Mengenal Asal-usul Sulawesi Utara Mendapat Julukan Bumi Nyiur Melambai

Mengenal Asal-usul Sulawesi Utara Mendapat Julukan Bumi Nyiur Melambai

Provinsi Sulawesi Utara memiliki identitas yang sangat melekat dengan sebutan Bumi Nyiur Melambai. Julukan ikonik ini ternyata berakar dari kekayaan alam wilayah tersebut yang didominasi oleh tanaman kelapa.

Dilansir dari Detik Travel, pemandangan perkebunan kelapa yang sangat luas menjadi alasan utama di balik penamaan tersebut. Traveler yang datang melalui jalur udara dapat melihat lambaian daun kelapa yang tertiup angin dari jendela pesawat.

Selain faktor visual, istilah nyiur melambai menjadi representasi keindahan alam sekaligus keramahan penduduk lokal. Sektor kelapa juga telah lama menjadi pilar utama yang menopang roda ekonomi masyarakat di Sulawesi Utara.

Popularitas kelapa di wilayah ini sudah terbangun sejak zaman penjajahan Belanda. Pada masa itu, orang-orang Belanda melafalkan kelapa sebagai klapper, sementara dalam bahasa resmi mereka disebut dengan kokosnoot.

Interaksi budaya dengan Belanda memunculkan kuliner khas yang sangat populer hingga sekarang, yaitu klapertart. Kudapan ini menjadi bukti nyata kecintaan warga Belanda terhadap buah tropis tersebut selama mereka berada di sana.

Istilah teknis lain yang muncul adalah klappermelk untuk menyebut santan. Hingga periode tahun 2026 ini, Sulawesi Utara konsisten menjadi eksportir besar produk tepung kelapa dan crude coconut oil (CCO) ke pasar Belanda.

Ragam Kuliner Berbahan Kelapa

Bagi para pecinta wisata kuliner, pohon kelapa menghasilkan berbagai jenis penganan tradisional atau kukis khas Manado yang unik. Salah satu yang paling dicari sebagai oleh-oleh adalah kukis koyabu.

Kue koyabu dibuat menggunakan campuran kelapa parut dan tepung ketan yang diisi gula merah. Adonan tersebut kemudian dibungkus menggunakan daun pandan sebelum akhirnya dikukus hingga matang.

Ada juga kukis bobengka yang menggunakan kelapa parut jenis mengkal. Bahan utamanya terdiri dari tepung terigu atau ketan yang dipadukan dengan aroma kayu manis serta manisnya gula merah.

Kukis tetu atau yang sering dijuluki kue perahu memiliki tekstur lembut dari santan dan tepung terigu. Kue ini dikukus dalam wadah berbentuk perahu yang terbuat dari daun pandan dengan lelehan gula merah di dalamnya.

Varian lainnya meliputi kukis lampu-lampu yang memiliki karakter mirip dengan kue tetu. Sementara itu, terdapat pula kukis kelapa dalam bentuk kue kering gurih yang diolah dari kelapa parut sangrai dan tepung beras.

Sebagai pelengkap daftar kuliner, wisatawan dapat mencicipi kukis panada. Berbeda dengan kue lainnya, panada merupakan pastel goreng yang diisi dengan kombinasi ikan cakalang pedas dan parutan kelapa.

Artikel terkait

Rekomendasi