Kebijakan bekerja dari rumah atau work from home (WFH) setiap hari Jumat bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) yang berlaku sejak April 2026 menghadirkan tantangan besar bagi ibu bekerja. Dilansir dari Lifestyle, fenomena hilangnya sekat antara urusan kantor dan domestik di rumah sering kali memicu kelelahan fisik maupun mental.
Psikolog Klinis dari Indopsycare, Clement Eko Prasetio, M.Psi., Psikolog, menjelaskan bahwa menetapkan boundary setting atau pengaturan batasan yang konkret dan realistis merupakan kunci utama. Hal ini sangat penting dilakukan agar kesehatan mental para ibu tetap terjaga selama menjalani rutinitas WFH di akhir pekan tersebut.
Langkah awal yang krusial adalah mengatur batasan ruang secara fisik untuk menciptakan pemisahan antara ranah pribadi dan profesional. Idealnya, setiap pekerja memiliki area khusus yang tidak bercampur dengan aktivitas rumah tangga lainnya.
"Kalau kita enggak punya ruang kerja, misalnya, kita bisa memilih lokasi khusus. Di sudut kiri ruangan kita misalnya itu ada meja, maka di meja itulah kita harus melakukan pekerjaan kita," kata Clement.
Penggunaan sudut tertentu atau benda spesifik dapat membantu otak mengenali area tersebut murni untuk bekerja. Clement menyarankan agar area kerja tidak digunakan untuk kegiatan hiburan guna menjaga asosiasi fokus tetap terjaga.
Selain ruang, kedisiplinan waktu menjadi tantangan berikutnya karena munculnya budaya always-on yang membuat pekerja merasa harus siaga setiap saat. Ibu bekerja diharapkan berani membatasi jam operasional secara tegas, misalnya mulai pukul 09.00 hingga 17.00 WIB.
"Kalau kita terus-menerus membalas chat atau membalas telepon di luar jam yang telah kita tentukan untuk bekerja, maka itu akan memberikan tanda buat orang lain bahwa di luar jam segini boleh aja diganggu," ujar Clement.
Delegasi Tugas dan Pentingnya Masa Transisi
Beban ganda sebagai pegawai dan ibu rumah tangga sering kali menyebabkan kelelahan ekstrem jika ditanggung sendirian. Pekerjaan domestik dinilai memiliki tingkat tekanan yang setara dengan laporan kantor, sehingga memerlukan kerja sama antar anggota keluarga.
"Menurutku tugas-tugas domestik itu, seolah-olah rumah itu kan, buat ibu yang bekerja, 'Jadinya saya bekerja juga (sebagai pegawai), dan di sisi lain juga saya bekerja juga sebagai ibu'. Kebayang enggak sih jadi double-double?" tutur Clement.
Keterlibatan suami dan anak-anak dalam membereskan rumah sangat membantu meringankan beban ibu setelah jam kantor usai. Clement menyarankan para ibu untuk mendorong anak-anak mandiri dalam hal sederhana seperti mencuci piring atau merapikan mainan mereka sendiri.
"Kita bagilah tugas-tugas di rumah ini dengan anak-anak kita atau dengan suami kita. Para ibu bisa meng-encourage anak-anak untuk membereskan mainannya sendiri atau mencuci piringnya sendiri," saran Clement.
Terakhir, pemberian jeda transisi sebelum beralih ke tugas domestik sangat dianjurkan untuk menggantikan waktu perjalanan pulang kantor. Meluangkan waktu sekitar 30 menit untuk relaksasi, seperti peregangan atau sekadar melihat matahari terbenam, dapat memutus ketegangan kerja.
"Paling tidak relaksasi dulu, ada transisi, baru kita ngerjain tugas domestik kita," kata Clement.