Bertahan di Pinggir Jalan: Nestapa dan Peluang Jasa Cat Duco Salemba

Bertahan di Pinggir Jalan: Nestapa dan Peluang Jasa Cat Duco Salemba
Deru kendaraan bercampur suara klakson bersahut-sahutan terdengar hampir tanpa jeda di sepanjang Jalan Salemba Raya, Jakarta Pusat. Di bawah rindangnya pepohonan jalan, papan bertuliskan “CAT DUCO MOBIL MOTOR”, “LAS KETOK”, hingga “CAT DUCO BARET PENYOK” berdiri mencolok di tepi trotoar. Cat duco adalah teknik pengecatan dengan hasil akhir mengilap dan cepat kering yang umum digunakan untuk bodi kendaraan, di antaranya mobil dan motor, maupun furnitur. Jasa ini biasanya diburu untuk menutupi baret, lecet, hingga penyok agar tampilan kendaraan kembali terlihat seperti baru.Aroma cat, tiner, dan asap kendaraan bercampur menyelimuti udara. Pemandangan jasa cat duco pinggir jalan itu bukan hal baru di Jakarta. Di ruas Salemba, Kramat Raya, hingga Matraman, para pekerja cat duco telah bertahan puluhan tahun di tengah kerasnya persaingan dan penertiban aparat.

“Ya karena buat cari makan. Usia juga sudah segini. Jadi dijalani saja yang penting halal,” ujar Maman, pelaku jasa cat duco pinggir jalan di wilayah Salemba Raya.

Hampir tiga dekade Maman menjalani pekerjaan itu. Sejak pagi hingga sore, ia berdiri di pinggir jalan sambil menawarkan jasa perbaikan baret dan penyok kendaraan kepada pengendara yang melintas.

“Ya sehari-hari begini saja, manggil pelanggan,” kata Maman.

Jika ada pelanggan yang tertarik, kendaraan akan diarahkan ke bengkel rekanan di dalam gang permukiman sekitar Salemba. Menurut Maman, proses pengecatan tidak dilakukan di tepi jalan, melainkan di bengkel yang lebih aman untuk bekerja.

“Iya, masuk ke dalam kampung. Kalau kerja di dalam lebih aman,” ujar Maman.

Maman mengaku sudah bekerja di bidang tersebut sejak 1996. Bahkan, sebelum itu ia sudah belajar mengecat kendaraan sejak kecil. Pasalnya, ia tumbuh di lingkungan bengkel dan terbiasa bekerja sejak usia muda. Ia memulai pekerjaan dari bawah, mulai dari mengampelas bodi kendaraan, mendempul, hingga akhirnya belajar menyemprot cat. Pengalaman tersebut membuatnya sempat bekerja di bengkel besar.

“Belajar langsung di bengkel. Dari amplas, dempul, sampai ngecat. Saya juga pernah kerja di bengkel besar, termasuk Toyota,” kata Maman.

Berbeda dengan anggapan sebagian orang, Maman mengatakan dirinya bukan sekadar pencari pelanggan di jalan. Ia juga menguasai pekerjaan pengecatan kendaraan.

“Bukan. Saya juga tukang catnya,” ujar Maman.

Meski telah puluhan tahun bekerja, kehidupan Maman jauh dari kata mapan. Pendapatannya tidak menentu karena bergantung pada jumlah pelanggan harian. Jika sedang ramai, ia bisa membawa pulang penghasilan yang cukup. Namun ketika sepi, ia harus bertahan tanpa pemasukan selama beberapa hari.

“Kalau karyawan kan kerja atau enggak tetap digaji. Kalau kita harus cari sendiri dulu baru ada uang,” kata Maman.

Ia mengaku pernah mengalami masa-masa sulit ketika pelanggan sangat sepi. Karena itu, ia harus pandai mengatur keuangan. Tarif jasa cat duco pinggir jalan pun sangat fleksibel. Menurut Maman, harga ditentukan berdasarkan tingkat kerusakan kendaraan dan hasil negosiasi dengan pelanggan.

“Misalnya baret kecil bisa sekitar Rp 400.000 ke atas,” ujar Maman.

Tidak seperti bengkel resmi yang memiliki standar tarif tetap, jasa cat duco pinggir jalan bisa disesuaikan.

“Kalau bengkel besar kan harga sudah pasti. Kalau kita menyesuaikan kemampuan pelanggan juga,” kata Maman.

