Di sudut trotoar kawasan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, sebuah warung kopi kecil berdiri seperti ruang jeda di tengah hiruk-pikuk kota. Ukurannya hanya sekitar 3x3 meter. Di dalamnya, hanya ada satu meja kayu panjang, etalase gorengan, serta beberapa bangku plastik yang berhimpitan. Namun, ruang sempit itu tak pernah benar-benar sepi. Satu per satu pelanggan datang silih berganti, satpam, pengemudi ojek online, pegawai kantor, hingga anak muda yang sekadar ingin duduk sebentar melepas penat. Warung kopi itu milik H. Sumarno (55), warga yang sudah bertahun-tahun berjualan di kawasan tersebut. Ia menamai warungnya sederhana, Warkop Pak Marno.
Di tengah menjamurnya kafe estetik di Jakarta, Sumarno mengaku tak merasa tersaingi. Menurutnya, warkop dan kafe memiliki segmentasi berbeda.
"Ada bapak-bapak, ada anak muda juga. Kadang malah anak kuliah atau yang baru pulang kerja" ujar Sumarno, Pemilik Warkop Pak Marno.
Bagi Sumarno, kafe mungkin menawarkan kenyamanan modern dan desain menarik, tetapi warkop menawarkan sesuatu yang lebih sederhana, kebebasan.
"Kafe itu bagus, tapi kan beda suasananya. Kalau di sini lebih bebas, enggak ada aturan-aturan. Mau pakai sandal juga santai" ucap Sumarno, Pemilik Warkop Pak Marno.
Dalam beberapa tahun terakhir, pertumbuhan bisnis kafe di Jakarta semakin masif. Di banyak kawasan strategis, tempat ngopi tak lagi sekadar tempat minum kopi, tetapi juga ruang kerja, ruang konten, hingga ruang gaya hidup. Namun di sisi lain, warkop kaki lima tetap bertahan, terutama di kawasan padat pekerja seperti Kebon Sirih dan Gondangdia. Bagi sebagian orang, warkop bukan pilihan alternatif, melainkan pilihan utama. Di balik fungsi sosialnya, faktor ekonomi tetap menjadi alasan utama warkop bertahan. Sumarno mengungkap, harga menu di warkopnya dibuat agar terjangkau pekerja harian.
"Kopi di sini Rp 5.000. Teh manis Rp 4.000. Gorengan Rp 2.000. Indomie sekitar Rp 10.000. Kalau di kafe kan bisa puluhan ribu" ujar Sumarno, Pemilik Warkop Pak Marno.
Ia menilai banyak pelanggan datang bukan karena membenci kafe, tetapi karena harus realistis dengan penghasilan.
"Banyak yang penghasilannya harian. Ojol, satpam, pekerja lepas. Kalau nongkrong di kafe tiap hari ya nggak kuat" kata Sumarno, Pemilik Warkop Pak Marno.
Sumarno menilai, pelanggan generasi tua datang karena kebiasaan yang sudah terbentuk bertahun-tahun. Sementara anak muda datang karena warkop menawarkan tempat nongkrong murah tanpa tuntutan gaya hidup tertentu.
"Kalau yang tua itu udah langganan. Mereka ngopi sambil ngobrol. Kalau anak-anak muda biasanya santai, ngopi, ngerokok, main HP. Ada juga yang cuma numpang duduk sebentar" ujar Sumarno, Pemilik Warkop Pak Marno.
Warkop kecil itu memiliki atmosfer yang berbeda karena orang duduk berdekatan. Jarak fisik yang sempit justru menciptakan kedekatan sosial. Di tempat seperti Warkop Pak Marno, perbedaan profesi seolah melebur. Dalam ruang 3x3 meter itu, orang-orang dari latar belakang berbeda bisa duduk sejajar, berbagi bangku, dan berbagi obrolan. Ia menyebut suasana semacam ini jarang ditemui di tempat nongkrong modern.
"Kalau di kafe kadang orang sibuk sendiri-sendiri. Di sini beda, orang masih saling sapa. Kadang saling bantu juga" kata Sumarno, Pemilik Warkop Pak Marno.
