Mengenal Fafaru Kuliner Ekstrem Beraroma Menyengat Khas Tahiti

Mengenal Fafaru Kuliner Ekstrem Beraroma Menyengat Khas Tahiti

Tahiti yang merupakan pulau terbesar di wilayah Polinesia Prancis tidak hanya tersohor karena keindahan alamnya yang menakjubkan. Kawasan di Pasifik Selatan ini juga menawarkan pengalaman bersantap yang ekstrem melalui hidangan ikonik bernama fafaru.

Dilansir dari Detik Travel, fafaru dikenal memiliki aroma yang sangat menyengat dan tajam layaknya ikan busuk. Meski baunya sering membuat para wisatawan enggan mendekat, cita rasa yang ditawarkan justru diklaim sangat kontras dengan aromanya.

Hidangan tradisional ini memiliki tekstur yang lembut dengan sensasi rasa yang sedikit manis. Keunikan tersebut menjadikan fafaru sebagai salah satu santapan paling populer bagi masyarakat lokal di Kepulauan Tahiti.

Fafaru umumnya menggunakan irisan ikan mentah sebagai bahan dasar utama. Meskipun tuna sering menjadi pilihan, banyak warga lokal lebih menyukai haura atau ikan todak karena karakteristik dagingnya yang dianggap lebih awet saat diproses.

Keunikan fafaru terletak pada cairan perendamnya yang terdiri dari campuran air laut dan fermentasi udang air tawar. Kepala udang yang telah dihancurkan dimasukkan ke dalam toples kaca berisi air laut untuk memulai proses pengolahan.

Campuran udang dan air laut tersebut idealnya diletakkan di bawah paparan sinar matahari selama dua hingga tiga hari. Proses ini bertujuan untuk memicu fermentasi alami yang menghasilkan aroma kuat yang menjadi ciri khas utama fafaru.

Tahap Fermentasi Ikan

Setelah cairan fermentasi udang siap, campuran tersebut kemudian disaring hingga bersih. Irisan ikan tuna atau haura dimasukkan ke dalam cairan hasil saringan untuk menjalani proses fermentasi tahap kedua.

Durasi perendaman ikan bervariasi antara tiga hingga delapan jam, tergantung pada tingkat kekuatan rasa yang ingin dicapai. Semakin lama ikan dibiarkan dalam cairan, maka aroma dan rasa fermentasinya akan semakin meresap ke dalam daging.

Para penikmat kuliner biasanya menyantap fafaru bersama pelengkap tradisional lainnya untuk menyeimbangkan rasa. Mitihue atau saus santan fermentasi menjadi pendamping utama yang menyempurnakan hidangan ini.

Mitihue sendiri merupakan bumbu tradisional yang dibuat dari ekstraksi santan kelapa parut. Santan tersebut dibiarkan berfermentasi secara alami selama beberapa hari hingga teksturnya mengental dan memiliki rasa asam yang tajam.

Selain mitihue, fafaru juga kerap dinikmati bersama talas, ubi jalar, hingga 'uru atau buah sukun. Perpaduan bahan-bahan lokal ini menciptakan harmoni rasa yang sangat dihargai dalam budaya kuliner Polinesia.

Pada masa lalu, fafaru merupakan hidangan yang hanya disajikan pada acara-acara khusus atau perayaan besar di Tahiti. Namun kini, tradisi tersebut telah bergeser dan banyak keluarga di Tahiti yang menyiapkan fafaru sebagai menu makan siang rutin pada hari Minggu.

Artikel terkait

Rekomendasi