Di tengah tren pernikahan modern yang serba estetik, uang kuno kini ikut mendapat tempat sebagai bagian dari mahar dan hantaran. Lembaran rupiah lawas yang dulu dianggap tak lagi bernilai, justru kembali diburu karena tampilannya yang unik dan dianggap memiliki makna historis.
Fenomena itu terlihat di kawasan Pasar Baru, Jakarta Pusat, yang dikenal sebagai salah satu sentra penjual uang kuno. Di lantai 3 Gedung Harco Pasar Baru, kios-kios kecil dipenuhi lembaran rupiah lama yang tersusun rapi dalam plastik pelindung, mulai dari pecahan kecil hingga nominal besar. Di salah satu kios, Nana (45) tampak menata uang kertas Indonesia ke dalam album bertuliskan “Money Collection”.
Dinding kiosnya dipenuhi uang kuno berbagai emisi yang sudah lama tidak beredar, sebagian tampak masih mulus seolah baru dicetak. Nana mengatakan, tren penggunaan uang kuno untuk pernikahan semakin sering ditemui beberapa tahun terakhir.
"Banyak yang buat pajangan atau bikin mahar pernikahan," kata Nana, Pedagang Uang Kuno.
Menurut Nana, banyak calon pengantin memilih uang kuno karena ingin memberikan sesuatu yang berbeda dari mahar pada umumnya. Uang kuno dianggap unik, memiliki nilai estetika, dan cocok dijadikan pajangan dalam bingkai.
"Orang sekarang pengennya yang unik dan beda dari yang lain. Apalagi nikah kan biasanya sekali seumur hidup," ujar Nana, Pedagang Uang Kuno.
Di dunia pernikahan, mahar biasanya identik dengan uang tunai, emas, atau seperangkat alat ibadah. Namun belakangan, uang kuno mulai dipilih karena dianggap memiliki unsur simbolik dan nilai sejarah. Pembeli biasanya meminta uang kuno dalam bentuk satu set tertentu, misalnya pecahan seribu rupiah dalam berbagai emisi. Ada juga yang mencari uang dengan desain unik atau bergambar tokoh tertentu untuk dijadikan pusat perhatian dalam bingkai mahar.
"Kalau yang ini mini set. Satu set lengkap pecahan Rp 1.000 dijualnya sekitar Rp 1,5 Juta," kata Nana, Pedagang Uang Kuno.
Menurut dia, mahar berbentuk uang kuno lebih menonjol dari segi visual karena desain uang lama cenderung lebih beragam. Warna dan gambar pada rupiah lawas dianggap memberi kesan klasik sekaligus elegan saat dipajang dalam kotak mahar. Tak sedikit pembeli yang datang bukan karena paham numismatik, tetapi karena tertarik dengan tampilan uang kuno yang dianggap “vintage”.
"Kadang mereka enggak terlalu ngerti detail uangnya, tapi suka lihat bentuk dan desainnya. Buat koleksi pribadi. Buat koleksi-koleksi sendiri," ujar Nana, Pedagang Uang Kuno.
Variasi Harga dan Kelangkaan
Harga satuan uang kuno yang dipakai untuk mahar bervariasi, bergantung pada kondisi fisik dan kelangkaannya. Semakin mulus dan semakin sulit ditemukan, harga biasanya meningkat. Nana mengatakan, uang kuno yang masih tergolong “baru” dalam dunia koleksi masih bisa didapat dengan harga murah, mulai dari Rp 5.000.
"Tapi kalau yang ini masih relatif murah, ada yang murah mulai dari sekitar Rp 5.000. Soalnya ini masih baru, tahun 1992," kata Nana, Pedagang Uang Kuno.
Namun untuk uang yang lebih tua, terutama keluaran 1950-an atau 1930-an, harga bisa jauh lebih mahal. Ia menyebut, uang tahun 1938 termasuk yang paling dicari karena langka.
"Sebenarnya ada yang lebih lama lagi, cuma sekarang lagi kosong. Ada tahun 1938 juga, tapi pecahannya besar dan barangnya langka," kata Nana, Pedagang Uang Kuno.
Selain itu, beberapa uang tertentu memiliki versi berbeda yang membuat nilainya lebih tinggi. Contohnya, uang bergambar Presiden Soeharto yang pernah dicetak dalam dua jenis bahan.
"Kalau yang bahannya plastik seperti ini bisa sampai Rp 100.000. Kalau yang kertasnya lebih murah Rp 60.000. Ada dua versi, plastik sama kertas," ujar Nana, Pedagang Uang Kuno.
Anak Muda dalam Ekosistem Numismatik
Nana menilai pembeli uang kuno kini semakin beragam. Jika dulu pasar uang kuno identik dengan kolektor senior, kini anak muda juga mulai rutin datang.
