Potensi kejahatan siber kini mengintai masyarakat yang ingin melaksanakan ibadah kurban secara daring menjelang Hari Raya Iduladha. Ancaman tersebut meliputi kemunculan penyalur kurban fiktif, penyebaran tautan palsu, hingga aksi pencurian data pribadi.
Kenaikan aktivitas transaksi digital pada momen hari raya menjadi celah bagi para pelaku kejahatan. Fenomena ini memicu peningkatan risiko penipuan digital yang memanfaatkan antusiasme masyarakat.
Perusahaan penyedia identitas digital dan fraud prevention, VIDA, mengingatkan publik untuk memperketat kewaspadaan. Imbauan ini dikeluarkan agar masyarakat lebih cermat ketika memproses transaksi kurban daring, seperti dilansir dari Medcom.
"Iduladha menjadi momen ketika masyarakat berlomba-bomba menebar kebaikan salah satunya melalui kurban dan sedekah. Di saat yang sama, aktivitas transaksi digital juga meningkat. Karena itu, penting untuk lebih cermat memeriksa setiap transaksi dan tidak terburu-buru mengklik tautan yang mencurigakan. Kewaspadaan sederhana dapat menjadi langkah penting untuk melindungi diri dari penipuan digital, khususnya dalam transaksi kurban online," ujar Founder dan Group CEO VIDA, Niki Luhur dalam keterangan tertulis, Sabtu, 23 Mei 2026.
Berdasarkan data Whitepaper VIDA 2026 SEA Digital Identity Fraud Outlook, serangan siber saat ini berjalan lebih terorganisasi dan terus berevolusi. Pelaku penipuan kerap memadukan beberapa teknik sekaligus guna menembus sistem keamanan.
Metode yang umum digunakan meliputi teknologi deepfake, social engineering, hingga pengambilalihan akun atau account takeover. Kondisi tersebut menciptakan titik rawan baru pada aktivitas digital, termasuk dalam proses transaksi kurban.
Guna mengantisipasi kerugian akibat fraud siber, VIDA membagikan tiga langkah taktis untuk melindungi masyarakat:
Pertama, masyarakat wajib memilih lembaga atau platform kurban resmi yang memiliki reputasi baik serta identitas yang jelas. Langkah ini meminimalkan risiko terjebak penyalur fiktif.
Kedua, hindari membuka tautan atau mengunduh dokumen dari sumber yang tidak dikenal. Dokumen mencurigakan tersebut berpotensi membawa malware berbahaya atau memicu pencurian data.
Ketiga, jaga kerahasiaan data pribadi sensitif dan jangan pernah membagikan kode OTP kepada pihak lain. Lembaga penyalur kurban yang valid tidak akan meminta informasi rahasia tersebut.
Ancaman kejahatan ini ternyata tidak hanya mengarah pada konsumen atau pembeli hewan kurban. Pihak penyedia layanan kurban juga menjadi sasaran empuk para pelaku penipuan digital.
Oleh karena itu, para penyedia jasa diwajibkan memeriksa keaslian bukti pembayaran dengan teliti. Pastikan dana transaksi telah masuk ke rekening resmi sebelum memproses pesanan kurban.
"Modus penipuan digital akan terus berevolusi mengikuti kebiasaan masyarakat dalam bertransaksi. Karena itu, sistem keamanan juga perlu berkembang agar mampu mengenali risiko secara lebih menyeluruh, mulai dari identitas pengguna hingga memastikan perangkat dan jaringan yang digunakan benar-benar aman. Melalui ID FraudShield, kami ingin membantu masyarakat bertransaksi digital dengan rasa tenang dan perlindungan yang lebih kuat," ucap Niki.