Kemenpar Luncurkan MaiA untuk Transformasi Digital Pariwisata

Kemenpar Luncurkan MaiA untuk Transformasi Digital Pariwisata

Teknologi digital kini mengubah secara drastis cara wisatawan menemukan, mempertimbangkan, hingga memutuskan destinasi liburan yang akan mereka kunjungi.

Perubahan perilaku pelancong global tersebut terjadi seiring dengan besarnya pengaruh algoritma media sosial serta mesin pencari di internet.

Dilansir dari Medcom, Kementerian Pariwisata (Kemenpar) merespons fenomena tersebut dengan meluncurkan Meticulous Artificial Intelligence of Indonesia (MaiA).

Platform kecerdasan buatan ini dihadirkan untuk mendukung transformasi digital sekaligus menyukseskan program Tourism 5.0 di Indonesia.

Sistem pintar yang terintegrasi di Indonesia Travel ini mempermudah jangkauan promosi kepada wisatawan secara lebih personal dan efektif berbasis data.

Deputi Bidang Pemasaran Kementerian Pariwisata, Ni Made Ayu Marthini, menegaskan bahwa penerapan teknologi kecerdasan buatan ini merupakan kebutuhan krusial industri.

"Ini bukan sekadar ikut-ikutan tren. Ini fondasi dalam membangun pengalaman wisata yang lebih personal, efisien, dan berbasis data," ujar Ni Made dalam diskusi Forum Ngobrolin Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Ngoprek) di Jakarta.

MaiA dirancang memandu wisatawan di setiap fase perjalanan, mulai dari pencarian inspirasi, perencanaan, pemesanan, hingga berbagi pengalaman liburan.

Selain membantu pelancong, platform kecerdasan buatan ini memegang peran penting sebagai pusat data karakteristik dan perilaku para pengunjung.

Ni Made memaparkan, dalam kurun waktu tujuh bulan sejak dirilis pada November 2025, MaiA berhasil memetakan profil pengguna secara rinci.

Data menunjukkan mayoritas pengguna sebesar 60 persen berasal dari pasar domestik, sedangkan 40 persen sisanya merupakan wisatawan mancanegara.

Wisatawan asing yang mengakses platform digital ini didominasi oleh pelancong yang berasal dari negara Tiongkok, Singapura, serta Jerman.

Melalui pasokan data tersebut, pemerintah dapat menganalisis tren pariwisata mutakhir, termasuk jenis destinasi dan aktivitas yang paling diminati.

Pergeseran pola perjalanan wisatawan global saat ini tidak lepas dari bekerjanya sistem algoritma di balik platform digital.

Staf Khusus Menteri Bidang Komunikasi Publik dan Media, Apni Jaya Putra, menjelaskan bahwa aktivitas digital pengguna kini dikonversi menjadi data profil.

Profil personal tersebut yang nantinya memfilter informasi serta rekomendasi wisata yang muncul pada layar perangkat elektronik masing-masing individu.

Sistem ini membuat platform digital memegang kendali besar dalam menentukan seberapa menarik sebuah destinasi di mata calon pelancong.

"Destinasi apa yang terlihat, paket wisata apa yang direkomendasikan, hingga narasi mana yang dominan di ruang digital sangat dipengaruhi oleh algoritma," kata Apni.

Kondisi tersebut melahirkan tantangan baru, di mana sektor pariwisata dituntut mampu membangun kepercayaan publik di tengah banjir informasi digital.

Kombinasi Kecanggihan AI dan Narasi Manusia

Kendati teknologi berkembang pesat, para praktisi pariwisata sepakat bahwa aspek manusia tetap menjadi pilar utama daya tarik wisata.

Brand Strategist dan Founder Konner Advisory, Silih Agung Wasesa, berpendapat kesuksesan promosi memerlukan dorongan narasi yang mendalam.

Pelancong era modern tidak hanya mencari data administratif, melainkan memburu pengalaman yang mampu menyentuh ikatan emosional mereka.

"Kalau narasinya tidak dibangun, AI tidak akan ke mana-mana. Experience storytelling menjadi sangat penting untuk membangun citra destinasi di era AI," ujarnya.

Silih menambahkan, rekomendasi dari komunitas dan nano influencer kini dinilai jauh lebih tepercaya dibandingkan model promosi konvensional.

Sentuhan humanis yang autentik juga dinilai menjadi pembeda utama dalam bisnis jasa pelayanan dan hospitality.

COO ARTOTEL Group, Eduard Rudolf Pangkerego, menyebut AI sangat membantu akurasi strategi pemasaran, namun kepuasan akhir tetap di tangan manusia.

"Yang membedakan industri hospitality dan pariwisata dengan industri lainnya adalah rasa, pengalaman, dan sentuhan manusia," katanya.

Eduard mengingatkan teknologi hanya berfungsi mempercepat distribusi informasi, sementara loyalitas wisatawan lahir dari hubungan emosional yang nyata di lapangan.

Artikel terkait

Rekomendasi