Chery Tanggapi Rencana Insentif Lebih Besar Mobil Listrik Baterai Nikel

Chery Tanggapi Rencana Insentif Lebih Besar Mobil Listrik Baterai Nikel

Produsen otomotif Chery memantau ketat rencana pemerintah terkait pemberian insentif yang lebih besar bagi mobil listrik berbasis baterai nikel di Jakarta pada Senin (18/5/2026), mengingat mayoritas produknya saat ini masih menggunakan baterai Lithium Ferro Phosphate (LFP).

Langkah strategis lanjutan belum diambil oleh pihak pabrikan karena regulasi resmi mengenai skema tersebut masih dinantikan, sebagaimana dilansir dari Otomotif. Saat ini perusahaan tetap memfokuskan investasi di Indonesia melalui skema perakitan lokal secara completely knocked down (CKD) untuk jajaran kendaraan elektrifikasinya.

Analisis internal masih terus berjalan di tingkat tim sembari menunggu kepastian regulasi dari pengambil kebijakan. Penegasan mengenai sikap responsif perusahaan disampaikan langsung oleh pimpinan manajemen pabrikan asal China tersebut.

"Kita belum ada aturan fix. Masih belum punya aturan pasti. Kita juga masih follow up, looking closely, kalau tim kita juga masih analisis," ujar Zeng Shuo, Presiden Direktur Chery Group Indonesia.

Pihak manajemen menambahkan bahwa belum diterimanya kabar terbaru membuat perusahaan memilih bersikap pasif dalam mengubah strategi produk.

"Tapi sekarang masih belum kabar, jadi kami masih tunggu update juga," kata Zeng Shuo, Presiden Direktur Chery Group Indonesia.

Pembahasan formal mengenai penyesuaian spesifikasi kendaraan hanya akan dilakukan setelah adanya kejelasan hitam di atas putih. Kebijakan produk baru baru bisa dirumuskan pasca terbitnya pengumuman resmi pemerintah.

"Nanti harusnya ada informasi lebih resmi dan lebih jelas, kita baru bisa membahas untuk hal ini," kata Zeng Shuo, Presiden Direktur Chery Group Indonesia.

Formulasi insentif baru ini sebelumnya diungkapkan oleh kementerian terkait untuk mendorong industri hilirisasi nasional. Skema pemisahan subsidi dipastikan akan membedakan besaran bantuan antara kendaraan listrik berbasis nikel dengan non-nikel.

"Itu untuk yang utamanya EV. Bukan hybrid. Jadi yang baterainya berdasarkan nikel dan non-nikel akan berbeda skemanya. Tapi yang itu nanti (dijelaskan) Menteri Perindustrian," ujar Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan.

Penetapan prioritas subsidi ditujukan guna memastikan penyerapan komoditas lokal berjalan optimal dalam rantai pasok global. Keberpihakan anggaran dialokasikan secara spesifik untuk memperkuat ekosistem manufaktur baterai dalam negeri.

"Kenapa saya pakai nikel yang besar subsidinya, karena supaya baterai kita kepakai," ucap Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan.

Artikel terkait

Rekomendasi