Maman mengatakan fenomena jasa cat duco pinggir jalan sebenarnya sudah ada sejak lama. Bahkan menurut dia, jasa semacam itu telah berkembang sejak era 1970-an dan semakin ramai setelah krisis ekonomi 1998.

“Awalnya banyak di Kramat 2. Pas zaman krisis ekonomi 1998 makin banyak orang turun ke jalan cari kerja begini,” tutur Maman.

Kini jumlah pelaku jasa cat duco di wilayah Salemba dan sekitarnya terus bertambah. Menurut Maman, jika dihitung secara menyeluruh, jumlah pekerjanya bisa mencapai ratusan orang.

“Banyak sekali. Bisa lebih dari 100 orang kalau dihitung sampai gang-gang,” kata Maman.

Sebagian pekerja hanya bertugas mencari pelanggan, sementara sebagian lainnya menjadi tukang cat di bengkel-bengkel kecil. Mereka saling terhubung dalam jaringan kerja informal. Persaingan antarpelaku pun semakin ketat. Para pencari pelanggan harus berebut menarik perhatian pengendara di tengah lalu lintas Jakarta yang padat.

“Kadang iya, karena semua cari makan,” ujar Maman.

### Biaya Murah dan Proses Cepat Menjadi MagnetKeberadaan jasa cat duco pinggir jalan ternyata masih memiliki pasar tersendiri karena menawarkan biaya yang lebih terjangkau. Salah satu pelanggan, Hakim, mengaku memilih jasa ini karena pertimbangan efisiensi.

“Saya cuma mau benerin baret kecil di pintu mobil. Kalau ke bengkel resmi bisa mahal dan harus antre,” ujar Hakim, pelanggan jasa cat duco.

Menurut Hakim, hasil pengerjaan jasa cat pinggir jalan memang tidak selalu sempurna. Namun, untuk kerusakan ringan, ia merasa kualitasnya sudah cukup memadai.

“Kalau buat pemakaian sehari-hari sih cukup. Yang penting cepat selesai,” kata Hakim.

Hal serupa disampaikan pelanggan lain, Deni, pengemudi ojek online yang pernah menggunakan jasa cat duco motor di wilayah Matraman. Ia memilih jasa pinggir jalan karena kendaraan harus segera digunakan kembali untuk bekerja.

“Motor saya lecet habis jatuh. Kalau dibawa ke bengkel resmi mahal dan lama. Di sini sehari selesai,” ucap Deni, pengemudi ojek online.

Menurut Deni, biaya yang lebih terjangkau menjadi alasan utama masyarakat kelas menengah ke bawah memilih jasa tersebut.

“Yang penting rapi lagi buat narik penumpang,” kata Deni.

### Analisis Kualitas dan Kebutuhan PasarPengamat otomotif Bebin Djuana menilai fenomena jasa cat duco pinggir jalan bukanlah hal baru di Jakarta. Ia menyampaikan, layanan tersebut tetap bertahan karena masih ada kebutuhan masyarakat terhadap perbaikan bodi kendaraan yang cepat dan murah.

“Cat duco pinggir jalan sudah lama berlangsung, bukan tren baru,” ujar Bebin Djuana, pengamat otomotif.

Ia mengatakan, sebagian konsumen memilih jasa pinggir jalan karena tidak memiliki perlindungan asuransi kendaraan. Selain itu, ada pula pengemudi yang ingin segera memperbaiki kendaraan tanpa harus mengeluarkan biaya besar.

“Biasanya yang memanfaatkan jasa perbaikan pinggir jalan mereka yang tidak melindungi kendaraan dengan asuransi, atau sopir yang takut kena damprat bos akibat serempetan di jalan,” kata Bebin Djuana.

Menurut Bebin, kualitas pengerjaan jasa cat duco pinggir jalan memang tidak bisa disamakan dengan bengkel body repair resmi. Sebab, biaya yang lebih murah biasanya berdampak pada kualitas material dan ketahanan cat.

“Tentu biayanya juga standar pinggir jalan, dengan konsekuensi kualitas pekerjaan ala kadarnya dan tidak tahan lama,” ujar Bebin Djuana.

Meski demikian, Bebin menilai sebagian pekerja cat duco pinggir jalan sebenarnya memiliki pengalaman dan keterampilan yang cukup baik. Banyak di antara mereka pernah bekerja di bengkel besar, tetapi terkendala modal untuk membuka usaha dengan fasilitas lebih lengkap.