Fenomena warkop sebagai ruang sosial juga terlihat di kawasan Gondangdia. Yanto (47), pemilik Warkop Gondangdia, mengaku tempatnya tetap ramai meski lingkungan sekitarnya dipenuhi kafe modern.
"Kalau di sini orang datang nggak mikirin outfit, nggak mikirin harus pesan menu mahal. Mau ngopi aja ya ngopi" kata Yanto, Pemilik Warkop Gondangdia.
Warkopnya berukuran sekitar 4x3 meter. Berbeda dari warkop tenda biasa yang identik dengan kursi plastik, Yanto sengaja menggunakan kursi kayu agar pelanggan betah.
"Saya pakai kursi kayu biar orang betah. Kalau kursi plastik kan kadang panas, cepat capek. Kalau kayu lebih kuat, lebih nyaman" ujar Yanto, Pemilik Warkop Gondangdia.
Ia menyebut, warkopnya sering menjadi ruang komunal kecil yang hidup oleh percakapan.
"Sempit sih, tapi saya atur biar orang bisa duduk hadap-hadapan. Jadi ngobrolnya enak. Kadang malah jadi kayak tempat diskusi" kata Yanto, Pemilik Warkop Gondangdia.
Selera Anak Muda yang Bergeser
Di tengah tren kafe estetik yang identik dengan interior instagramable, sebagian anak muda justru mulai merasa jenuh. Mereka tetap pergi ke kafe, tetapi tidak menjadikannya rutinitas harian. Yanto mengamati, anak muda kini datang ke warkop bukan karena tidak mampu, tetapi karena ingin suasana nongkrong yang lebih santai dan tidak dibuat-buat.
"Anak-anak muda sekarang banyak juga yang capek sama yang estetik-estetik. Mereka pengin nongkrong yang biasa aja, tapi tetap enak buat ngobrol" ujar Yanto, Pemilik Warkop Gondangdia.
Biasanya, kata Yanto, warkop mulai ramai sejak sore hingga malam. Pengunjung datang setelah pulang kerja atau kuliah.
"Biasanya jam lima ke atas mulai rame. Ada yang baru pulang kantor, ada juga anak kampus. Mereka duduknya bisa lama, ngobrol, ketawa-ketawa" ucap Yanto, Pemilik Warkop Gondangdia.
Di Kebon Sirih, Mulyadi (43), pemilik Kopi Bang Yadi, juga mengamati pergeseran serupa. Warkopnya yang menempel di sisi trotoar kini semakin sering didatangi anak muda.
"Sekarang anak-anak muda banyak yang mampir. Mereka bilang kalau di kafe kadang terlalu dibuat-buat. Kalau di warkop lebih real" kata Mulyadi, Pemilik Kopi Bang Yadi.
Menurutnya, anak muda yang datang tidak mencari tempat untuk foto-foto. Mereka datang untuk ngobrol lama.
"Kalau anak muda di sini bukan yang mau foto-foto. Mereka biasanya datang rame-rame, duduk sampai malam, ngobrolnya ngalor-ngidul" ujar Mulyadi, Pemilik Kopi Bang Yadi.
Tempat Istirahat Pekerja Jakarta
Bagi pekerja harian, warkop bukan sekadar tempat nongkrong. Ia adalah tempat singgah yang praktis, murah, dan cepat. Itu sebabnya warkop masih menjadi pilihan dominan saat jam istirahat. Arief (27), staf administrasi di perusahaan konsultan di sekitar Menteng-Gondangdia, mengaku masih rutin ke kafe estetik, tetapi hanya saat akhir pekan.
"Kalau kafe itu biasanya Sabtu atau Minggu, karena sekalian ketemu teman. Kalau weekday nggak mungkin tiap hari, mahal juga" ujar Arief, Staf Administrasi.
Saat hari kerja, ia lebih memilih warkop karena tidak menyita waktu. Menurut Arief, kafe dan warkop punya fungsi yang berbeda.
"Kafe itu buat suasana, buat healing kecil-kecilan. Kalau warkop itu buat kebutuhan sehari-hari" ucap Arief, Staf Administrasi.
