Kursi kepelatihan Chelsea dipastikan mengalami perubahan besar untuk musim depan. Mantan gelandang top, Xabi Alonso, telah resmi disepakati untuk menakhodai skuad London Barat tersebut.
Seperti dilansir dari Detik Sport, Alonso menyetujui ikatan kontrak dengan durasi empat tahun di Stamford Bridge. Kehadirannya membawa angin segar sekaligus wewenang yang jauh lebih luas.
Sebagai manajer, pria asal Spanyol ini bakal memegang kendali penuh dalam menyusun komposisi tim. Hak istimewa ini termasuk dalam menentukan kebijakan transfer pemain, sebuah keleluasaan yang tidak didapatkan oleh beberapa juru taktik Chelsea sebelumnya.
Langkah awal Alonso langsung mengarah pada pembenahan lini pertahanan terakhir. Sektor penjaga gawang dilaporkan menjadi fokus utama yang akan segera dirombak oleh sang manajer baru.
Saat ini Chelsea sebenarnya memiliki tiga opsi di bawah mistar gawang. Mereka adalah Robert Sanchez, Filip Jorgensen, dan penjaga gawang muda Mike Penders.
Namun, komposisi yang ada saat ini dinilai belum membuat Alonso puas. Manajer baru tersebut menginginkan sosok pengawal gawang yang memiliki jam terbang tinggi dan lebih berpengalaman.
Kondisi ini membuat nama Mike Maignan kembali mencuat ke permukaan. Penjaga gawang AC Milan yang sempat hampir berlabuh ke Chelsea pada musim lalu itu kini berpeluang besar untuk kembali diburu.
Kandidat Alternatif Lini Belakang
Karakter permainan Maignan dianggap sangat ideal untuk mengisi skema taktik yang diusung oleh Alonso. Kendati demikian, manajemen klub juga mengantongi beberapa nama alternatif lainnya.
Kiper utama Tim Nasional Belanda, Bart Verbruggen, masuk dalam radar pantauan. Selain itu, penjaga gawang tangguh asal Portugal, Diogo Costa, turut menjadi opsi yang potensial untuk dilirik.
Evaluasi besar-besaran ini berkaca dari performa musim lalu, di mana Robert Sanchez yang menjadi pilihan utama kerap tampil tidak konsisten. Sanchez tercatat kebobolan sebanyak 64 kali dan hanya mampu mengemas 15 clean sheet.
Meskipun Sanchez sering melakukan penyelamatan penting, beberapa kesalahan fatalnya justru merugikan tim pada laga-laga krusial. Masalah serupa juga menimpa Jorgensen yang sempat melakukan blunder di panggung Liga Champions.