Unitree Robotics, perusahaan teknologi asal China, resmi memperkenalkan GD01, robot mecha berawak setinggi 2,7 meter yang diklaim sebagai mesin tempur terkendali manusia pertama di dunia yang siap diproduksi massal. Kehadiran robot ini mengubah khayalan fiksi ilmiah menjadi kenyataan melalui demonstrasi pengoperasian langsung oleh pimpinan perusahaan.
Dilansir dari Detik iNET, CEO Unitree Robotics, Wang Xingxing, memimpin demonstrasi tersebut dengan memasuki kabin GD01. Dalam aksinya, ia mengendalikan lengan mekanis untuk menghancurkan dinding serta menunjukkan kemampuan robot bertransformasi dari berjalan dua kaki menjadi merangkak dengan empat kaki.
Unitree mematok harga awal untuk mecha berbobot 500 kilogram ini mulai dari 3,9 juta yuan atau sekitar Rp 10 miliar. Reaksi publik di berbagai platform media sosial, mulai dari Weibo hingga YouTube, menunjukkan antusiasme besar dengan menyamakan pencapaian ini dengan kemunculan teknologi dalam film fiksi populer.
"Rasanya seperti menonton Transformers di kehidupan nyata," tulis seorang pengguna Weibo.
Respons positif juga datang dari warganet global yang menganggap perkembangan teknologi ini sebagai tonggak sejarah baru dalam industri robotika dunia.
"Wow! Kita akhirnya memiliki Gundam sungguhan sekarang!" komentar netizen lain.
Lukas Ziegler, pengamat robotika asal Eropa, menyoroti dominasi industri China yang berhasil menguasai hampir 90 persen penjualan robot humanoid global pada tahun 2025. Ia mencatat bahwa Unitree sendiri telah mendistribusikan lebih dari 5.500 unit robot humanoid sepanjang tahun lalu.
"Di sinilah saya, menyaksikan kedatangan era mecha," tulis seorang netizen di YouTube.
Ziegler menambahkan bahwa meskipun negara-negara Barat juga mengembangkan teknologi serupa, kecepatan produksi dan efisiensi biaya yang ditawarkan China saat ini sulit ditandingi oleh pihak mana pun.
"Baju zirah seperti di film Avatar kini menjadi nyata," sebut yang lain.
Selain itu, publik juga memuji iklim inovasi di negara tersebut yang dinilai sangat mendukung para praktisi teknologi untuk bereksperimen.
"China benar-benar surga bagi para insinyur," demikian bunyi sebuah komentar.
"Perusahaan China menyumbang hampir 90% penjualan robot humanoid global di 2025. Unitree sendiri mengirim lebih dari 5.500 robot humanoid tahun lalu. Negara Barat memang tengah membangun robot humanoid luar biasa. Namun China membangunnya lebih cepat, lebih murah, dan pada skala yang tak bisa ditandingi siapa pun," tulis Lukas Ziegler, evangelist robotika terkemuka di Eropa.
Manajemen Unitree menekankan bahwa GD01 dirancang untuk operasional di lingkungan berisiko tinggi atau sebagai kendaraan sipil khusus. Namun, staf pemasaran Unitree Robotics, Huang Jiawei, menyatakan bahwa spesifikasi dan harga akhir produk masih berpotensi berubah.
"Versi produksi akhir mungkin masih akan disesuaikan bergantung pada optimalisasi kinerja," kata Huang Jiawei, staf pemasaran di Unitree Robotics.
Huang menjelaskan bahwa meskipun kapasitas produksi skala besar sudah tersedia, perusahaan masih memerlukan waktu untuk menyempurnakan fungsi dan menekan biaya produksi agar lebih efisien bagi konsumen.
"Skenario penerapan produk-produk Unitree pada dasarnya ditujukan untuk mengubah cara kita bekerja. Sebagai contoh, robot-robot kami dapat digunakan di lingkungan yang berisiko tinggi dan ekstrem," kata Huang kepada Global Times.
Huang juga menegaskan bahwa proyek ini merupakan langkah awal dari pengembangan jangka panjang yang melibatkan potensi penggunaan teknologi lebih luas di masa depan.
"Produk ini masih dalam generasi pertamanya pada tahap ini, dan memang masih ada banyak ruang untuk berimajinasi," tambah Huang.
Analisis dari sektor riset strategi menunjukkan bahwa peluncuran ini menandai keberhasilan China melampaui ambang batas teknis pada sektor kecerdasan buatan berwujud fisik. Wakil Presiden Technology and Strategy Research Institute, Chen Jing, menilai GD01 memiliki peta jalan komersial yang nyata.
"Ini bukan lagi sekadar mesin proof-of-concept yang terbatas di laboratorium, melainkan produk dengan label harga dan peta jalan komersialisasi jelas," kata Chen Jing.
Meskipun memiliki keunggulan komersial, Chen mengingatkan adanya sejumlah hambatan teknis yang harus diselesaikan, mulai dari ketahanan daya hingga aspek regulasi penggunaan mesin raksasa tersebut di ruang publik.
"Namun kelemahannya terutama berkaitan kegunaan di dunia nyata, termasuk kesulitan untuk masuk dan keluar dari mesin, masalah daya tahan baterai, kenyamanan terbatas, ketidakpastian regulasi, dan kompleksitas perawatan," tambah Chen.
Saat ini, Unitree membidik sektor hiburan seperti taman ria dan pembuatan film sebagai pasar potensial awal bagi GD01 sebelum nantinya merambah ke sektor penyelamatan darurat.