Trend Micro Kenalkan TrendAI Antisipasi Lonjakan Serangan Siber AI

Trend Micro Kenalkan TrendAI Antisipasi Lonjakan Serangan Siber AI

Perusahaan keamanan siber Trend Micro Indonesia resmi memperkenalkan identitas baru bernama TrendAI untuk segmen bisnis enterprise. Langkah ini diambil guna merespons perubahan besar di dunia keamanan siber global akibat masifnya penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam aktivitas digital.

Teknologi AI kini tidak lagi sebatas menjawab pertanyaan, membuat gambar, video, atau merangkum dokumen. Seperti dikutip dari Tekno, teknologi tersebut kini mulai dimanfaatkan untuk mengotomatisasi serangan siber, mulai dari mencari celah keamanan hingga melancarkan ransomware dalam waktu singkat.

Country Manager TrendAI Indonesia, Fetra Syahbana, menjelaskan bahwa ransomware yang sebelumnya membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk menyerang target kini bergerak jauh lebih cepat berkat bantuan AI.

"Kalau sebelum zaman AI, ransomware attack itu butuh 8 bulan paling cepat untuk menyerang korban. Setelah AI, ransomware bisa terjadi dalam hitungan paling cepat 15 menit," ujar Fetra dalam wawancara eksklusif bersama KompasTekno di kantor TrendAI Indonesia di The Plaza, Menteng, Jakarta Pusat.

Fetra menambahkan bahwa percepatan ini mengubah lanskap keamanan siber secara drastis. Proses eksploitasi yang sebelumnya dilakukan manusia secara manual, sekarang dapat berjalan otomatis dan dalam skala besar melalui AI.

Kemampuan AI di industri keamanan siber kini berkembang jauh lebih agresif dibanding beberapa tahun lalu yang hanya membantu fase pengintaian atau pembuatan tools otomatis. AI saat ini mampu mengambil alih hampir seluruh siklus serangan siber secara otomatis dari tahap pencarian target hingga eksploitasi.

Kondisi ini membuat ancaman siber menjadi lebih sulit diprediksi karena AI dapat mensimulasikan serangan, mengombinasikan beberapa vulnerability, dan mencari pola eksploitasi baru. AI juga mampu mendeteksi celah keamanan lama yang selama ini luput dari pengawasan manusia, seperti vulnerability Linux bernama Copy Fail.

"AI kini bisa mengombinasikan berbagai celah keamanan yang terlihat aman menjadi satu serangan siber berbahaya yang sebelumnya tidak terdeteksi," kata Fetra.

Tingginya Adopsi AI di Indonesia

Perkembangan serangan siber berbasis AI ini menjadi perhatian serius seiring tingginya tingkat adopsi AI di Indonesia. Data internal TrendAI menunjukkan bahwa Indonesia menempati posisi kedua setelah Singapura dalam hal traffic layanan AI di Asia Tenggara.

Selain peningkatan penggunaan, Indonesia juga aktif mengembangkan AI lokal yang membutuhkan pengamanan siber ketat. Akselerasi adopsi AI di dalam negeri turut didorong oleh ekspansi infrastruktur cloud dan GPU dari perusahaan global seperti Amazon Web Services (AWS) dan Nvidia.

Fetra menilai situasi ini seperti pedang dua sisi karena AI mempermudah aktivitas sehari-hari sekaligus membawa risiko baru. Perusahaan dituntut tidak hanya memanfaatkan AI untuk produktivitas, tetapi juga memastikan penggunaannya tetap aman dan terkontrol dengan pendekatan proaktif.

Strategi Pendekatan Proaktif

Menghadapi tantangan tersebut, TrendAI mengembangkan platform Vision One dan model AI internal bernama Cybertron. Cybertron dirancang menggunakan basis pengetahuan keamanan siber Trend Micro selama lebih dari 35 tahun untuk mendeteksi ancaman secara cepat.

Salah satu teknologi yang diimplementasikan adalah Digital Twin yang berfungsi membuat replika virtual lingkungan digital perusahaan untuk diuji oleh AI selama 24 jam nonstop. Melalui simulasi ini, sistem dapat memprediksi ancaman, menghitung risiko, dan memberikan rekomendasi mitigasi sebelum serangan terjadi.

"TrendAI Vision One menghasilkan pendekatan ‘AI melawan AI’, di mana AI yang kami kembangkan dipakai untuk memprediksi berbagai serangan siber yang juga digerakkan oleh AI," tutur Fetra.

Layanan tersebut diklaim membantu perusahaan memetakan perangkat, aplikasi, serta aktivitas digital yang berpotensi menjadi celah keamanan. Langkah ini dinilai penting karena pengujian keamanan berkala tidak lagi cukup menghadapi AI yang mencari celah otomatis setiap hari.

"Pada akhirnya, AI bukan lagi sekadar teknologi tambahan, melainkan fondasi baru yang akan menjadi bagian dari berbagai sistem digital di masa depan," pungkas Fetra.

Artikel terkait

Rekomendasi