Biaya operasional tahunan Toyota Fortuner diesel diperkirakan mencapai kisaran Rp33,5 juta hingga Rp60 juta untuk menutupi kebutuhan bahan bakar, pajak, dan perawatan berkala. Estimasi tersebut dihitung berdasarkan pengalaman pengguna mobil SUV ladder frame tersebut pada Senin (11/5/2026).
Kenaikan harga solar non-subsidi menjadi faktor utama yang memengaruhi besarnya pengeluaran rutin pemilik kendaraan ini, sebagaimana dilansir dari Otomotif. Andre, seorang pemilik Toyota Fortuner VRZ lansiran tahun 2021, mengungkapkan bahwa konsumsi bahan bakar jenis Dexlite memerlukan anggaran besar.
“Mobil ini saya gunakan sebagai kendaraan harian sekaligus kendaraan untuk perjalanan jarak jauh, karena secara karakter memang cukup fleksibel untuk kebutuhan dalam kota maupun luar kota. Terutama overland,” kata Andre.
Keunggulan durabilitas menjadi alasan utama pemilihan kendaraan ini meski biaya perawatannya signifikan. Andre menilai aspek reliabilitas sangat penting untuk investasi kendaraan dalam jangka waktu yang lama.
“Fortuner dikenal sebagai mobil yang cukup reliable untuk pemakaian jangka panjang,” ujar Andre.
Pengeluaran untuk bahan bakar dengan asumsi harga Rp26.000 per liter mencapai Rp2 juta sampai Rp4 juta per bulan. Jika diakumulasikan dalam satu tahun, total biaya BBM berada di angka Rp24 juta hingga Rp48 juta dengan rata-rata sekitar Rp36,5 juta.
Selain faktor bahan bakar, komponen biaya lainnya adalah Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) tahunan yang berkisar antara Rp8,5 juta hingga Rp9 juta. Sementara itu, biaya pemeliharaan di bengkel dinilai masih masuk akal untuk kategori SUV besar.
“Untuk servis biasanya sekitar Rp 1 juta sampai Rp 3 juta per 10.000 kilometer,” ujar Andre.
Meskipun biaya kepemilikan tergolong tinggi, posisi duduk yang ergonomis dan ground clearance tinggi memberikan kepercayaan diri lebih bagi pengemudi. Saat ini, pemanfaatan mobil tersebut lebih difokuskan untuk perjalanan antar kota guna menyiasati efisiensi biaya operasional harian.