia.
Sebagai ayah dari tujuh anak, Suyatno berharap usaha ini dapat berlanjut ke generasi berikutnya. Saat ini, ia mulai mengajari anaknya yang masih menempuh bangku kuliah untuk membantu proses pembuatan kue bantal.
"Ya, kalau saya sendiri kan usia sudah tua, jadi tergantung anak-anak nanti," tegas dia.
Imam Setyobudi, seorang Antropolog dari Institut Seni Budaya Indonesia Bandung (ISBI), menilai galundeng memiliki posisi istimewa di hati masyarakat. Menurutnya, terdapat lima faktor utama yang membuat camilan ini tetap eksis di tengah gempuran donat artis atau croffle.
"Bertahannya galundeng bukan hanya soal rasa, tetapi karena beberapa faktor kuat," ungkap Imam ketika dihubungi Kompas.com, Selasa.
Faktor pertama adalah harga yang sangat terjangkau, berkisar antara Rp 1.000 hingga Rp 2.000. Harga ini jauh di bawah camilan modern yang sering kali menyentuh angka puluhan ribu rupiah, sehingga dapat dinikmati semua kalangan.
Kedua, adanya aspek nostalgia dan identitas budaya. Galundeng sering dianggap sebagai pembawa kenangan masa kecil atau suasana pasar tradisional yang memberikan kenyamanan bagi lidah lokal.
Ketiga, kue ini menawarkan tekstur yang padat namun lembut sehingga mengenyangkan. Hal ini menjadikannya teman yang ideal untuk meminum kopi atau teh, sesuai dengan tradisi santai masyarakat Indonesia.
"Hal ini menjadikannya pilihan favorit untuk menemani kopi atau teh di pagi dan sore hari, sebuah tradisi santai yang masih kuat di masyarakat kita," ungkap dia.
Faktor keempat berkaitan dengan penggunaan bahan yang 'jujur' tanpa tambahan pengawet kimia. Terakhir, beberapa pedagang mulai melakukan inovasi kualitas tanpa menghilangkan identitas asli produk mereka.
"Kesimpulannya, galundeng bertahan karena ia menawarkan kombinasi antara ekonomi, rasa yang otentik, dan ikatan emosional yang tidak dimiliki oleh makanan musiman," ucap Imam.
Asal-Usul dan Akulturasi Budaya
Pakar Gastronomi Indonesia, Murdijati Gardjito, menjelaskan bahwa kue ini dikenal dengan nama yang berbeda di tiap daerah. Di wilayah Pantura Jawa Barat disebut bolang baling, sedangkan di Jawa Tengah lebih populer dengan sebutan galundeng.
"Tentu saja dalam bentuk irisan persegi-persegi. Waktu digoreng adonannya menggembung seperti bantal," ucap Murdijati ketika dihubungi Kompas.com, Rabu.
Secara historis, kue bantal merupakan hasil akulturasi kuliner dari Tiongkok. Meskipun mirip dengan kompyang, kue bantal memiliki tekstur yang lebih lembut dan tidak sekeras kompyang yang dahulu digunakan sebagai bekal prajurit perang.
Murdijati menyarankan agar pedagang mulai melakukan variasi ukuran dan kemasan agar lebih menarik bagi generasi muda. Penambahan topping atau penggunaan nama yang unik dinilai dapat meningkatkan daya saing produk tradisional ini di masa depan.