Hal serupa dirasakan Nadya (30), customer service perbankan yang bekerja di sekitar Kebon Sirih-Sarinah. Ia menyebut kafe estetik lebih cocok untuk hiburan akhir pekan.
"Saya suka kafe karena nyaman dan biasanya tempatnya bagus. Tapi saya paling ke kafe pas weekend aja, nggak tiap hari" ujar Nadya, Customer Service.
Saat hari kerja, ia lebih sering singgah di warkop. Nadya bahkan merasa warkop lebih merepresentasikan Jakarta yang sesungguhnya. Deri (34), teknisi yang mobilitasnya tinggi di Jakarta Pusat hingga Jakarta Selatan, menilai warkop lebih cocok untuk pekerja lapangan yang butuh istirahat singkat.
"Saya kadang cuma duduk 15 menit buat ngopi, nunggu teman atau nunggu waktu kerja. Kalau warkop enak, nggak ada tekanan" kata Deri, Teknisi.
Ia menyebut warkop juga membuka peluang interaksi sosial yang kadang memberi manfaat langsung.
"Kalau di warkop itu gampang ngobrol sama orang. Kadang bisa dapat info kerjaan juga. Kalau kafe kan orang cenderung sibuk sendiri" tutur Deri, Teknisi.
Analisis Ekonomi dan Sosiologi
Pengamat ekonomi sekaligus Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef) M Rizal Taufikurahman menilai, warkop bertahan karena struktur biaya yang rendah dan kedekatan dengan konsumen harian.
"Dalam kondisi daya beli tertekan, warkop menjadi pilihan rasional karena menawarkan harga murah, akses mudah, dan fungsi sosial tanpa biaya tambahan" ujar Rizal, Pengamat Ekonomi Indef.
Rizal menilai, warkop jauh lebih resilien dibanding kafe yang bergantung pada belanja rekreasi.
"Ini menjadikannya lebih resilien dibanding kafe yang bergantung pada discretionary spending" kata Rizal, Pengamat Ekonomi Indef.
Menurut dia, perbedaan harga antara warkop dan kafe mencerminkan segmentasi pasar yang semakin jelas. Tren nongkrong di kafe juga berkaitan dengan konsumsi simbolik.
"Konsumen tidak hanya membeli kopi, tetapi juga identitas sosial, estetika, dan pengalaman" kata Rizal, Pengamat Ekonomi Indef.
Sosiolog Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Rakhmat Hidayat menyebut warkop sejak lama dimaknai generasi tua sebagai ruang sosial yang fungsional dan egaliter.
"Warung kopi itu bukan sekadar tempat minum. Tapi tempat bertukar kabar, berdiskusi politik hingga membangun relasi sosial yang bersifat organik" kata Rakhmat, Sosiolog UNJ.
Ia menilai Gen Z cenderung memaknai kafe estetik sebagai ruang pengalaman, bukan sekadar ruang konsumsi. Namun, Rakhmat menegaskan warkop tetap memiliki posisi penting sebagai third place atau ruang ketiga selain rumah dan tempat kerja yang bersifat inklusif.
"Di warung kopi itu batas antara kelas sosial, profesi bahkan usia itu menjadi lebih cair, melebur" kata Rakhmat, Sosiolog UNJ.
Menurut Rakhmat, jika warkop tergeser sepenuhnya oleh ruang konsumsi modern, implikasinya tidak sekadar ekonomi.
"Pergantian warung kopi dengan cafe modern bukan sekadar perubahan fisik, tapi juga transformasi makna ruang. Dari ruang sosial menjadi ruang konsumsi" tutur Rakhmat, Sosiolog UNJ.
Di tengah tren modernisasi dan estetika, warkop tetap berdiri sebagai ruang yang mungkin tidak menarik untuk difoto, tetapi selalu ramai untuk didatangi. Bagi pekerja harian Jakarta, warkop bukan sekadar tempat minum kopi tapi tempat singgah, ruang napas, sekaligus ruang sosial yang masih mempertahankan wajah kota.