PT BYD Motor Indonesia memutuskan untuk tidak mengubah harga jual lini kendaraan listrik mereka di tengah tekanan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang telah menyentuh angka Rp 17.800, seperti dilansir dari Otomotif pada Selasa (26/5/2026).
Lonjakan mata uang asing tersebut mulai menekan industri otomotif nasional karena memicu kenaikan biaya pengadaan komponen dan peralatan produksi impor. Lonjakan biaya ini berpotensi menaikkan harga kendaraan di pasar domestik jika kondisi tersebut terus berlangsung dalam jangka panjang.
Head of Public & Government Relations PT BYD Motor Indonesia, Luther Panjaitan mengonfirmasi bahwa gejolak ekonomi saat ini memberikan dampak yang cukup signifikan bagi para pelaku industri.
"Ya, kami mengerti dinamika ekonomi saat ini yang dialami oleh Indonesia dan memang cukup berdampak," ujar Luther Panjaitan.
Luther menjelaskan bahwa efek negatif dari pergerakan kurs ini sangat dirasakan oleh korporasi yang mengandalkan perdagangan internasional untuk mendatangkan bahan baku dari luar negeri.
"Khususnya kepada perusahaan yang melakukan bisnisnya berbasis international trade, contohnya adalah komponen serta beberapa equipment yang kami harus transaksikan dengan pihak luar," kata Luther Panjaitan.
Kendati beban operasional meningkat akibat konversi mata uang, produsen asal China ini memilih untuk mempertahankan komitmen mereka dalam menjaga stabilitas pasar kendaraan roda empat di tanah air.
"Namun sampai saat ini komitmen BYD untuk tetap menjaga kepercayaan masyarakat dan tetap fokusnya adalah berkontribusi lebih kepada industri sehingga kami belum memutuskan apa-apa terkait hal itu (perubahan harga)," ucap Luther Panjaitan.
Kebijakan tersebut membuat banderol operasional produk elektrifikasi BYD tetap kompetitif bagi konsumen domestik. Saat ini, BYD M6 dipasarkan mulai Rp 383 juta hingga Rp 433 juta, sedangkan tipe sedan BYD Seal ditawarkan pada kisaran Rp 639 juta sampai Rp 750 juta.
Varian SUV BYD Sealion 7 memiliki label harga sekitar Rp 629 juta hingga Rp 719 juta, sementara unit dengan harga paling terjangkau yakni BYD Atto 1 dijual mulai dari Rp 199 juta. Penyesuaian nilai jual kemungkinan baru akan dipertimbangkan kembali oleh para pelaku industri jika depresiasi mata uang rupiah terus berlanjut ke depan.