"Anak muda sering beli juga," kata Nana, Pedagang Uang Kuno.
Menurut dia, anak muda umumnya membeli uang kuno untuk kebutuhan pajangan, hadiah, atau pelengkap konsep pernikahan yang dibuat unik. Sebagian bahkan membeli hanya untuk disimpan sebagai kenang-kenangan, meski tidak memahami sejarah uang tersebut. Fenomena ini membuat perputaran transaksi uang kuno di Pasar Baru tetap hidup.
"Banyak yang beli buat dijual lagi. Ada aja. Soalnya kalau kaya gini marginnya komunitas," kata Nana, Pedagang Uang Kuno.
Ia menyebut pembeli biasanya datang dari komunitas tertentu yang memang menyukai barang-barang berbau sejarah. Meski terlihat sederhana, bisnis uang kuno memiliki ekosistem tersendiri dari kolektor hingga pedagang lain.
"Iya, kadang dari kolektor, kadang sesama pedagang. Sekarang banyak juga sistem online kalau sudah saling percaya. Apalagi sudah kenal ya," kata Nana, Pedagang Uang Kuno.
Ia menegaskan, usaha uang kuno sangat mengandalkan kepercayaan, terutama dalam transaksi antarpenjual. Menurut Nana, risiko penipuan juga ada, terutama ketika transaksi dilakukan jarak jauh.
"Pernah. Kadang orang minta barang dikirim dulu karena sudah sering belanja, tapi habis itu hilang dan belum bayar. Itu risiko usaha," kata Nana, Pedagang Uang Kuno.
Nilai Ekonomi dan Kelangkaan
Pengamat ekonomi sekaligus Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef) M Rizal Taufikurahman mengatakan, uang kuno memang tidak lagi memiliki fungsi ekonomi sebagai alat tukar yang sah, tetapi tetap memiliki nilai karena faktor kelangkaan, sejarah, dan daya tarik koleksi.
"Secara ekonomi, uang kuno memang sudah tidak memiliki fungsi sebagai alat pembayaran yang sah, tetapi tetap memiliki nilai ekonomi karena unsur kelangkaan, sejarah, dan collectible value," kata M Rizal Taufikurahman, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef.
Menurut Rizal, harga uang kuno di pasar bukan lagi ditentukan oleh angka nominalnya, melainkan oleh kelangkaan dan nilai historis yang melekat. Ia mencontohkan, pada sejumlah platform lelang internasional, uang kuno tertentu dapat dihargai sangat tinggi.
"Bahkan di beberapa platform lelang internasional, uang kuno tertentu bisa dihargai puluhan hingga ratusan juta rupiah karena jumlahnya sangat terbatas dan permintaan kolektor tinggi," kata M Rizal Taufikurahman, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef.
Perbedaan harga uang kuno bisa sangat mencolok. Ada uang lawas yang hanya dihargai puluhan ribu rupiah, tetapi ada pula yang melonjak hingga puluhan juta rupiah. Hal itu dipengaruhi banyak faktor, mulai dari tingkat kelangkaan, kondisi fisik, hingga tahun emisi.
"Perbedaan harga uang kuno sangat ditentukan oleh faktor rarity, kondisi fisik (grade), tahun emisi, jumlah cetakan, hingga nilai historisnya," kata M Rizal Taufikurahman, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef.
Uang yang masih dalam kondisi sangat baik atau belum pernah beredar (uncirculated), termasuk uang yang mengalami kesalahan cetak (error note), umumnya dihargai lebih tinggi. Dalam logika ekonomi koleksi, mekanisme permintaan dan penawaran tetap berlaku.
"Semakin terbatas suplai sementara permintaan kolektor meningkat, maka valuasinya bisa melonjak sangat tinggi meskipun nilai nominal aslinya kecil," kata M Rizal Taufikurahman, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef.
Ruang Sosial dan Identitas
Sementara itu, Sosiolog Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Rakhmat Hidayat memandang fenomena pasar numismatik bukan hanya soal jual-beli, tetapi juga ruang sosial yang membentuk jaringan komunitas.
"Pasar numismatik ini dapat dilihat bukan hanya sebagai ruang transaksi ekonomi, tetapi juga sebagai ruang sosial yang membentuk jaringan komunitas, identitas, dan solidaritas antarindividu," kata Rakhmat Hidayat, Sosiolog UNJ.
Menurutnya, para pedagang dan kolektor uang kuno membangun hubungan sosial melalui interaksi rutin dan pertukaran pengetahuan. Ia menilai, pasar numismatik menjadi arena sosial tempat seseorang memperoleh pengakuan status tertentu.
"Pasar numismatik menjadi arena di mana seseorang memperoleh identitas sosial sebagai kolektor, ahli, atau pemburu sejarah," kata Rakhmat Hidayat, Sosiolog UNJ.
