Umat Muslim Sunnah Hidupkan Amalan Ini Jelang Iduladha

Umat Muslim Sunnah Hidupkan Amalan Ini Jelang Iduladha

Hari Raya Iduladha merupakan manifestasi ketakwaan umat Islam yang merujuk pada kisah pengorbanan Nabi Ibrahim as dan Nabi Ismail as. Momen ini tidak sekadar menjadi ritual penyembelihan hewan kurban.

Seperti dilansir dari Medcom, terdapat deretan amalan sunnah yang diajarkan oleh Nabi Muhammad saw untuk menambah pahala. Rangkaian ibadah ini sekaligus mempererat kecintaan umat kepada Allah Swt.

Masyarakat yang belum berkesempatan berkurban tetap bisa meraih keistimewaan hari raya dengan menjalankan adab tertentu. Amalan tersebut dimulai sejak memasuki bulan Zulhijah hingga hari raya.

Menghidupkan malam Iduladha dengan takbir sangat dianjurkan oleh Rasulullah saw. Waktu mengumandangkan takbir dimulai sejak terbenam matahari pada 9 Zulhijah hingga akhir Hari Tasyrik, tepatnya 13 Zulhijah waktu Asar.

Umat Islam juga disunnahkan melakukan mandi besar sebelum berangkat ke tempat pelaksanaan salat Id. Tujuannya adalah agar tubuh dalam keadaan suci dan segar saat menghadap Sang Pencipta.

Langkah ini dikerjakan oleh sahabat Ibnu Umar radliallahu ‘anhuma sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Malik. Pemilihan pakaian terbaik yang dimiliki juga menjadi bentuk penghormatan terhadap hari raya.

Bagi kaum laki-laki, penggunaan wewangian atau parfum yang tidak menyengat sangat dianjurkan. Hal ini bertujuan agar suasana ibadah di sekitar jamaah menjadi lebih nyaman.

Berbeda dengan Idulfitri, umat Islam disunnahkan untuk menunda makan sebelum menunaikan salat Iduladha. Konsumsi makanan baru dilakukan setelah pulang dari tempat salat, terutama dengan daging kurban jika memungkinkan.

Adab Perjalanan dan Interaksi Sosial

Umat Islam dianjurkan datang lebih awal ke tempat salat dengan tenang. Waktu menunggu imam dapat dimanfaatkan untuk terus berzikir dan melantunkan takbir di lokasi pelaksanaan salat.

Rasulullah saw biasa berangkat dan pulang dari tempat salat dengan berjalan kaki jika jarak rumah memungkinkan, sesuai dengan HR Ibnu Majah. Jamaah disarankan melewati rute berangkat dan rute pulang yang berbeda.

Perbedaan rute perjalanan memiliki hikmah untuk memperluas silaturahmi dengan warga sekitar. Langkah ini juga membuka peluang untuk melihat kondisi lingkungan yang mungkin membutuhkan pertolongan.

Kaum wanita, termasuk yang sedang berhalangan salat, serta anak-anak diwajibkan oleh Rasulullah saw untuk ikut ke lapangan. Kehadiran mereka bertujuan mendengarkan khotbah dan merasakan keberkahan hari raya.

Momen pascasalat dapat digunakan untuk berkunjung ke rumah kerabat, tetangga, dan sahabat. Aktivitas saling mendoakan dan menunjukkan wajah ceria menjadi bentuk syukur atas segala nikmat Allah Swt.

Artikel terkait

Rekomendasi