Deru kendaraan yang memadati Jalan Salemba Raya, Jakarta Pusat, menjadi saksi bisu eksistensi jasa cat duco pinggir jalan. Di antara kemacetan, para penyedia jasa ini tetap sigap menawarkan perbaikan bodi kendaraan kepada para pengendara yang melintas pelan.
Papan promosi bertuliskan "CAT DUCO MOBIL MOTOR" hingga "LAS KETOK" terpampang jelas dengan warna merah mencolok di sepanjang trotoar. Fenomena ini tidak hanya ditemukan di Salemba, tetapi juga merambah kawasan Matraman hingga Kramat Raya, seperti dikutip dari Megapolitan.
Kehadiran jasa ini menjadi bagian penting dari ekonomi informal ibu kota yang terus bertahan melawan gempuran bengkel modern. Berdasarkan pantauan pada Rabu (13/5/2026), aktivitas para pekerja ini menyatu dengan aroma thinner dan kebisingan lalu lintas Jakarta.
Meskipun sekilas terlihat seperti bengkel dadakan di trotoar, proses pengecatan sebenarnya dilakukan di bengkel-bengkel kecil yang tersembunyi di dalam gang pemukiman. Para pekerja yang berdiri di pinggir jalan berperan sebagai pencari pelanggan.
"Kalau sudah deal, mobil dibawa ke bengkel. Ngecatnya tetap di bengkel, bukan di sini," ujar Luhur (32), seorang pekerja jasa cat duco di kawasan Salemba.
Luhur menjelaskan bahwa dirinya sudah hampir sepuluh tahun menggeluti pekerjaan ini. Ia memulai kariernya dari membantu proses pengamplasan hingga kini mahir dalam teknik pengecatan dan mencari konsumen secara langsung.
"Dulu cuma bantu amplas sama dempul. Lama-lama belajar nyemprot cat, terus sekarang ikut cari pelanggan juga di jalan," kata dia.
Mengenai penghasilan, para pekerja ini menghadapi ketidakpastian setiap harinya. Tarif yang ditawarkan untuk perbaikan baret ringan berkisar antara Rp 500.000 hingga Rp 700.000 per panel, sementara kerusakan lebih berat bisa mencapai Rp 2 juta.
"Kadang sehari bisa dapat dua sampai tiga mobil. Kadang seminggu kosong juga ada," ujar dia.
"Kalau full body beda lagi hitungannya. Tapi kebanyakan orang ke sini karena mau murah dan cepat," tutur dia.
Sejarah dan Persaingan yang Kian Ketat
Jasa cat duco bukan merupakan fenomena baru di Jakarta. Maman (50), pekerja senior di Salemba Raya, menyebutkan bahwa usaha ini sudah menjamur sejak puluhan tahun silam, terutama saat krisis ekonomi 1998 melanda tanah air.
"Dari tahun 1970-an sudah ada. Pas zaman krisis ekonomi 1998 makin banyak orang turun ke jalan cari kerja begini," ujar Maman.
Maman yang sudah bekerja sejak 1996 mengaku sempat menimba ilmu di bengkel besar sebelum memutuskan terjun ke jalan. Kini, ia harus menghadapi persaingan yang semakin sengit karena banyaknya jumlah pencari pelanggan dalam satu ruas jalan yang sama.
"Saya juga pernah kerja di bengkel besar, termasuk Toyota," katanya.
Rony (24), pekerja di kawasan Matraman, menambahkan bahwa penambahan jumlah penyedia jasa tidak selalu berbanding lurus dengan jumlah pelanggan. Kondisi sepi sering kali membuat mereka tidak membawa pulang penghasilan sama sekali.
"Yang nyari pelanggan ramai, tapi mobilnya belum tentu ada," ujarnya.
"Kadang satu mobil, kadang dua mobil. Kadang seminggu kosong," kata Rony.
Sementara itu, Asep (48) yang telah bekerja selama 26 tahun di Jalan Kramat Raya memilih bekerja sama dengan bengkel kecil karena keterbatasan modal. Ia mendapatkan komisi sekitar Rp 100.000 hingga Rp 300.000 untuk setiap kendaraan yang berhasil didapatkan.
"Nanti kalau ada mobil yang mau benerin baret atau penyok, kita arahkan ke bengkel. Kita dapat bagian dari situ," katanya.
