Beban operasional pemilik kendaraan roda dua kembali meningkat menyusul lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi pada Mei 2026. Selain faktor bahan bakar, sektor suku cadang kini turut terdampak dengan adanya kenaikan harga ban motor dari berbagai merek di pasaran.
Pemantauan harga terbaru di kawasan Jakarta dan sekitarnya menunjukkan tren kenaikan rata-rata sebesar Rp 50.000 dibandingkan periode sebelumnya, seperti dilansir dari Otomotif. Untuk kategori ban merek premium, lonjakan harga bahkan tercatat menyentuh angka Rp 100.000 hingga Rp 200.000.
Kenaikan banderol ini dipicu oleh melambungnya biaya bahan baku industri ban yang sudah terjadi sejak awal tahun ini. Penyesuaian harga tersebut dinilai tidak terhindarkan guna menutupi tingginya biaya produksi di tingkat pabrikan.
Direktur Marketing PT Suryaraya Rubberindo Industries, Zandhy Utama, menjelaskan bahwa harga jual ban harus mengikuti perkembangan kondisi material produksi saat ini.
"Pastinya untuk harga ban sendiri akan menyesuaikan dengan kenaikan materialnya," ujar Zandhy.
Menurutnya, hampir seluruh komponen yang menjadi bahan baku utama pembuatan ban mengalami kenaikan harga. Kondisi tersebut memberikan dampak langsung terhadap penetapan harga jual produk ban di tingkat pengecer maupun distributor.
Keluhan serupa juga diungkapkan oleh Sales Domestik PT Industri Karet Deli, Gunawan, yang menyebutkan bahwa saat ini sedang terjadi penyesuaian nilai jual pada produk ban merek Swallow.
"Ya, saat ini ada penyesuaian harga juga. (Karena) harga bahan baku yang cenderung naik. (Harga ban) naik sampai 5 persen," ucap Gunawan.
Langkah penyesuaian ini diambil oleh hampir seluruh produsen, mencakup produk kelas entry level hingga ban premium. Bagi pemilik motor harian seperti Honda BeAT dan Vario, harga ban kini berada pada rentang Rp 200.000 sampai Rp 400.000 per unit.
Sementara itu, pengguna motor bongsor seperti Yamaha NMAX dan Honda PCX harus merogoh kocek lebih dalam. Ban premium dari merek internasional seperti Michelin atau Metzeler untuk ukuran tertentu kini sudah menembus angka Rp 800.000.
Meskipun terjadi kenaikan harga, tingkat permintaan pasar terhadap ban motor dilaporkan tetap stabil. Hal ini dikarenakan ban merupakan komponen fast moving yang memiliki batas usia pakai dan sangat krusial bagi keselamatan pengendara.
Situasi pada tahun 2026 ini menuntut para pemilik sepeda motor untuk lebih cermat dalam mengelola anggaran perawatan kendaraan. Selain menghadapi tekanan harga energi, pengguna jalan kini harus mengantisipasi kenaikan biaya pada komponen pendukung lainnya yang bersifat wajib ganti secara berkala.