Kualitas permainan di Piala Dunia kerap memicu pertanyaan mengenai apakah turnamen ini benar-benar menjadi panggung sepak bola tertinggi di dunia.
Kekuatan finansial yang besar membuat klub elite Eropa memiliki konsentrasi talenta yang sangat masif dibandingkan dengan sebagian besar tim nasional.
Kondisi tersebut membuat pertandingan terbaik sering kali justru lahir pada fase akhir Liga Champions UEFA, seperti laga Paris Saint-Germain melawan Bayern Muenchen yang berakhir dengan skor 5-4.
Hal ini memicu kesulitan bagi sebagian besar tim nasional untuk mencapai level permainan yang setara dengan klub-klub elite Eropa.
Sebagai contoh, Luis Enrique mampu membawa PSG ke level yang lebih tinggi dibandingkan saat ia menangani Spanyol pada Euro 2020 atau Piala Dunia 2022.
Mantan pelatih Skotlandia, Andy Roxburgh, menilai bahwa sepak bola internasional dan sepak bola klub elite tidak dapat disetarakan secara langsung.
“I rasa Anda tidak dapat membandingkan pertandingan internasional dengan sepak bola klub elite. Masing-masing memiliki karakternya sendiri,” kata Roxburgh, dikutip dari Bola pada Selasa (19/5/2026).
Roxburgh yang kini menjabat sebagai direktur teknik Konfederasi Sepak Bola Asia menjelaskan bahwa pelatih tim nasional menghadapi tantangan yang berbeda karena absennya bursa transfer.
“Dalam sepak bola internasional, tidak ada bursa transfer. Anda memilih dan menggunakan apa yang tersedia,” ujar Roxburgh.
Keterbatasan ini membuat para juru taktik tim nasional dituntut untuk bersikap lebih pragmatis dalam menyusun strategi permainan.
Roxburgh juga menambahkan bahwa intensitas sorotan pada pertandingan internasional jauh lebih besar meskipun jumlah laganya lebih sedikit.
“Di kancah internasional, karena jumlah pertandingan lebih sedikit, dan biasanya pertandingan-pertandingan tersebut berprofil tinggi, hasilnya diperbesar dan dibesar-besarkan,” katanya kepada AFP dari Kuala Lumpur.
Tantangan lain bagi pelatih tim nasional adalah kewajiban menyatukan para pemain dari berbagai klub dalam waktu yang relatif singkat.
Pelatih harus menanamkan filosofi mereka sendiri dengan tetap mempertimbangkan budaya sepak bola dari negara yang bersangkutan.
Kendati demikian, gaya bermain yang biasa diterapkan para pemain di klub masing-masing tetap memberikan pengaruh yang sangat besar.
“Seorang manajer tim nasional menyatukan para pemain, menambahkan filosofinya sendiri, dan budaya nasional diperhitungkan. Tetapi cara para pemain bermain di klub mereka memiliki pengaruh yang sangat besar,” ucap Roxburgh.
Dominasi tim nasional Spanyol saat menjuarai Euro secara beruntun dan Piala Dunia 2010 menjadi contoh nyata bagaimana mereka sangat bergantung pada kerangka permainan Barcelona.
Menghadapi perkembangan taktik modern, tim nasional papan atas dunia diprediksi akan mengadopsi banyak elemen permainan dari level klub.
Negara-negara kuat dari Eropa, Amerika Selatan, serta tim seperti Maroko, Senegal, dan Jepang dapat memetik keuntungan dari pendekatan taktis tersebut.
Serangan balik cepat menjadi salah satu elemen krusial dalam sepak bola modern, seperti yang ditunjukkan PSG di Liga Champions.
Argentina juga menerapkan pola serupa ketika mencetak gol kedua yang spektakuler ke gawang Perancis pada final Piala Dunia 2022.
Pelatih Perancis, Didier Deschamps, menegaskan bahwa momen peralihan dari bertahan ke menyerang merupakan salah satu waktu paling menentukan.
“Momen kunci dalam pertandingan sepak bola adalah peralihan dari fase bertahan ke fase menyerang, ketika lawan tidak punya waktu,” kata Deschamps beberapa bulan setelah final Piala Dunia 2022.
