Penggunaan truk listrik di area pertambangan gencar dipromosikan karena diklaim menawarkan efisiensi tinggi untuk operasional berat. Terkait hal ini, Astra UD Trucks tengah melakukan persiapan matang dengan mempertimbangkan berbagai faktor krusial di lapangan, dilansir dari Otomotif pada pekan lalu.
Kesiapan infrastruktur menjadi fokus utama dalam rencana implementasi kendaraan ramah lingkungan tersebut. Masalah mendasar muncul karena operasional armada ini membutuhkan fasilitas pembangkit listrik mandiri di setiap lokasi kerja.
"Truk listrik itu baterainya itu besar sekali. Jadi kemarin ada beberapa tambang yang sudah mulai ada trial coba, tapi kan infrastrukturnya harus disiapkan. Yang jadi masalah adalah kalau di tambang harus ada power plant-nya, tidak semua tambang punya power plant," kata Bambang Widjanarko, Chief Executive Officer Astra UD Trucks.
Ketiadaan fasilitas penunjang tersebut dipastikan bakal menyulitkan operasional kendaraan di sektor pertambangan. Keberadaan fasilitas pembangkit energi dinilai sangat vital karena berfungsi layaknya stasiun pengisian bahan bakar bagi armada konvensional.
"Karena kalau tidak siap bagaimana swap baterainya, ngecas-nya gimana? Baterainya ukurannya besar bisa 2 ton beratnya. Kalau pakai sistem swap untuk angkat baterainya harus pakai alat berat. Lalu pengisian dayanya pun power plant-nya harus besar, nah tambang belum semuanya siap soal itu," kata Bambang.
Meskipun infrastruktur domestik masih menghadapi tantangan, prinsipal dari perusahaan ini sebenarnya telah memiliki kesiapan teknologi yang matang. Pabrikan asal Jepang tersebut sudah memegang portofolio kendaraan berat bertenaga setrum di negara asalnya, bahkan prototype produk itu pernah dipamerkan dalam ajang pameran otomotif di Jepang beberapa tahun lalu.