Xi Jinping Perkuat Riset Dasar Hadapi Persaingan Teknologi Global

Xi Jinping Perkuat Riset Dasar Hadapi Persaingan Teknologi Global

Presiden China Xi Jinping menegaskan penguatan fondasi sains dan teknologi nasional guna menghadapi persaingan global yang semakin tajam dengan Amerika Serikat dalam simposium di Shanghai pada 30 April lalu, dilansir dari Tekno.

Langkah strategis tersebut menargetkan peningkatan kapasitas inovasi orisinal melalui riset dasar yang dianggap sebagai sumber utama sistem ilmiah. Fokus pengembangan mencakup bidang mutakhir seperti kecerdasan buatan (AI) generasi baru, komputasi kuantum, chip canggih, hingga teknologi antarmuka otak-komputer.

Xi Jinping menyatakan bahwa dunia saat ini sedang memasuki fase baru revolusi sains yang ditandai dengan pergeseran persaingan ke area riset paling mendasar namun memiliki potensi besar melahirkan teknologi masa depan.

"Kita harus memanfaatkan peluang, menghadapi tantangan, menempatkan riset dasar sebagai prioritas utama, mengembangkannya secara berkelanjutan, dan terus berupaya meraih pencapaian," kata Xi, dikutip KompasTekno dari Xinhua.

Penegasan tersebut selaras dengan kebijakan jangka panjang China yang mengalihkan sumber daya besar-besaran ke sektor strategis demi menjaga stabilitas ekonomi dan militer. Xi memandang inovasi teknologi merupakan faktor penentu utama dalam dominasi kekuatan negara di kancah internasional.

"Di tengah persaingan internasional yang sengit, kita harus memenangkan inisiatif strategis," demikian isi rencana yang dilaporkan sebelumnya, dihimpun dari The New York Times.

Dalam upaya mencapai kemandirian tersebut, pemerintah China memperkuat peran lembaga nasional dan universitas riset tingkat tinggi seperti Tsinghua University dan Peking University. Institusi-institusi ini difungsikan sebagai penghubung antara penelitian dasar dengan kebutuhan industri serta strategi pertahanan negara.

Integrasi antara akademisi dan industri juga dipercepat sebagai respons atas serangkaian pembatasan akses teknologi dari Amerika Serikat. Sejak 2023, pemerintahan Joe Biden telah membatasi penjualan chip AI canggih Nvidia ke China dengan alasan keamanan nasional, menyusul pemblokiran perusahaan seperti Huawei dan ZTE.

Analis senior RAND China Research Center, Gerard DiPippo, menilai bahwa para pemimpin China meyakini AS akan terus berupaya menghambat kemajuan teknologi mereka. Sementara itu, mantan Asisten Menteri Luar Negeri AS, Daniel R. Russel, menganggap tekanan Washington justru memicu Beijing untuk memperkuat kemampuan mandiri dan mempererat hubungan dengan mitra strategis seperti Rusia.

Artikel terkait

Rekomendasi