Jaringan diler Haka Auto mulai mengeksplorasi pasar kendaraan listrik ke berbagai kota lapis kedua di Indonesia untuk mendekatkan layanan bagi konsumen daerah pada Senin (25/5/2026).
Langkah ekspansi tersebut diambil sebagai bagian penting dalam memperluas ekosistem kendaraan listrik nasional, sebagaimana dilansir dari Otomotif, di tengah perhatian pasar terhadap model Denza D9.
Pihak manajemen menyatakan komitmen penuh untuk memfasilitasi kehadiran infrastruktur otomotif ini di setiap wilayah yang dinilai memiliki potensi pertumbuhan tinggi.
"Kami dukung program ATPM, yang betul-betul harus ada di setiap kota yang potensial. Bangun cabang sampai ke daerah-daerah, jadi kami sudah masuk ke second city memang mulai tahun ini," ujar CEO Haka Auto, Hariyadi Kaimuddin.
Hariyadi menjelaskan bahwa fokus pengembangan infrastruktur penjualan ini sengaja digeser ke wilayah-wilayah yang lebih kecil setelah sebelumnya berpusat di megapolitan.
"Sebelumnya kan mostly di Jakarta, di Ibu Kota provinsi doang. Tahun ini sudah masuk ke kota-kota kedua gitu. Jadi kayak tadi di Jawa Tengah, kami bulan depan itu sudah masuk Semarang, Solo, Magelang sama Klaten. Dan sudah kota-kota kecil, kayak Pati," kata Hariyadi.
Selain ekspansi di wilayah Jawa Tengah, Haka Auto juga tengah mempersiapkan titik penjualan baru di wilayah Jawa Timur, termasuk pengerjaan di kota Mojokerto dan Surabaya.
"Dan juga sebenarnya kami lagi persiapkan di Jawa Timur, di Mojokerto, Surabaya lagi persiapan kami bangun," ucap Hariyadi.
Saat ini korporasi telah mengoperasikan total 20 fasilitas diler BYD dan Denza, dengan target penambahan unit yang dijadwalkan rampung dalam beberapa bulan ke depan.
"Yang sudah jadi itu 20 diler, tapi kita lagi bangun juga beberapa. Jadi by Juli harusnya bisa jadi 30-an diler," kata Hariyadi.
Perusahaan menegaskan pandangan positif mereka terhadap prospek industri otomotif ramah lingkungan di dalam negeri untuk jangka panjang, mengesampingkan hambatan ekonomi makro saat ini.
"Sekali lagi kami kan melihatnya buat jangka panjang. Badai pasti berlalu lah. Ini fluktuasi (kondisi ekonomi, nilai tukar rupiah, dan lain-lain) kami harap memang seperti krisis-krisis lainnya, semua juga akan lewat gitu," ujar Hariyadi.
Komitmen investasi ini diarahkan untuk keberlanjutan bisnis jangka panjang, bukan sekadar memprioritaskan pengembalian modal dalam waktu singkat.
"Bangun showroom gitu bukan untuk mengejar untuk satu tahun balik modal kan, memang harus pikir panjang," kata Hariyadi.