Paparan suhu panas ekstrem dari sinar matahari secara langsung dilaporkan dapat mempercepat proses degradasi atau penurunan kualitas baterai pada kendaraan listrik. Fenomena ini menjadi perhatian penting bagi pemilik mobil listrik di Indonesia seiring dengan meningkatnya populasi kendaraan ramah lingkungan tersebut pada Rabu (13/5/2026).
Kesehatan komponen penyimpan daya ini dipengaruhi oleh kebiasaan parkir dan pola pengisian daya harian pengguna. Dilansir dari Otomotif, stabilitas komponen internal baterai sangat bergantung pada penjagaan suhu operasional yang ideal agar reaksi kimia di dalamnya tidak rusak.
Pendiri EVSafe, Mahaendra Gofar, memberikan penegasan bahwa panas merupakan ancaman utama bagi daya tahan jangka panjang sel baterai. Ketika mobil diparkir di area terbuka yang panas dalam waktu lama, temperatur baterai akan melonjak melampaui batas normalnya.
"Panas ekstrem itu musuh utama baterai. Kalau terlalu sering terpapar suhu tinggi, proses degradasinya bisa lebih cepat dibanding pemakaian normal," ujar Mahaendra Gofar, Pendiri EVSafe.
Selain faktor lingkungan, degradasi diperparah oleh perilaku pengguna saat melakukan pengisian daya. Kebiasaan mengisi daya hingga kapasitas 100 persen atau membiarkan daya kosong hingga nol persen secara berulang dinilai merusak struktur kimia baterai.
Gofar juga menyoroti risiko penggunaan fitur pengisian cepat yang tidak terkontrol. Aliran arus listrik yang sangat tinggi dari perangkat fast charging menghasilkan panas tambahan yang signifikan jika dilakukan tanpa memberikan jeda pendinginan yang cukup bagi sistem kendaraan.
Meskipun performa baterai akan menurun secara alami seiring usia dan frekuensi pemakaian, tindakan pencegahan tetap diperlukan. Pemilik disarankan untuk memprioritaskan tempat parkir yang teduh dan mengelola siklus pengisian daya secara bijak guna memperpanjang usia pakai kendaraan.