Swatch bersama Audemars Piguet resmi meluncurkan koleksi kolaborasi bernama Royal Pop berbentuk jam tangan saku pada Selasa, 12 Mei 2026. Produk yang menggunakan siluet ikonis Royal Oak ini memicu antrean panjang calon pembeli di toko resmi New York menjelang rilis ritelnya.
Wired melaporkan bahwa koleksi ini terdiri dari delapan versi jam tangan saku yang dibuat dari material komposit biokeramik milik Swatch. Jam ini terbagi dalam dua gaya, yaitu Lepine dengan kenop di angka 12 seharga 400 dolar AS, serta Savonnette dengan kenop di angka 3 seharga 420 dolar AS. Bagian dalam jam digerakkan oleh mesin mekanis Sistem51 versi putaran manual yang dirakit sepenuhnya oleh mesin dengan cadangan daya 90 jam.
Sebelum peluncuran resmi, jagat media sosial sempat diramaikan oleh gambar tiruan berbasis kecerdasan buatan (AI) yang menampilkan arloji tangan Royal Oak versi plastik. Desain jam tangan saku modular ini mengadopsi lini POP Swatch tahun 1986, sehingga kepala jam dapat dilepas dari wadahnya untuk dipasang pada tali gantungan, klip, maupun pakaian.
CEO Swatch Group Nick Hayek menyatakan bahwa antusiasme tinggi ini akan berdampak pada pasar penjualan kembali karena produk ini dijual secara sangat terbatas. Penjualan produk tersebut juga tidak dilakukan secara daring melainkan hanya tersedia langsung di toko fisik tertentu.
"It's unavoidable—they know that the product will be short. It's very selective. It's not online. You can only buy it in a store," kata Nick Hayek, CEO Swatch Group kepada GQ.
Antrean pembeli di depan toko Swatch Times Square, New York, bahkan sudah mulai terbentuk sejak Minggu, enam hari sebelum peluncuran resmi hari Sabtu. Beberapa orang di dalam antrean memanfaatkan situasi tersebut untuk memperjualbelikan posisi antrean mereka dengan harga ratusan dolar AS.
"If you catch me now, it's 250," ujar Sin, seorang pengantre berusia 21 tahun yang memegang dua tempat di antrean.
Sin menambahkan bahwa ia bersedia melepas posisinya, namun harga tersebut bisa berubah sewaktu-waktu tergantung pergeseran posisinya mendekati pintu toko.
"If I move up, it may not be 250," kata Sin, Sin.
Ketika ditanya mengenai rencana untuk mengambil lebih banyak posisi di dalam antrean, Sin justru melemparkan pertanyaan kembali kepada pelapor.
"Y'all offering me spots?" tanya Sin, Sin.
Ia juga mengaku bahwa awalnya berniat membeli arloji untuk diri sendiri, namun mengubah niatnya menjadi murni berbisnis posisi antrean setelah mengetahui bentuk asli produk tersebut.
"Originally, I came here for the watch," tutur Sin, Sin.
Sin terkejut saat mendapati fakta bahwa jam kolaborasi tersebut bukanlah jam tangan konvensional melainkan jam saku.
"I come to find out it was a pocket watch. Now I'm out here just selling spots," kata Sin, Sin.
Pengantre lain, Delorenzo, mengaku tidak mempermasalahkan bentuk jam saku tersebut dan memperkirakan harga jual kembalinya bisa mencapai ribuan dolar AS.
"At the most, the max, $1500," kata Delorenzo, pengantre berusia 26 tahun.
Meski mematok harga maksimal, Delorenzo mengaku bisa saja menjualnya lebih murah jika sedang ingin berbagi keuntungan.
"But right now I'm feeling generous, so maybe I'll set it for $1000," ujar Delorenzo, Delorenzo.
Menurutnya, daya tarik merek mewah Audemars Piguet tetap menjadi magnet utama bagi komunitas di lingkungannya tanpa memedulikan jenis jamnya.
"I ain't going to lie. It's going crazy," tutur Delorenzo, Delorenzo.
Ia menegaskan bahwa nama besar jenama yang tersemat pada produk tersebut sudah cukup untuk dijadikan alat unjuk gaya.
"The whole hood want it. If it say AP on it, they're going to flex regardless," kata Delorenzo, Delorenzo.
Delorenzo bahkan berpikir untuk memberikan jam tersebut sebagai hadiah romantis kepada seorang wanita untuk menyenangkan hatinya.
"I might give it to a girl, make her day," kata Delorenzo, Delorenzo.
Seorang pengantre bernama Alex mengonfirmasi bahwa banyak konsumen perempuan yang tertarik menggunakan jam saku ini sebagai aksesori tas mewah.
"I think a lot of the girls are excited to put it on Birkins and stuff like that," kata Alex, pengantre berusia 23.
Ia membandingkan popularitas fungsi aksesori tersebut dengan boneka Labubu yang sedang tren, namun dengan nilai ekonomi yang jauh lebih tinggi.
"Like Labubu, but more expensive," ujar Alex, Alex.
Di sela-sela aktivitas menunggu, para spekulan dan pedagang kaki lima lainnya di koridor jalan tersebut turut menjajakan berbagai barang dagangan alternatif.
"I sell Pokémon. I sell weed. I sell watches. I sell clothes," kata Terrent, seorang penjual berusia 30 tahun di sekitar lokasi.
Ia menawarkan sebuah kotak kemasan dengan logo bergaya gotik khas yang ternyata berisi produk imitasi sabuk pelangi dan kantong berisi ganja.
"It’s a new drop that they came out with," ujar Terrent, Terrent.
Untuk bertahan selama berhari-hari di trotoar jalan, para pengantre membawa perbekalan masing-suku seperti camilan, minuman energi, hingga pakaian ganti.
"I just feel like it was God's plan for me to be here," kata Krista, seorang pengantre berusia 31 tahun yang merasa kehadiran di antrean tersebut sudah menjadi takdirnya.
Koleksi Royal Pop ini menuai reaksi beragam dari staf internal Gear Patrol dan Digital Photography Review, mulai dari yang menganggapnya sebagai lelucon hingga inovasi yang berani. Richard Butler dari Digital Photography Review menilai skema warna cerah bodi segi delapan ini tidak mengangkat citra historis dari lini Royal Oak asli.
"The gummy-candy color scheme means these look like octagonal Pop Swatches, rather than a meaningful engagement with the Royal Oak lineage," kata Richard Butler, Managing Editor of Reviews and Standards Digital Photography Review.
Butler berpendapat bahwa jam tangan Audemars Piguet membutuhkan selera yang tersegmentasi dan model ini tidak terlalu membantu reputasi merek tersebut.
"APs are an acquired taste at the best of times and a Day-Glo pastiche line doesn’t exactly burnish the Royal Oak image," ujar Richard Butler, Richard Butler.
Sementara itu, Caitlyn Shaw melihat bentuk produk ini menyerupai hiasan lubang sandal karet, namun menganggapnya tetap menarik untuk anak-anak.
"I see a Croc Jibbet pendant and I can’t unsee it. That said, as a parent, this could be fun to have for my kiddo," kata Caitlyn Shaw, Director of Growth Strategy and Development Gear Patrol.
Kritik lain datang dari Richard Laws yang menganggap fungsionalitas jam tangan saku sudah usang dan tergeser oleh kepraktisan arloji pergelangan tangan.
"Grandpacore hits hard with Gen Z and the return of the pocket watch," pungkas Richard Laws, Software Engineer Digital Photography Review.