PT BYD Motor Indonesia berkomitmen untuk mempertahankan harga jual produk kendaraan listrik mereka di pasar domestik. Langkah ini diambil di tengah tekanan situasi perekonomian global dan nasional yang sedang tidak menentu, seperti dilansir dari Detik Oto.
Kondisi industri mobil listrik saat ini menghadapi tantangan berat akibat lonjakan harga bahan produksi seperti chip semikonduktor di China. Masalah tersebut kian krusial bagi pasar domestik seiring terjadinya pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
Fluktuasi biaya produksi yang dipicu oleh dinamika politik, geopolitik, serta ekonomi global dan regional diakui telah memberikan dampak nyata pada sektor manufaktur.
"Kami mengerti sekali dan memahami dinamika politik, geopolitik, ekonomi yang terjadi saat ini, baik di Indonesia, baik di global, baik di China dan memang berdampak pada adanya fluktuasi dari cost of production," buka Head of Marketing PR and Government Relations PT BYD Motor Indonesia, Luther Panjaitan, di Tangerang belum lama ini.
Perusahaan otomotif asal China tersebut menegaskan bahwa operasional mereka di Indonesia didasarkan pada strategi investasi jangka panjang yang matang. Evaluasi mendalam telah dilakukan sebelum masuk ke pasar Indonesia demi mengantisipasi volatilitas ekonomi.
"Tapi yang saya sampaikan, BYD di Indonesia investasi jangka panjang dan kita telah memikirkan kondisi-kondisi ini dari masa-masa kita melakukan comprehensive study dan sampai saat ini kami masih tetap positif dan confident dengan strategi yang kami miliki, baik secara produk, pricing, juga promosi-promosi yang kami akan lakukan. Sampai saat ini belum ada perubahan dengan adanya situasi-situasi tersebut," sambung Luther.
Kendati fluktuasi nilai tukar rupiah berpotensi memicu penyesuaian harga kendaraan di tingkat konsumen, produsen mobil listrik ini belum merencanakan kenaikan harga dalam jangka pendek.
"Ya memang kita cukup prihatin dengan fluktuasi nilai tukar rupiah dan itu memang sedikit banyak, tentu saja pasti berdampak khususnya di sisi manufaktur dan produksi. Tapi komitmen BYD jangka panjang sampai saat ini, kami belum ada informasi dan strategi khusus menindaklanjuti fluktuasi dari kenaikan nilai tukar rupiah. Kita masih pantau dulu situasinya," ungkap Luther.