Hasil kurang memuaskan kembali didapat oleh tim Yamaha dalam seri lanjutan MotoGP akhir pekan lalu. Pabrikan berlambang garpu tala ini harus rela melihat para pebalapnya tercecer di papan bawah saat melakoni balapan.
Seperti dilansir dari Detik Oto, Alex Rins menjadi wakil terbaik Yamaha pada sesi kualifikasi dengan menempati peringkat ke-12. Sementara itu, Jack Miller berada di posisi 16, Fabio Quartararo di urutan 17, dan pebalap anyar Toprak Razgatlioglu harus puas di posisi 20.
Kondisi serupa juga terjadi pada sesi Sprint dan balapan utama MotoGP Italia 2026. Jack Miller finis sebagai pebalap Yamaha tercepat di posisi 15, disusul Toprak Razgatlioglu di urutan 16, sedangkan Fabio Quartararo terpuruk di posisi 18, dan Alex Rins gagal menyelesaikan balapan.
Ketika Ducati tampil mendominasi serta Aprilia dan KTM menunjukkan performa kompetitif, motor Yamaha YZR-M1 justru dinilai masih menyimpan sejumlah titik lemah. Masalah ini membuat para penunggangnya kewalahan menaklukkan Sirkuit Mugello.
Persoalan teknis tersebut dibongkar langsung oleh pebalap Monster Energy Yamaha, Alex Rins, setelah merampungkan Sprint Race MotoGP Italia pada Sabtu (30/5).
Dikutip dari Crash, Rins menyebutkan bahwa kendala pada motor Yamaha mencakup berbagai aspek krusial, mulai dari tingkat cengkeraman ban hingga kelincahan kendaraan saat bermanuver di tikungan.
"Masalahnya ada di grip belakang, grip depan, kemampuan berbelok. Motor ini terasa sangat berat," kata Rins.
Karakter Sirkuit Mugello memang menuntut keseimbangan tinggi antara semburan tenaga mesin dan kelincahan di tikungan. Lintasan yang mengalir disertai perubahan arah yang cepat membuat motor yang lambat berbelok akan kehilangan banyak waktu berharga.
Rins mengaku situasi rumit ini membuatnya sangat tersiksa sepanjang akhir pekan. Dirinya bahkan sempat merasa cemas sebelum melakoni balapan utama yang memiliki durasi putaran lebih panjang daripada Sprint Race.
"Saya tidak tahu bagaimana saya akan menjalani balapan besok. Tangan saya sudah hancur sejak hari ini. Balapan besok akan sangat berat," ujarnya.
Padahal, pebalap asal Spanyol itu sempat memberikan sinyal positif pada hari pertama. Rins mampu menembus posisi sepuluh besar dan mengamankan tiket lolos langsung ke sesi kualifikasi kedua (Q2).
Namun, performa impresif itu menguap saat sesi penentuan posisi start berlangsung hingga ia harus menempati urutan paling buncit di Q2 atau start dari grid ke-12.
Rins tidak bisa menyembunyikan rasa frustrasinya atas torehan tersebut. Ia merasa telah mengerahkan seluruh kemampuan terbaiknya di atas srikuit, tetapi catatan waktunya tetap tidak mampu mendongkrak posisi start.
"Hari (Sabtu) ini kami memperbaiki catatan waktu dibanding kemarin. Tetapi setelah percobaan pertama, saya masuk ke garasi dan melihat catatan 1 menit 45 detik di layar," tutur Rins.
"Saya pikir itu cukup bagus, tetapi ternyata saya berada di posisi terakhir. Saat melihatnya saya benar-benar terkejut," lanjutnya.
Rasa kecewa yang mendalam dirasakan oleh Rins karena ia merasa sudah memaksa motor melaju sampai batas performa tertinggi.
"Itu sangat sulit untuk saya terima karena saya sudah mendorong motor sekeras mungkin. Saya selalu memberikan kemampuan maksimum."
"Saya merasa cukup nyaman di sirkuit ini dan saya bisa membuat sedikit perbedaan dibanding rekan-rekan setim saya. Tetapi ketika Anda sudah memberikan segalanya dan tetap berada di posisi terakhir, itu sangat membuat frustrasi," lanjutnya.
Ketika balapan Sprint berlangsung, posisi Rins juga tetap tidak banyak berubah akibat terjebak di belakang pebalap KTM, Brad Binder.