"Dulu masih sedikit yang begini, belum seramai sekarang," ujar Asep.
Analisis Pengamat dan Masa Depan Sektor Informal
Pengamat otomotif Bebin Djuana menilai kecepatan dan harga menjadi daya tarik utama jasa ini. Layanan tersebut sering kali menjadi pilihan bagi pemilik kendaraan yang tidak memiliki asuransi atau membutuhkan perbaikan mendesak dengan biaya rendah.
"Cat duco pinggir jalan sudah lama berlangsung, bukan tren baru," ujar Bebin.
Bebin menambahkan bahwa kualitas hasil kerja sangat bergantung pada kesepakatan harga dan material yang digunakan. Meski bekerja di pinggir jalan, banyak dari mereka memiliki keterampilan mumpuni namun terkendala modal usaha.
"Biasanya yang memanfaatkan jasa perbaikan pinggir jalan mereka yang tidak melindungi kendaraan dengan asuransi, atau sopir yang takut kena damprat bos akibat serempetan di jalan," kata dia.
"Tentu biayanya juga standar pinggir jalan, dengan konsekuensi kualitas pekerjaan ala kadarnya dan tidak tahan lama," ujar Bebin.
"Sering kali juga karena desakan konsumen yang menekan biaya hingga memaksa memakai material berkualitas rendah. Ada harga ada barang," ujar Bebin.
"Yang mengerjakan sebetulnya tukang cat yang punya pengalaman dan cukup keterampilan, namun tidak didukung modal yang cukup untuk melengkapi diri agar mendapatkan hasil yang baik," katanya.
Dari sisi ekonomi, M Rizal Taufikurahman dari Indef melihat fenomena ini sebagai cermin daya beli masyarakat dan besarnya sektor informal di Jakarta. Data BPS Februari 2026 menunjukkan sekitar 1,98 juta warga Jakarta bekerja di sektor informal.
"Dalam kondisi daya beli tertekan, banyak konsumen lebih memilih cukup rapi dan murah daripada layanan sempurna tetapi mahal," ujarnya.
"Jakarta punya basis kendaraan besar, mobil penumpang saja sekitar 2,33 juta unit pada 2024, sehingga kebutuhan perbaikan bodi dan kosmetik kendaraan sangat besar," kata Rizal.
"Data BPS terbaru menunjukkan pekerja informal Jakarta mencapai sekitar 1,98 juta orang atau 38,13 persen dari penduduk bekerja pada Februari 2026," kata Rizal.
"Pemerintah bisa membuat zona usaha otomotif informal, pelatihan K3, akses KUR mikro, dan kemitraan dengan bengkel formal," katanya.
Sudut Pandang Sosial dan Tantangan Penertiban
Sosiolog Rakhmat Hidayat mengkategorikan para pekerja ini sebagai "prekariat urban". Mereka memiliki keterampilan teknis namun hidup dalam ketidakpastian ekonomi serta keterbatasan akses ke industri formal.
"Kota besar seperti Jakarta menjadi ruang bertemunya arus migrasi, kebutuhan ekonomi, dan keterbatasan lapangan kerja formal," ujar Rakhmat.
"Banyak pekerja memiliki keterampilan teknis, tetapi tidak memiliki modal, sertifikasi, atau akses masuk ke industri formal," kata dia.
"Tidak semua orang mampu mengakses bengkel premium. Di sinilah jasa cat duco menemukan pasarnya," kata Rakhmat.
Meski memiliki pasar yang loyal, keberadaan mereka di trotoar sering memicu penertiban oleh Satpol PP karena melanggar aturan ketertiban umum. Namun, penegakan aturan sering kali berakhir dengan aksi kucing-kucingan antara petugas dan pekerja.
"Kegiatan cat duco pinggir jalan pada umumnya tidak sesuai ketentuan dan seharusnya dilakukan penindakan oleh instansi terkait ketertiban umum," kata Yogi Ikhsan, Juru Bicara Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta.
Kepala Satpol PP Jakarta Pusat, Purnama Hasudungan Panggabean, mengakui bahwa pendekatan represif saja tidak akan menuntaskan masalah tanpa adanya solusi kolaboratif untuk merelokasi para pekerja tersebut.
"Tapi seperti kucing-kucingan," ujar Purnama.
"Memang perlu kolaborasi untuk menampung mereka agar bisa mencari nafkah di suatu tempat," kata dia.