Melempar jumrah menjadi salah satu rangkaian penting dalam ibadah haji yang dilaksanakan di Mina, seperti dilansir dari Cahaya. Ritual ini dilakukan dengan melontarkan batu kerikil ke tiga titik tertentu.
Ketiga lokasi tersebut adalah jumrah ula, wustho, dan aqabah. Setiap jemaah melakukan prosesi melontar ini sembari melafalkan takbir serta doa khusus.
Secara esensi, melempar jumrah bukan sekadar gerakan fisik melempar batu. Kegiatan ini menjadi simbol keteguhan iman seorang muslim dalam melawan bisikan setan dan hawa nafsu.
Dalam bahasa Arab, jumrah diartikan sebagai batu kerikil kecil, dengan bentuk jamak jamarat. Secara istilah, aktivitas ini berarti melempar ke sasaran tempat jumrah atau marma menggunakan kerikil yang diambil saat mabit.
Hukum melaksanakan melempar Jumrah Aqabah dan melontar pada hari-hari tasyriq adalah wajib. Apabila rangkaian ini tidak dikerjakan, maka jemaah wajib membayar dam.
Terdapat tiga jenis jumroh yang dilempar oleh jemaah, yaitu jumroh ula, jumroh wustho, dan jumroh aqabah. Masing-masing titik dilakukan dengan melempar tujuh batu kerikil pada waktu yang telah ditetapkan.
Kerikil yang dilontarkan harus mengenai marma atau dinding jumrah dan masuk ke dalam lubang yang tersedia. Bila batu meleset atau terpental ke luar, jemaah wajib mengulangi lemparan tersebut.
Bacaan Takbir dan Doa
Sahabat Nabi Muhammad SAW, Abdullah bin Umar radhiyallahu โanhu, memberikan teladan untuk melafalkan takbir setiap kali melempar satu batu kerikil. Riwayat ini dinukil dari kitab Ad-Duโa karya Imam ath-Thabrani.
ุงูููู ุฃูููุจูุฑู
Artinya: โAllah Mahabesar.โ
Takbir tersebut dibaca pada setiap lemparan jumroh sebagai bentuk pengagungan kepada Allah SWT. Setelah membaca takbir, Abdullah bin Umar melanjutkan dengan membaca doa.
ุงููููููู ูู ุงุฌูุนููููู ุญูุฌููุง ู ูุจูุฑููุฑูุง ููุฐูููุจูุง ู ูุบููููุฑูุง
Artinya: โYa Allah, jadikanlah ini sebagai haji yang mabrur dan dosa yang diampuni.โ (HR Thabrani)
Riwayat yang sama juga tercantum dalam kitab Sunan al-Kubra karya al-Baihaqi serta Al-Musannaf karya Ibnu Abi Syaibah. Kisah ini juga disampaikan dari Ibrahim an-Nakhaโi.
Mughirah pernah bertanya kepada Ibrahim an-Nakhaโi mengenai doa yang dibaca ketika melempar jumroh. Ibrahim kemudian menjawab agar membaca doa yang sama seperti yang diajarkan Abdullah bin Umar.
Nilai Spiritual bagi Jemaah
Doa saat melempar jumroh memang singkat, namun memiliki makna yang mendalam bagi jemaah haji. Setiap lemparan batu menjadi simbol perjuangan melawan godaan setan, dosa, dan kelalaian.
Oleh karena itu, ritual jumroh tidak hanya dimaknai sebagai rangkaian ibadah fisik semata. Prosesi ini menjadi momentum spiritual untuk memohon ampunan dan berharap memperoleh haji yang mabrur di sisi Allah SWT.