Kabupaten Klaten di Jawa Tengah menyimpan keunikan tersendiri melalui sebuah pedukuhan bernama Dukuh Mao. Dilansir dari Detik Travel, dukuh ini mencuri perhatian karena namanya yang sangat singkat, yakni hanya terdiri dari tiga huruf.
Nama Mao tersebut bukan tanpa makna karena konon berasal dari bahasa Jawa Kawi yang berarti harimau. Penamaan yang unik ini menjadikan dukuh tersebut sebagai salah satu wilayah dengan nama terpendek di wilayah Klaten.
Secara administratif, Dukuh Mao memiliki keunikan lain karena wilayahnya terbagi ke dalam dua desa yang berada di kecamatan berbeda. Sebagian masuk ke wilayah Desa Jambeyan di Kecamatan Karanganom, sementara sebagian lainnya merupakan bagian dari Desa Manjungan di Kecamatan Ngawen.
Meskipun memiliki nama yang unik, Dukuh Mao bukanlah sebuah perkampungan yang terpencil atau sulit diakses. Letaknya cukup strategis karena berada tepat di tepi Jalan Raya Klaten-Jatinom, kawasan pinggiran Kota Kecamatan Jatinom.
Kondisi alam di sekitar pedukuhan ini sangat asri dengan dominasi hamparan persawahan padi di sisi timur, utara, dan selatan. Pengairan sawah tersebut didukung oleh keberadaan umbul atau mata air alami yang mengalir sepanjang tahun tanpa pernah kering.
Pada sisi barat pedukuhan, terdapat akses jalan raya utama serta objek wisata air yang populer di Klaten. Kawasan tersebut berdekatan dengan destinasi wisata Umbul Susuan dan Jolotundo yang sering dikunjungi wisatawan.
Kondisi Sosial Masyarakat
Masyarakat yang tinggal di Dukuh Mao memiliki mata pencaharian yang beragam untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Penduduk setempat berprofesi sebagai petani, buruh, wiraswasta, hingga bekerja sebagai pegawai negeri sipil (PNS).
Pembagian wilayah dukuh yang masuk ke dua desa berbeda ditegaskan oleh salah satu warga setempat. Siti Rahayu (80), warga Dukuh Mao dari Desa Jambeyan, memberikan penjelasan mengenai batas wilayah administratif pemukiman tersebut.
"Yang selatan jalan sampai barat sana ikut Mao yang masuk Desa Manjungan, Kecamatan Ngawen tapi yang Utara jalan masuk Desa Jambeyan, Kecamatan Karanganom. Tapi sama-sama namanya Mao," ungkap Siti Rahayu.
Perbedaan administrasi ini tidak mengubah identitas kolektif warga yang tetap menggunakan nama Mao sebagai identitas tempat tinggal mereka. Nama yang singkat namun sarat makna sejarah ini tetap dipertahankan secara turun-temurun oleh masyarakat setempat.