Benteng Amsterdam Maluku Simpan Jejak Sejarah Rempah Pemikat Dunia

Benteng Amsterdam Maluku Simpan Jejak Sejarah Rempah Pemikat Dunia

Benteng Amsterdam di Negeri Hila, Kabupaten Maluku Tengah, Maluku, menjadi destinasi penting untuk memahami sejarah panjang rempah-rempah Nusantara. Wisatawan dapat menjangkau situs bersejarah ini dengan menempuh perjalanan darat sekitar satu jam dari Kota Ambon.

Akses jalan menuju lokasi terbilang kecil dan berkelok, melewati lanskap pedesaan dengan deretan rumah warga dan penjual ikan di tepi jalan, dilansir dari Detik Travel pada Selasa (19/5/2026).

Kawasan wisata sejarah ini biasanya dipadati pengunjung pada siang hari, termasuk rombongan akademisi yang melakukan studi tur. Area di depan benteng kerap menyajikan pertunjukan budaya lokal seperti bambu gila yang dapat dicoba langsung oleh para wisatawan.

"Buat masyarakat dan siapa pun dia yang mau datang ke sini bikin acara di sini, itu kami siap," kata polisi khusus cagar budaya setempat, Damir Lating.

Damir Lating menambahkan bahwa kompleks cagar budaya ini sering dimanfaatkan sebagai tempat pelaksanaan acara institusi, mulai dari sosialisasi hingga agenda perpisahan pejabat.

Sebelum kedatangan bangsa Eropa, wilayah Negeri Hila merupakan pusat dari Kerajaan Hitu yang bercorak Islam. Benteng Amsterdam sendiri telah berdiri sejak tahun 1512 dan dibangun pertama kali oleh bangsa Portugis di bawah pimpinan Fransisco Serrao sebagai gudang penyimpanan rempah.

Memasuki tahun 1605, bangsa Belanda tiba di Pulau Maluku dan bekerja sama dengan masyarakat Kerajaan Hitu untuk mengusir Portugis. Setelah misi tersebut berhasil, bangunan gudang dialihfungsikan menjadi kubu pertahanan militer dan dinamai Benteng Amsterdam.

Bangunan pertahanan ini dirancang dengan struktur tiga lantai yang menyerupai bentuk segi empat dan dilindungi atap berbentuk limas. Lantai pertama pada masa kolonial Belanda digunakan sebagai tempat penyimpanan logistik makanan.

Pemugaran besar-besaran telah dilakukan pada tahun 1991 dengan mengacu pada dokumentasi gambar dalam buku Beschreiving van Ambonian karya Francois Valantyn. Langkah ini membuat bangunan tetap berdiri kokoh dengan mempertahankan tembok asli, meski bagian kayu dan tegel lantai telah diganti.

Saat melangkah ke dalam benteng, pengunjung akan menemukan ruangan kecil di sisi kiri yang dahulu berfungsi sebagai tempat penyimpanan mesiu. Fungsi ruangan tersebut kemudian berubah menjadi sel penjara ketika lini pertahanan beralih ke tangan tentara Jepang.

Nilai Pala dan Jejak Botani Rumphius

Masyarakat Hitu dahulu memilih bersekutu dengan Belanda karena menolak sistem monopoli perdagangan yang diterapkan Portugis secara paksa. Kebijakan tersebut mewajibkan seluruh penduduk menjual hasil panen pala dan cengkih hanya kepada pihak Portugis.

"Tidak ada lagi negara lain yang punya persediaan rempah yang lebih banyak seperti dia," ucap Damir.

Tingginya nilai rempah-rempah pada masa itu bahkan sanggup melampaui harga komoditas emas di pasar internasional. Hitungan harga satu kilogram buah pala kala itu tercatat lebih mahal dibandingkan dengan harga satu gram emas.

Beralih ke lantai dua benteng, bagian dinding dihiasi jajaran pigura yang menampilkan gambar beragam spesies ikan hasil riset Georg Eberhard Rumphius. Ilmuwan botani asal Jerman tersebut mendedikasikan hidupnya bersama VOC untuk meneliti kekayaan hayati di perairan Ambon.

Catatan ilmiah Rumphius berhasil mendokumentasikan sekitar 600 jenis ikan yang hidup di wilayah perairan Maluku. Selain merekam data botani, ia juga menuliskan kesaksian mengenai peristiwa bencana alam tsunami pertama di Maluku yang terjadi pada tahun 1674.

Dalam dokumen pribadinya, Rumphius menyebut fenomena gelombang besar tersebut dengan istilah bahaya Seram karena titik gempa utama berada di Pulau Seram. Bencana dahsyat tersebut merenggut sekitar 2.000 korban jiwa, dengan 1.200 orang di antaranya merupakan warga Negeri Hila.

Artikel terkait

Rekomendasi