“Yang mengerjakan sebetulnya tukang cat yang punya pengalaman dan cukup keterampilan, namun tidak didukung modal cukup untuk melengkapi diri agar mendapatkan hasil yang baik,” kata Bebin Djuana.

Selain keterbatasan modal, tekanan dari konsumen yang ingin harga murah juga memengaruhi kualitas pekerjaan.

“Sering kali juga karena desakan konsumen yang menekan biaya hingga memaksa memakai material berkualitas rendah. Ada harga ada barang,” ujar Bebin Djuana.

### Wajah Ekonomi Informal dan Aturan Tata KotaSosiolog Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Rakhmat Hidayat menilai menjamurnya jasa cat duco pinggir jalan mencerminkan wajah urbanisasi Jakarta yang tidak sepenuhnya mampu menyerap tenaga kerja ke sektor formal.

“Kota besar seperti Jakarta menjadi ruang bertemunya arus migrasi, kebutuhan ekonomi, dan keterbatasan lapangan kerja formal,” ujar Rakhmat Hidayat, sosiolog UNJ.

Menurut Rakhmat, kondisi tersebut mendorong masyarakat menciptakan strategi bertahan hidup di tengah kerasnya kota.

“Jasa cat duco pinggir jalan adalah fenomena berkembangnya ekonomi informal perkotaan yang fleksibel, murah, dan cepat diakses,” kata Rakhmat Hidayat.

Ia juga melihat adanya ketimpangan ruang kota antara bengkel modern dan layanan informal di trotoar. Sektor informal menjadi pilihan realistis bagi mereka yang minim akses modal dan sertifikasi.

“Hambatan masuknya rendah dan tidak membutuhkan birokrasi yang rumit,” kata Rakhmat Hidayat.

Rakhmat menyebut pekerja jasa cat duco sebagai bagian dari “prekariat urban” yang hidup dalam ketidakpastian. Namun, mereka tetap relevan karena budaya konsumsi masyarakat.

“Mereka penting bagi ekonomi kota, tetapi keberadaannya sering tidak diakui secara penuh oleh sistem formal,” ujar Rakhmat Hidayat.

Kebutuhan akan penampilan kendaraan menjadi peluang bagi pasar ini di luar bengkel premium.

“Tidak semua orang mampu mengakses bengkel premium. Di sinilah jasa cat duco menemukan pasarnya,” kata Rakhmat Hidayat.

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef M Rizal Taufikurahman menilai pertumbuhan jasa ini dipengaruhi kombinasi permintaan pasar dan tekanan ekonomi.

“Jakarta punya basis kendaraan besar sehingga kebutuhan perbaikan bodi dan cat kendaraan sangat tinggi,” ujar Rizal Taufikurahman, peneliti Indef.

Data menunjukkan tingginya angka pekerja informal di Jakarta sebagai latar belakang menjamurnya profesi ini.

“Usaha seperti cat duco pinggir jalan tumbuh karena ada permintaan, tetapi juga karena masyarakat mencari sumber pendapatan alternatif,” kata Rizal Taufikurahman.

Ia menyarankan agar pendekatan pemerintah tidak hanya sekadar penertiban, namun melalui pembinaan zona usaha otomotif.

“Pemerintah DKI bisa membuat zona usaha otomotif informal, pelatihan K3, akses KUR mikro, dan kemitraan dengan bengkel formal,” ujar Rizal Taufikurahman.

Dari sisi regulasi, Juru Bicara Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Yogi Ikhsan menegaskan bahwa kegiatan di trotoar melanggar aturan daerah.

“Pasal 24-26 Perda 8/2007 melarang kegiatan usaha di bagian jalan atau trotoar selain tempat yang telah ditetapkan gubernur,” ujar Yogi Ikhsan, Juru Bicara DLH DKI.

Senada dengan itu, Kepala Satpol PP Jakarta Pusat Purnama Hasudungan Panggabean mengakui tantangan dalam menertibkan para pekerja ini yang sering kali berujung pada aksi kucing-kucingan.

“Sering dilakukan penertiban sama Satpol PP Kecamatan Senen. Tapi seperti kucing-kucingan,” ujar Purnama Hasudungan Panggabean, Kasatpol PP Jakarta Pusat.

Meski penertiban rutin dilakukan, ia menyadari perlunya solusi ruang yang lebih permanen bagi mereka.

“Memang perlu kolaborasi untuk menampung mereka agar bisa mencari nafkah di suatu tempat,” kata Purnama Hasudungan Panggabean.

Artikel terkait

Rekomendasi