BRIN Sebut Kunjungan Wisata Religi Indonesia Belum Tergarap Maksimal

BRIN Sebut Kunjungan Wisata Religi Indonesia Belum Tergarap Maksimal

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menilai sektor pariwisata religi di Indonesia memiliki potensi pergerakan yang sangat besar namun hingga saat ini pengelolaannya belum berjalan secara maksimal.

Pandangan tersebut disampaikan oleh Peneliti bidang Khasanah Keagamaan dan Peradaban BRIN, Alfan Firmanto, dalam agenda BRIN Goes to Industry 4 di Kantor BRIN, Jakarta, pada Selasa (17/5/2026), sebagaimana dilansir dari Detik Travel.

Rendahnya angka kunjungan pada sektor tersebut dibuktikan melalui data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025 yang menunjukkan bahwa porsi kunjungan ke destinasi keagamaan masih sangat minim.

"Berdasarkan data BPS tahun 2025 ternyata wisata religi itu menempati tempat yang masih sedikit diminati, hanya 2,45 persen. Ini yang menjadi tanda tanya besar saya," ujar Alfan Firmanto.

Menurut Alfan, potensi besar di sektor ini didukung oleh sebaran tradisi, budaya, hingga artefak keagamaan di berbagai wilayah yang tidak hanya terpaku pada satu komunitas masyarakat saja.

"Saya sudah berkunjung ke beberapa wisata religi terutama di wisata religi berbasis keagamaan Islam ya. Situs-situs Walisongo di Jawa itu selalu ramai, selalu 24 jam nggak pernah sepi, nggak pernah tidur gitu 24 jam nonstop," kata Alfan.

Pengelolaan sektor keagamaan yang baik dinilai mampu memberikan kebermanfaatan luas serta perputaran ekonomi yang tinggi bagi masyarakat sekitar.

"Mereka hanya mati dan berhenti ketika Covid. Dan pergerakan potensi ekonomi itu luar biasa besar, itu uang yang bergerak di sana tuh bisa menghidupi banyak orang," kata Alfan.

Kehadiran wisatawan dalam kegiatan keagamaan juga dipandang beriringan dengan peningkatan pemasukan ekonomi negara melalui perolehan devisa.

"Banyak sebetulnya kegiatan-kegiatan keagamaan itu bisa mendatangkan devisa ya, bisa menarik banyak uang," ujar Alfan.

Beberan mengenai potensi yang dapat digali di Indonesia mencakup aspek budaya keagamaan, bangunan tempat ibadah, hingga makam para tokoh agama.

"Di dalam tradisi Islam, misalnya haul ulama besar itu yang datang bisa ribuan, bahkan di tempat-tempat kayak Maulid Nabi itu bisa luar biasa mendatangkan banyak orang," kata Alfan.

Alfan menambahkan bahwa objek yang bisa dikembangkan tidak terbatas pada masjid kuno saja, melainkan juga bangunan ibadah baru yang kini ramai didatangi pengunjung di berbagai daerah.

"Jadi apa saja yang sebetulnya bisa digali dari wisata religi ini. Tentu tempat ibadah ya, kita tahu bukan hanya masjid-masjid kuno, masjid baru pun kini luar biasa ya sekarang, dulu ada Masjid Kubah Emas di Depok dan belakangan di Jawa Barat di Bandung ada Masjid Al-Jabbar, di Solo ada Masjid Sheikh Zayed," ujar Alfan.

Hingga kini, objek wisata religi seperti Masjid Istiqlal di Jakarta tetap ramai dikunjungi oleh wisatawan, sehingga optimalisasi data perlu dilakukan demi mendongkrak kemajuan sektor pariwisata nasional.

Artikel terkait

Rekomendasi