Pengiriman sepeda motor secara utuh atau completely built up (CBU) dari Indonesia menunjukkan performa yang menggembirakan pada April 2026. Tren positif ini kembali muncul setelah industri sempat mengalami penurunan pengiriman pada bulan sebelumnya.
Volume ekspor kendaraan roda dua buatan dalam negeri ini tercatat mengalami pertumbuhan yang sangat signifikan jika dibandingkan dengan capaian pada periode yang sama di tahun lalu. Data terbaru mencerminkan daya saing produk lokal yang tetap terjaga di kancah internasional.
Berdasarkan data Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) yang dilansir dari Otomotif, total ekspor motor CBU pada April 2026 menyentuh angka 52.411 unit. Jumlah ini memperlihatkan kenaikan sebesar 7 persen daripada perolehan Maret 2026 yang berjumlah 48.970 unit.
Pertumbuhan yang lebih tajam terlihat saat membandingkan performa secara tahunan atau year on year (YOY). Pada April 2025, ekspor motor CBU tercatat hanya sebesar 38.254 unit, yang berarti pengiriman pada April 2026 melesat hingga 37 persen.
Lonjakan performa pada bulan April ini memberikan dampak positif bagi rapor kumulatif industri otomotif nasional. Sepanjang periode Januari hingga April 2026, total sepeda motor yang telah dikapalkan ke luar negeri mencapai 211.993 unit.
Capaian tersebut menandakan peningkatan sebesar 22,5 persen secara year to date (YTD) jika disandingkan dengan periode empat bulan pertama tahun 2025. Sebagai perbandingan, tahun lalu pada periode yang sama Indonesia hanya mengekspor 173.029 unit motor.
Standar kualitas produksi menjadi salah satu kunci keberhasilan ini. Sebagai gambaran, proses perakitan dan kontrol kualitas di pabrik Indonesia, seperti pada produsen Yamaha, diklaim memiliki standar yang sama dengan pabrik pusat di Iwata, Jepang.
Analisis Tantangan dan Proyeksi Industri
Sigit Kumala selaku Ketua Bidang Komersial AISI memberikan pandangannya mengenai kondisi pasar saat ini. Ia menjelaskan bahwa faktor geopolitik dan dinamika ekonomi global memegang peranan krusial terhadap laju ekspor otomotif.
"Produk motor kita sebenarnya sangat kompetitif, apalagi dengan rupiah yang melemah, harusnya lebih bersaing," ucap Sigit.
Meski memiliki produk yang kompetitif di pasar global, pihak asosiasi tetap memberikan catatan mengenai tantangan eksternal yang ada. Ketidakpastian situasi ekonomi dunia yang belum pulih total masih menjadi ganjalan bagi akselerasi ekspor yang lebih tinggi.
Mengenai target untuk sepanjang tahun ini, Sigit memproyeksikan angka yang moderat tanpa kenaikan yang drastis dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini disebabkan oleh kondisi lingkungan global yang dinilai masih belum sepenuhnya mendukung ekspansi besar-besaran.
"(Target ekspor 2026) kurang lebih sama dengan 2025. Tidak berharap ada peningkatan signifikan karena kondisi geopolitik global juga belum mendukung," kata dia.