Zinedine Zidane diakui sebagai salah satu sosok yang memiliki pencapaian luar biasa dalam sejarah sepak bola. Legenda Timnas Prancis ini meninggalkan warisan besar, baik melalui raihan trofi maupun gaya bermainnya yang dinilai sangat elegan.
Ketenangan serta keindahan permainan menjadi ciri khas utama dari sang maestro di lapangan hijau. Karakteristik unik ini turut diakui oleh para tokoh sepak bola dunia karena kemampuannya yang luar biasa dalam mengolah si kulit bundar.
“Keanggunan seorang maestro Prancis seperti Zinedine Zidane. Dia menguasai bola, menjadi tontonan berjalan dan bermain seolah memakai sarung tangan sutra di kedua kakinya,” kata legenda Real Madrid, Alfredo Di Stefano.
Titik balik dalam karier sepak bola Zidane terjadi pada tahun 1998, seperti dilansir dari Suara. Setelah menunjukkan performa impresif di Euro 1996, pelatih Aimé Jacquet memanggilnya untuk memperkuat Prancis di Piala Dunia FIFA 1998 yang berlangsung di rumah sendiri.
Zidane tampil memukau sepanjang turnamen hingga berhasil membawa Les Bleus menembus partai final. Pada pertandingan puncak yang digelar 12 Juli 1998, Prancis harus berhadapan dengan Timnas Brasil yang lebih diunggulkan.
Prancis akhirnya keluar sebagai juara setelah menang telak atas Brasil, dengan Zidane menyumbang dua gol krusial melalui sundulan kepala. Dua gol tersebut menjadi torehan pertamanya di ajang Piala Dunia sekaligus mengukuhkan posisinya sebagai ikon baru sepak bola sejagat.
Momen bersejarah malam itu tidak hanya sekadar penyerahan trofi bagi Prancis. Keberhasilan tersebut juga menjadi sumber inspirasi besar bagi generasi pesepak bola masa depan dan seluruh masyarakat di negara tersebut.
Keterpurukan Prancis di Piala Dunia 2002
Empat tahun berselang, Prancis datang ke Piala Dunia FIFA 2002 di Korea Selatan dan Jepang membawa reputasi mentereng. Tim ini memegang status ganda sebagai juara bertahan Piala Dunia sekaligus kampiun Eropa.
Namun, perjalanan di Asia berubah menjadi catatan kelam bagi Les Bleus. Zidane mengalami cedera yang memaksanya absen dalam dua pertandingan awal di babak penyisihan grup.
Tanpa kehadiran sang dirigen permainan, performa Prancis merosot tajam dan harus tersingkir lebih awal tanpa mencetak satu gol pun. Hasil minor ini membuat Prancis mencatatkan rekor buruk sebagai juara bertahan pertama yang mandul di turnamen berikutnya.
Akhir Karier Dramatis di Piala Dunia 2006
Prancis menghadapi Piala Dunia FIFA 2006 di Jerman dengan situasi yang kurang ideal karena banyak pemain pilar yang memutuskan pensiun. Kendati tim sempat diragukan, Zidane memilih membatalkan pensiun internasionalnya untuk kembali memimpin skuad.
Kehadirannya langsung memberikan dampak instan bagi kestabilan tim di lapangan. Zidane sukses mengatur ritme permainan, meloloskan Prancis dari fase kritis, hingga menyajikan performa terbaik saat mendepak Brasil di perempat final.
Prancis kembali melaju ke final untuk menantang Timnas Italia. Zidane sempat membawa negaranya unggul terlebih dahulu melalui eksekusi penalti, sebelum disamakan oleh bek Italia, Marco Materazzi.
Laga ini berakhir tragis bagi Zidane setelah ia menerima kartu merah pada babak tambahan waktu akibat menanduk dada Marco Materazzi. Pengusiran tersebut menjadi momen penutup dari karier profesional Zinedine Zidane sebelum Italia mengunci gelar juara dunia lewat kemenangan adu penalti 5-3.