Orang Tua Perlu Waspadai Perubahan Perilaku Anak Akibat Kekerasan

Orang Tua Perlu Waspadai Perubahan Perilaku Anak Akibat Kekerasan

Psikolog dari Kasandra & Associates, A Kasandra Putranto, mengimbau para orang tua untuk meningkatkan kepekaan terhadap perubahan perilaku dan emosi anak sebagai upaya deteksi dini kekerasan. Hal ini merespons kasus kekerasan anak yang terjadi di sebuah daycare di Yogyakarta, sebagaimana dilansir dari Lifestyle.

Kewaspadaan menjadi faktor krusial karena ancaman kekerasan dapat muncul di lingkungan yang dianggap aman. Anak yang mengalami trauma sering kali menunjukkan ciri-ciri khusus yang membedakannya dari kondisi normal sebelum kejadian tersebut terjadi.

"Beberapa di antaranya adalah anak yang sebelumnya ceria bisa tiba-tiba menjadi takut, menarik diri, atau menolak pergi ke tempat penitipan anak tanpa alasan yang jelas," kata Kasandra Putranto, Psikolog dari Kasandra & Associates.

Perubahan kondisi emosional tersebut meliputi peningkatan kecemasan, perubahan suasana hati yang drastis, hingga perilaku agresif. Trauma juga dapat memicu mimpi buruk, ketergantungan berlebihan pada orang tua, serta ketidakseimbangan respons antara emosi dan perilaku anak di berbagai situasi.

"Anak kecil sering mengekspresikan trauma melalui perilaku, bukan kata-kata. Oleh karena itu, orang tua perlu lebih peka," ujar Kasandra Putranto, Psikolog dari Kasandra & Associates.

Penanganan awal saat indikasi kekerasan ditemukan adalah menjamin keamanan emosional anak melalui komunikasi yang hangat. Orang tua disarankan menggunakan pertanyaan terbuka tanpa nada menghakimi agar anak merasa cukup nyaman untuk menceritakan pengalaman pribadinya secara jujur.

Dokumentasi berupa catatan sistematis mengenai perubahan fisik, emosi, dan perilaku sangat diperlukan sebagai dasar langkah klarifikasi profesional. Jika bukti fisik seperti memar tanpa sebab jelas ditemukan, orang tua dapat melapor ke lembaga berwenang seperti Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI).

Artikel terkait

Rekomendasi