Untuk menerapkan transisi cepat, sebuah tim dituntut memiliki kemampuan merebut bola secepat mungkin melalui strategi pressing tinggi.
Roxburgh, yang telah mengamati perkembangan sepak bola internasional sejak memimpin Skotlandia di Piala Dunia 1990, menyebut kecepatan sebagai perubahan terbesar.
“Yang telah berubah adalah kecepatan permainan. Tekanan pada bola jauh lebih intens,” ujar Roxburgh.
Ia juga melihat permainan kolektif di level internasional saat ini sudah jauh lebih canggih dibandingkan dengan era masa lalu.
“Dulu sangat bergantung pada bintang-bintang individu, sekarang bintang-bintang bermain untuk tim,” kata Roxburgh.
Kendala Cuaca Panas di Amerika Utara
Penerapan strategi pressing tinggi diprediksi akan menghadapi tantangan berat berupa cuaca panas musim panas di Amerika Utara pada Piala Dunia mendatang.
Taktik ini menguras energi yang sangat besar karena pemain diwajibkan terus bergerak konstan untuk menekan pergerakan lawan.
Roxburgh menilai keberadaan jeda minum dalam pertandingan belum tentu mampu menjaga intensitas permainan tetap tinggi.
“Saya tahu kita akan memiliki jeda minum air, tetapi itu mungkin tidak cukup untuk memungkinkan tim untuk menekan dan bermain dengan intensitas tinggi,” kata Roxburgh.
Kanada di bawah asuhan Jesse Marsch dinilai mungkin mampu menerapkan pressing tinggi karena sangat mengandalkan pendekatan tersebut.
Namun, strategi serupa diprediksi tidak akan mudah dijalankan di beberapa wilayah Amerika Serikat atau Meksiko.
“Jesse Marsch, yang sangat mengandalkan pressing tinggi di Kanada, mungkin bisa melakukannya, tetapi saya tidak yakin bahwa di beberapa bagian AS atau bahkan Meksiko akan mudah untuk melakukannya,” ujar Roxburgh.
Optimalisasi Bola Mati dan Jeda Taktis
Selain faktor transisi dan tekanan tinggi, skema bola mati berpotensi kembali menjadi senjata mematikan untuk mencetak gol.
Tren ini sudah terlihat di Liga Premier musim ini, di mana situasi bola mati dan lemparan jauh kembali banyak dimanfaatkan.
Pelatih Inggris, Thomas Tuchel, memproyeksikan bahwa pola-pola konvensional tersebut akan kembali memegang peran penting.
“Hal-hal ini akan penting. Semua pola ini kembali dan umpan silang juga kembali,” kata Tuchel pada awal musim ini.
Kelebihan dari situasi tendangan sudut, tendangan bebas, hingga lemparan jauh adalah kemudahan bagi pelatih untuk mengendalikan skema tanpa harus mendominasi permainan terbuka.
Kehadiran jeda hidrasi selama tiga menit dari FIFA di tengah setiap babak juga memberikan keuntungan strategis bagi pelatih untuk memberikan instruksi.
Mantan gelandang Arsenal dan tim nasional Brasil, Gilberto Silva, menganggap jeda tersebut sebagai momen krusial untuk melakukan penyesuaian taktik.
“Ini bisa menjadi momen besar bagi pelatih dari sudut pandang taktis,” kata Gilberto yang merupakan bagian dari kelompok studi teknis FIFA.
Menurut anggota skuad juara Piala Dunia 2002 ini, pelatih kini memiliki peluang lebih banyak untuk mengubah jalannya pertandingan.
“Sekarang mereka memiliki dua kesempatan lagi, setelah jeda babak pertama, untuk melakukan perubahan. Itu adalah keuntungan besar bagi mereka,” ujar Gilberto.
Kondisi ini memastikan bahwa kesuksesan di Piala Dunia tidak lagi hanya bertumpu pada kualitas individu pemain semata.
Tim yang jeli menyesuaikan taktik, mengelola kebugaran energi, memanfaatkan transisi cepat, dan memaksimalkan bola mati memiliki peluang lebih besar untuk melaju jauh.