Auto2000 Sebut Uji Emisi Jadi Indikator Efisiensi BBM Kendaraan

Auto2000 Sebut Uji Emisi Jadi Indikator Efisiensi BBM Kendaraan

Tingkat kesehatan mesin serta efisiensi konsumsi bahan bakar minyak (BBM) kendaraan dapat diketahui melalui hasil uji emisi. Keterkaitan erat antara pengujian gas buang tersebut dengan performa mesin kendaraan dijelaskan oleh Auto2000 di DKI Jakarta, sebagaimana dilansir dari Medcom.

“Uji emisi merupakan bagian dari prosedur standar servis berkala di bengkel Auto2000 untuk mengetahui sejauh mana tingkat kesehatan mobil. Jika kandungan gas buang melebihi ambang batas yang ditetapkan, merupakan indikator ada komponen mesin yang bermasalah dan harus dicarikan solusinya, seperti mengatur setelan mesin atau mengganti komponen dengan yang baru agar sehat kembali,” terang Marketing Division Head Auto2000, Nur Imansyah Tara, melalui keterangan resminya.

Pemeriksaan berkala ini tetap krusial untuk memastikan kondisi mesin selalu prima meskipun kendaraan tidak sedang mengalami kerusakan. Pengujian tersebut membantu teknisi memastikan ketepatan campuran udara dan bahan bakar agar proses pembakaran di dalam mesin berlangsung optimal.

Kondisi pembakaran yang sempurna berdampak langsung pada efisiensi konsumsi bahan bakar dan menjaga performa mesin tetap stabil. Sebaliknya, gangguan pada sistem pembakaran berisiko memicu pemborosan BBM serta meningkatkan kadar emisi gas buang.

Fasilitas uji emisi telah diintegrasikan ke dalam layanan servis berkala sehingga pemilik kendaraan tidak perlu membayar biaya tambahan. Namun, tarif normal termasuk PPN akan dikenakan bagi pelanggan yang melakukan pengujian mandiri di luar jadwal servis, di mana biaya tersebut belum mencakup jasa perbaikan atau penggantian suku cadang jika mobil dinyatakan tidak lulus.

Pemesanan layanan ini dapat diakses masyarakat secara praktis melalui bengkel fisik maupun aplikasi Auto2000 Digiroom. Untuk mempermudah kendaraan lolos uji emisi, kebersihan saluran bahan bakar serta filter udara harus senantiasa terjaga guna mencegah lonjakan kadar hidrokarbon (HC) akibat pasokan udara yang terhambat.

Pemilik kendaraan juga perlu memperhatikan kondisi koil, busi, dan kualitas oli mesin agar suhu kerja tetap ideal serta tidak membebani performa mesin. Selain itu, komponen sensor oksigen dan catalytic converter wajib dipastikan berfungsi baik untuk menekan volume zat berbahaya pada gas buang.

Modifikasi mesin secara berlebihan perlu dihindari karena berpotensi mengacaukan campuran bahan bakar dan meningkatkan emisi. Penggunaan jenis BBM yang sesuai dengan rekomendasi pabrikan turut disarankan demi menekan pembentukan endapan karbon di ruang bakar.

Kriteria kelulusan pengujian ini mengacu pada Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 05 Tahun 2006. Regulasi tersebut menetapkan ambang batas emisi karbon monoksida maksimal 1,5 persen volume dan hidrokarbon maksimal 200 ppm volume dalam kondisi idle untuk kendaraan bensin tahun produksi 2007 ke atas.

Artikel terkait

Rekomendasi