Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) meminta pemerintah menerapkan kebijakan peremajaan armada angkutan barang guna mendukung program Zero Over Dimension Over Loading (ODOL) pada tahun 2027. Usulan tersebut disampaikan dalam Musyawarah Nasional (Munas) III Aptrindo di Jakarta pada Rabu (20/5/2026).
Dilansir dari Otomotif, pembenahan sektor angkutan barang melalui pembatasan usia kendaraan dinilai mendesak karena mayoritas armada yang beroperasi saat ini sudah terlalu tua. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran terkait keselamatan kerja, polusi udara, hingga stabilitas tarif di industri logistik nasional.
Ketua Umum Aptrindo, Gemilang Tarigan mengungkapkan bahwa sebagian besar truk yang aktif di jalanan Indonesia telah melewati masa pakai optimal.
"Iya, memang ini sekarang ini 80 persen truk di Indonesia ini berusia di atas 20 tahun. Kemudian yang 20 tahun ini bisa sampai 40 tahun," kata Gemilang.
Menurutnya, tingginya jumlah armada usang berdampak langsung pada peningkatan risiko kecelakaan akibat kerusakan teknis. Selain itu, biaya operasional yang tidak efisien dari kendaraan lama memicu persaingan usaha yang tidak sehat.
"Jadi kita sekarang lagi usulkan supaya ini diremajakan. Karena pertama masalah keselamatan, masalah lingkungan, dan masalah persaingan yang tidak sehat antara mobil tua dengan mobil baru ini kan bisa ongkos banting-bantingan ini," kata Gemilang.
Keberadaan truk tua yang masih beroperasi membuat regulasi tarif angkutan barang di pasar menjadi sulit dikendalikan. Para pelaku usaha yang memanfaatkan armada lama kerap menawarkan tarif yang jauh lebih rendah dibandingkan operator kendaraan baru.
"Sehingga di pasar ini kita kan susah mengaturnya. Jadi kami meminta kepada pemerintah supaya ini diremajakan," katanya.
Sebagai solusi, Aptrindo mendorong pemerintah untuk memberlakukan kembali regulasi lama yang membatasi masa operasional kendaraan angkutan barang.
"Paling tidak dulu kita sesuai dengan parameternya nomor 60 Kemenhub, itu usia truk dibatasi dengan 20 tahun," kata Gemilang.
Langkah peremajaan ini juga krusial bagi kesuksesan implementasi Zero ODOL secara menyeluruh di lapangan. Truk dengan teknologi terbaru dinilai memiliki sistem keselamatan dan kapasitas angkut yang lebih sesuai dengan standar regulasi terkini.
Gemilang menambahkan bahwa isu krusial mengenai pembaruan armada ini menjadi agenda utama yang disepakati oleh seluruh anggota asosiasi.
"Nah, di sini semua pengusaha truk mulai dari Aceh sampai Kalimantan seluruhnya semua hadir," kata Gemilang.
Pertemuan tingkat nasional tersebut sekaligus menjadi momentum bagi para pengusaha logistik untuk menyatukan langkah menghadapi regulasi pemerintah di masa depan.
"Jadi adanya suatu persamaan persepsi dan komitmen bersama untuk menetapkan kebijakan ataupun mengantisipasi hal-hal yang ke depan. Jadi adanya kesamaan persepsi lah itu terutama," kata Gemilang.