Dalam perspektif sosiologi, Rakhmat menekankan bahwa nilai suatu benda tidak hanya ditentukan fungsi praktisnya, tetapi juga makna sosial yang dilekatkan masyarakat. Uang kuno kini bergeser dari alat tukar menjadi simbol prestise.
"Pergeseran nilai uang kuno dari alat tukar menjadi simbol sejarah, nostalgia, memori, dan prestis sosial dapat dijelaskan melalui konsep konstruksi sosial atas nilai," kata Rakhmat Hidayat, Sosiolog UNJ.
Masyarakat kini memandang uang lama sebagai artefak budaya yang merepresentasikan masa tertentu. Rakhmat juga menyoroti meningkatnya minat generasi muda terhadap uang kuno sebagai perubahan pola konsumsi budaya.
"Generasi muda tidak hanya mencari barang berdasarkan fungsi, tetapi juga berdasarkan makna, estetika, dan nilai simboliknya," kata Rakhmat Hidayat, Sosiolog UNJ.
Ia menilai koleksi uang kuno kini dipandang sebagai cara anak muda membangun identitas unik. Fenomena uang kuno sebagai mahar pernikahan juga disebut Rakhmat sebagai bentuk simbolisasi nilai dalam budaya masyarakat.
"Uang kuno dianggap memiliki makna keabadian, perjuangan, dan penghargaan terhadap masa lalu sehingga memberi kesan lebih eksklusif, estetik, dan personal dalam ritual pernikahan," kata Rakhmat Hidayat, Sosiolog UNJ.
Simbolisme dalam Ritual Pernikahan
Seorang kolektor uang kuno di Jakarta Pusat, Robert (52), mengatakan tren penggunaan uang kuno untuk mahar pernikahan mulai terlihat dalam beberapa tahun terakhir, terutama di kalangan pasangan muda yang ingin tampil berbeda.
"Biasanya mereka cari uang yang punya makna simbolik. Misalnya pecahan Rp 5.000 tahun tertentu yang sesuai tanggal lahir, atau angka seri yang unik seperti berurutan," kata Robert, Kolektor Uang Kuno.
Menurut dia, uang kuno dianggap lebih personal dibandingkan mahar berupa uang baru yang hanya disusun dalam bingkai. Nilai historis dan cerita di balik lembaran uang itu justru menjadi daya tarik utama.
"Kalau uang baru kan gampang, tinggal ambil dari bank. Tapi kalau uang lama, ada proses mencarinya. Itu yang bikin terasa lebih istimewa," kata Robert, Kolektor Uang Kuno.
Robert menyebut beberapa calon pengantin bahkan meminta uang dengan tahun emisi tertentu yang dianggap simbolis. Ia menilai fenomena ini turut menggerakkan pasar numismatik karena permintaan yang melonjak menjelang musim pernikahan.
"Kalau dipakai untuk mahar, biasanya mereka cari kondisi yang masih bagus, tidak terlalu lusuh. Karena nanti akan dipigura dan jadi pajangan seumur hidup," kata Robert, Kolektor Uang Kuno.
Nostalgia dan Kepuasan Personal
Psikolog Talissa Carmelia menilai menyebut tren menjadikan uang kuno sebagai mahar atau hantaran pernikahan muncul karena masyarakat ingin sesuatu yang unik dan berbeda.
"Ada keinginan menampilkan sesuatu yang tidak biasa. Karena pernikahan dianggap momen sekali seumur hidup, maka orang mencari simbol yang berkesan," kata Talissa Carmelia, Psikolog.
Menurut Talissa ketertarikan pada barang bersejarah seperti uang kuno sering kali berangkat dari dorongan nostalgia yang bersifat emosional. Uang lama menjadi simbol yang mewakili era tertentu.
"Historical nostalgia membuat seseorang merasakan ketertarikan emosional yang mendalam terhadap masa lalu. Uang lama menjadi simbol yang mewakili era tersebut," kata Talissa Carmelia, Psikolog.
Dorongan mengoleksi uang kuno juga muncul dari kepuasan personal ketika seseorang berhasil menemukan barang langka yang diincar. Proses berburu itu memberi sensasi tersendiri bagi pelakunya.
"Proses mencari barang kuno bisa menjadi pengalaman yang memuaskan dan bermakna. Ada rasa bangga ketika berhasil mendapatkannya," kata Talissa Carmelia, Psikolog.
Bukan hanya itu, uang lama kini juga mulai memiliki fungsi sosial baru. Dorongan itu pula yang membuat uang kuno tetap diburu, meski dunia perlahan bergerak menuju era transaksi digital di kawasan Pasar Baru, Jakarta Pusat.