Xiaomi dan POCO Siapkan Strategi Hadapi Kenaikan Harga Smartphone

Xiaomi dan POCO Siapkan Strategi Hadapi Kenaikan Harga Smartphone

Xiaomi Indonesia bersama POCO tengah mematangkan strategi bisnis untuk menghadapi fluktuasi nilai tukar mata uang. Langkah ini merupakan respons terhadap proyeksi kenaikan harga perangkat smartphone pada kuartal III/2026.

Dikutip dari Teknologi, Xiaomi Indonesia menjelaskan bahwa penetapan nilai produk melibatkan berbagai faktor kompleks. Peninjauan berkala terus dilakukan guna memastikan inovasi yang dihadirkan tetap sebanding dengan kualitas yang diterima konsumen.

Marketing Director Xiaomi Indonesia, Andi Renreng, menegaskan komitmen perusahaan dalam menghadirkan teknologi relevan melalui misi Innovation for Everyone. Perusahaan berupaya menjaga keseimbangan antara performa perangkat dan ekspektasi pasar yang dinamis.

"Di tahun 2026 ini, kami optimis untuk terus memperkuat posisi Xiaomi di Indonesia dengan memperluas ekosistem terpadu," kata Andi.

Visi Human x Car x Home menjadi fondasi perluasan ekosistem tersebut. Konsep ini mengintegrasikan smartphone, AIoT, hingga perangkat rumah tangga dalam satu pengalaman pengguna untuk mendukung gaya hidup modern.

Andi menambahkan bahwa strategi integrasi ini membawa Xiaomi meraih posisi sebagai vendor smartphone nomor satu di Indonesia pada 2025. Capaian tersebut mengacu pada data yang dirilis oleh laporan Omdia.

Di sisi lain, POCO Indonesia tetap memegang prinsip Extreme Performance, Extreme Value dalam membangun nilai produknya. Fokus utama merek ini adalah memberikan performa maksimal dengan harga yang tetap rasional bagi para penggunanya.

"Artinya, setiap produk harus deliver performa maksimal dengan value yang tetap masuk akal untuk pengguna," kata PR Manager POCO Indonesia, Novita Krisutami.

Novita menjelaskan bahwa POCO terus memantau dinamika pasar agar tetap relevan tanpa mengubah fokus pada performa tinggi. Permintaan terhadap produk dengan nilai kuat terpantau masih sangat tinggi di tengah kondisi pasar yang selektif.

"Termasuk melalui ketersediaan resmi produk POCO di berbagai kanal online," ujar Novita.

Tekanan pada industri teknologi mulai terasa seiring melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Kondisi ini diprediksi memicu kenaikan harga perangkat keras seperti laptop dan ponsel pada paruh kedua tahun ini.

Direktur ICT Institute, Heru Sutadi, menyebutkan bahwa dampak pelemahan kurs biasanya tidak langsung menyentuh harga pasar. Produsen cenderung menahan harga dengan memaksimalkan stok lama serta kesepakatan kontrak yang sudah ada sebelumnya.

"Kenaikan harga umumnya mulai terlihat pada kuartal III 2026, saat stok baru masuk dengan biaya impor lebih tinggi," kata Heru.

Penyesuaian harga diperkirakan akan meluas pada kuartal IV, khususnya untuk segmen perangkat menengah dan premium jika depresiasi rupiah berlanjut. Namun, faktor global seperti penurunan pengiriman smartphone dunia bisa menahan harga untuk sementara waktu.

Heru mengingatkan agar produsen tidak terlalu agresif dalam menaikkan harga di tengah tekanan biaya produksi. Efisiensi, diversifikasi pemasok, serta strategi promosi dianggap lebih efektif dalam menjaga daya beli masyarakat agar tetap stabil.

"Tak ketinggalan, pendekatan bertahap dalam penyesuaian harga juga akan membantu menjaga permintaan tetap stabil di tengah tekanan biaya," tutur Heru.

Artikel terkait

Rekomendasi