BYD M6 menjadi salah satu MPV listrik pertama yang berhasil menarik minat pasar otomotif di Indonesia. Kendaraan ini hadir untuk memenuhi kebutuhan keluarga modern yang menginginkan kabin lapang, kenyamanan, serta efisiensi energi ramah lingkungan.
Dilansir dari Suara, mobil ramah lingkungan yang mengaspal sejak pertengahan 2024 ini terus mendapat perhatian karena harga yang kompetitif. Selain itu, kendaraan ini dilengkapi fitur canggih yang ditopang oleh teknologi Blade Battery.
Memasuki tahun 2026, nilai jual serta regulasi pajak dari kendaraan ini tetap menjadi aspek krusial yang dipertimbangkan oleh calon konsumen sebelum melakukan pembelian.
Nilai jual resmi untuk kendaraan ini bervariasi sesuai dengan tipe yang dipilih serta wilayah domisili konsumen. Untuk wilayah Jakarta, harga On The Road (OTR) per Mei 2026 ditetapkan sebagai berikut.
Varian Standard 7-Seater dipasarkan dengan harga Rp 383.000.000. Sementara itu, varian Superior 7-Seater dijual seharga Rp 423.000.000, dan varian tertinggi yaitu Superior Captain 6-Seater dibanderol Rp 433.000.000.
Nominal tersebut sudah mencakup komponen pajak awal pembelian untuk wilayah Jakarta. Pada area lain seperti luar Pulau Jawa, harga OTR dapat mengalami penyesuaian tergantung pada biaya pengiriman kargo dan kebijakan dari diler setempat.
Sejumlah jaringan diler juga menyediakan opsi paket bundling untuk perangkat pengisian daya di rumah (home charger). Layanan tambahan ini dapat menambah biaya sekitar Rp 10 juta hingga Rp 15 juta.
Kendaraan ini membawa nilai jual yang kompetitif di kelas MPV listrik. Melalui harga mulai Rp 383 juta, pembeli memperoleh mobil berkapasitas 7 penumpang dengan daya jelajah mencapai 530 km (NEDC) pada varian tertinggi, serta sistem keselamatan Advanced Driver Assistance System (ADAS).
Spesifikasi Teknis Kendaraan
Mobil ini dirancang dengan dimensi panjang 4.710 mm, lebar 1.810 mm, dan tinggi 1.690 mm, serta jarak sumbu roda sebesar 2.800 mm yang ideal untuk kebutuhan keluarga.
Pada aspek daya, tipe Standard mengemas baterai berkapasitas 55,4 kWh yang mampu menempuh jarak sekitar 420 km. Untuk tipe Superior dan Captain, kapasitas baterai yang disematkan sebesar 71,8 kWh dengan daya jangkau hingga 530 km.
Sektor performa memproduksi tenaga hingga 154 hp dengan torsi puncak mencapai 310 Nm yang responsif. Sistem pengisian daya juga mendukung fitur fast charging DC dengan daya maksimal mencapai 115 kW.
Bagian interior dilengkapi dengan fasilitas layar pusat yang dapat diputar berukuran 12,8 inci. Tipe tertinggi sudah mengadopsi konfigurasi kursi captain seat serta menawarkan ruang bagasi yang fleksibel.
Ketentuan Pajak BYD M6
Regulasi mengenai pajak kendaraan berbasis baterai mengalami penyesuaian yang signifikan. Mengacu pada Permendagri Nomor 11 Tahun 2026, kebijakan insentif berupa pembebasan pajak untuk BEV kini tidak lagi diaplikasikan secara penuh.
Kendati demikian, instrumen PPnBM untuk kendaraan murni listrik tetap dipertahankan sebesar 0 persen. Ketentuan ini menjaga harga beli mobil listrik tetap berada di bawah harga mobil konvensional berbahan bakar bensin.
Untuk pengurusan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB) awal, tarif normal berkisar antara 10 persen hingga 12,5 persen dari nilai jual di Jakarta. Namun, beberapa daerah masih memberlakukan insentif sebagian untuk kendaraan listrik.
Nilai Jual Kendaraan Bermotor (NJKB) untuk unit ini berada pada rentang Rp 200 juta sampai Rp 280 juta. Hal tersebut membuat estimasi biaya BBNKB pertama bisa menyentuh angka puluhan juta rupiah sesuai wilayah.
Mengenai Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) tahunan, perhitungannya mengacu pada nilai NJKB yang dikalikan dengan tarif progresif sebesar 2 persen untuk kepemilikan mobil pertama.
Estimasi PKB tahunan untuk unit ini berkisar antara Rp 4 juta hingga Rp 8 juta sesuai varian. Jika ditambahkan dengan SWDKLLJ sebesar Rp 143.000, total kewajiban pajak tahunan diperkirakan mencapai Rp 6,5 juta hingga Rp 8 juta.
Besaran pajak ini dinilai masih cukup rendah jika dibandingkan dengan kategori MPV bermesin bensin sekelasnya. Perlu dicatat bahwa besaran pajak dapat bervariasi antar provinsi karena regulasi berada di bawah kewenangan kepala daerah setempat.
Kendaraan ini menawarkan total cost of ownership yang efisien bagi konsumen yang ingin beralih dari mobil bensin. Pengeluaran operasional untuk konsumsi daya listrik harian jauh lebih hemat sekaligus membutuhkan biaya perawatan berkala yang minim.