Kelompok generasi muda tercatat mendominasi angka kunjungan di berbagai kebun raya di Indonesia sepanjang tahun 2025 hingga kuartal pertama tahun 2026. Pergeseran tren profil wisatawan ini terungkap dalam konferensi pers Sunset di Kebun di Jakarta Selatan pada Selasa (5/5/2026).
Managing Direktur PT Mitra Natura Raya, Marga Anggrianto menjelaskan adanya perubahan karakteristik pengunjung yang sebelumnya didominasi oleh segmen keluarga. Dilansir dari Detik Travel, tren kunjungan kini bergeser ke arah estetika visual dan gaya hidup yang lebih modern.
"Kita melihat terjadi pergeseran. Dulu tuh banyak pengunjung orang-orang tua bersama anak-anak ya, keluarga ya," kata Marga Anggrianto, Managing Direktur PT Mitra Natura Raya.
Perubahan ini terlihat dari tujuan para pengunjung muda yang datang dengan persiapan khusus demi konten di media sosial. Marga menilai fenomena kunjungan yang terencana dengan gaya visual tertentu tersebut merupakan hal baru di kawasan konservasi.
"Tapi harus kita akui, sekarang, banyak yang datang ke kebun raya itu gayanya sudah niat, unyu-unyu, Instagrammable. Itu yang kita enggak lihat sebelumnya," sambung Marga Anggrianto.
Data operasional menunjukkan total pengunjung di empat kebun raya yang dikelola PT Mitra Natura Raya mencapai 1,8 juta orang selama tahun 2025. Angka tersebut meliputi kunjungan di Kebun Raya Bogor, Cibodas, Purwodadi, serta Kebun Raya Bali.
| Peringkat | Nama Kebun Raya |
|---|---|
| 1 | Kebun Raya Bogor |
| 2 | Kebun Raya Bali |
| 3 | Kebun Raya Cibodas |
| 4 | Kebun Raya Purwodadi |
Meskipun jumlah pengunjung dinilai stabil pada kisaran 1,5 juta hingga 1,8 juta orang per tahun, angka kunjungan belum pernah menembus target dua juta orang. Inovasi pengelolaan dilakukan dengan membatasi akses kendaraan pribadi di dalam area kebun raya.
"Dulu kebun raya itu mobil bebas masuk. Jadi waktu kami kelola, kami mencoba satu inovasi kecil saja, mobil kami batasi, langsung parkir, enggak boleh keliling," ujar Marga Anggrianto.
Sebagai gantinya, pihak pengelola menyediakan fasilitas mobilitas ramah lingkungan seperti bus wisata, skuter, hingga golf cart. Hal ini bertujuan agar pengunjung dapat lebih menikmati nilai lingkungan dengan berjalan kaki sembari memanfaatkan kelas edukasi seperti terrarium.
"Tapi setelah itu, orang akhirnya menikmati nilai lingkungan sesungguhnya dengan berjalan. Kita tambahkanlah produk-produk travel bus, skuter, golf cart, dan aktivitas lainnya," sambung Marga Anggrianto.
Peningkatan minat anak muda juga didorong oleh penyelenggaraan festival musik Sunset di Kebun yang telah memasuki tahun keempat pada 2026. Agenda rutin ini menciptakan lonjakan kunjungan signifikan pada bulan-bulan pelaksanaannya.
"Jadi, setiap kali ada Sunset di Kebun, emang ada lonjakan pengunjung di bulan tersebut. Jadi, kalau kita combine (gabungkan) selama setahun, berarti ada peningkatan pengunjung efek dari Sunset di Kebun," ujar Marga Anggrianto.
Data internal mencatat sedikitnya 200.000 orang telah menghadiri festival tersebut selama tiga tahun terakhir. Untuk tahun 2026, penyelenggara menargetkan sebanyak 60.000 pengunjung dapat terpapar kampanye edukasi melalui acara musik tersebut.
"Setelah acara Sunset di Kebun berjalan selama empat tahun, kita melihat ada tren kelas edukasi berbayar yang reguler di kebun raya, itu (pengunjungnya) meningkat," ucap Marga Anggrianto.
Pihak pengelola menekankan bahwa festival musik ini dirancang sebagai instrumen komunikasi untuk menyampaikan pesan pelestarian lingkungan kepada pengunjung. Target 60.000 orang diharapkan tidak hanya sekadar berwisata, tetapi juga mendapatkan paparan edukasi secara efektif.
"Kami menganggap Sunset di Kebun ini bukan sebagai konser musik, tapi sebagai campaign komunikasi edukasi. Jadi, kami menganggap kunjungannya itu, anggaplah jumlahnya 60.000 pengunjung, efektif terpapar message edukasi kita. Bukan hanya wisata," pungkas Marga Anggrianto.