Aktivitas distribusi sepeda motor yang membawa muatan es batu dalam jumlah besar masih kerap dijumpai di kawasan pinggiran kota. Namun, kebiasaan ini menyimpan risiko keselamatan serius akibat tetesan air lelehan es yang membuat permukaan jalan menjadi licin.
Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) menilai bahwa membawa muatan berlebih tidak hanya mengancam keselamatan pengendara motor itu sendiri. Pola pengangkutan seperti ini juga membahayakan para pengguna jalan lain yang berada di sekitarnya, seperti dilansir dari Otomotif.
Ketua Bidang Road Safety and Motorsport AISI, Victor Assani, menjelaskan bahwa segala bentuk aktivitas berkendara yang dilakukan secara berlebih di jalan raya dipastikan mengundang risiko yang besar.
“Gaya berkendara seperti itu tentunya akan sangat membahayakan diri, orang lain, kendaraan bahkan muatan itu sendiri, yang ujung-ujungnya potensi kerugian yang luar biasa,” ujar Victor kepada Kompas.com, Rabu (27/5/2026).
Ancaman di jalan raya bukan hanya terlihat dari kondisi sepeda motor yang oleng akibat beban yang terlampau berat. Air lelehan es batu yang terus mengalir ke permukaan aspal menjadi sumber bahaya nyata, khususnya bagi pengendara roda dua di belakangnya.
Menurut penjelasan Victor, muatan yang melebihi kapasitas dan dimensi standar dapat mempercepat tingkat kerusakan pada komponen motor. Bagian pelek, ban, hingga bodi kendaraan menjadi sektor yang paling rentan mengalami kerusakan.
Di sisi lain, tetesan air ke permukaan jalan berisiko memangkas daya cengkeram ban kendaraan. Akibatnya, stabilitas kendaraan lain yang melintas di jalur yang sama dapat terganggu secara mendadak.
“Dari yang saya pernah lihat, mengapa posisi berkendaranya seperti itu? Ya karena muatannya overload dan overdimensi. Ini juga akan merusak kendaraan. Di samping itu, air yang menetes ke jalan juga berpotensi membuat permukaan jadi licin,” jelasnya.
Risiko Tambahan di Jalur Pinggiran Kota
Potensi kecelakaan ini dapat meningkat drastis ketika armada pengangkut es batu melewati jalanan pinggiran yang kualitas aspalnya buruk. Kontur jalan yang bergelombang atau berlubang memperbesar peluang terjadinya selip saat kendaraan melintasi area yang basah.
Pengendara lain yang refleks menghindar dari lubang jalan juga bisa kehilangan traksi seketika. Hal ini terjadi jika mereka tidak mengantisipasi adanya area licin akibat sisa tetesan air es tersebut.
“Belum lagi ditambah perilaku tersebut biasanya di jalan-jalan pinggiran yang biasanya memiliki kontur kurang baik. Amat sangat berbahaya,” kata Victor.
Solusi Distribusi yang Lebih Aman
Merespons fenomena ini, AISI mendorong penerapan solusi pengiriman yang jauh lebih aman tanpa mengganggu roda bisnis dari para pelaku usaha es batu. Langkah utamanya adalah beralih ke jenis kendaraan yang memang dirancang khusus untuk niaga.
“Solusinya sebenarnya para pembawa es batu bisa menggunakan kendaraan roda tiga yang memang diperuntukkan untuk memuat barang di belakang, maupun secara patungan menyewa mobil model pick-up karena akan memuat jauh lebih banyak dan aman, walau mungkin akan ada sedikit tambahan biaya,” pungkasnya.
Penggunaan sarana seperti kendaraan roda tiga atau mobil pick-up membuat proses angkut es batu menjadi lebih stabil. Modifikasi wadah pada kendaraan tersebut juga memungkinkan lelehan air tertampung dengan baik sehingga tidak membasahi jalan raya.