Stok mobil bermesin diesel di sejumlah diler kendaraan bekas wilayah Depok dan sekitarnya mulai mengalami perlambatan penjualan akibat lonjakan harga bahan bakar minyak jenis solar pada Selasa (12/5/2026). Tren negatif ini dipicu oleh kekhawatiran konsumen terhadap efisiensi biaya operasional kendaraan di masa depan.
Kondisi pasar otomotif saat ini menunjukkan penurunan minat yang signifikan terhadap model populer seperti Toyota Fortuner dan Mitsubishi Pajero Sport. Dilansir dari Otomotif, sejumlah pedagang terpaksa menahan stok unit lebih lama dibandingkan periode sebelumnya akibat sepinya calon pembeli yang melirik mesin diesel.
Pemilik Willies Mobil di Depok, Singgih, menjelaskan bahwa perubahan perilaku konsumen sangat terasa sejak penyesuaian harga BBM diesel dilakukan pemerintah. Stok unit yang biasanya cepat terjual kini mulai tertahan di ruang pamer tanpa kepastian transaksi.
"Contohnya Captiva diesel 2010 ini. Beberapa bulan lalu masih ada yang tanya. Sekarang bulan ini sebenarnya sudah enggak ada yang cari mobil diesel," kata Singgih.
Singgih menambahkan bahwa keresahan pelanggan tetap muncul meskipun beberapa jenis mobil diesel keluaran lama secara teknis masih diperbolehkan menggunakan Biosolar bersubsidi.
"Padahal mobil diesel 2010 masih bisa pakai Biosolar. Cuma sekarang ada rasa takut dari konsumen karena efek kenaikan harga BBM ini," ujar Singgih.
Sentimen negatif pasar ini sangat dipengaruhi oleh kebijakan subsidi pemerintah di masa mendatang. Ketidakpastian harga solar subsidi menjadi variabel utama yang membuat konsumen beralih ke jenis kendaraan lain.
"Patokannya sekarang tinggal solar subsidi. Kalau solar subsidi ikut naik, selesai sudah. Tinggal pemerintah kuat sampai kapan menahan subsidi," kata Singgih.
Guna mengatasi penumpukan unit, beberapa pedagang mengambil langkah drastis dengan mengoreksi harga jual. Singgih telah memangkas harga Chevrolet Captiva di showroom miliknya agar modal usaha bisa segera berputar kembali.
"Dulu saya buka harga di Rp 90 juta, bahkan sempat buka harga Rp 95 juta. Sekarang sudah turun jadi Rp 85 juta," ujar Singgih.
Prioritas utama para pengusaha mobil bekas saat ini adalah menjaga likuiditas meskipun harus mengorbankan margin keuntungan yang biasanya diperoleh dari penjualan unit diesel.
"Kalaupun harus balik modal atau rugi sedikit, sekarang tetap kami lepas. Daripada unitnya terus tertahan," kata Singgih.
Senada dengan kondisi tersebut, Zidan dari Salman Auto Mobilindo yang berlokasi di Kelapa Dua, Depok, juga masih memantau pergerakan pasar. Ia mengaku masih memiliki stok unit diesel yang belum berhasil dilepas ke tangan konsumen.
"Makanya sekarang kami masih melihat dulu kondisi pasarnya akan seperti apa, apakah nanti bisa stabil lagi atau tidak. Jadi kami lihat perkembangannya seperti apa," kata Zidan.
Zidan menegaskan keterbukaan pihaknya untuk melakukan negosiasi harga demi memastikan unit tidak mendekam terlalu lama di diler, meskipun hal itu berarti keuntungan menipis.
"Kalau ada yang mau beli mobil diesel dan masih ada tawaran yang masuk, syukur-syukur kalau masih ada margin pasti kami lepas," ujar Zidan.
Strategi melepas unit dengan harga modal menjadi opsi terakhir yang paling realistis bagi pedagang dalam situasi kelesuan pasar seperti saat ini.
"Tapi kalau harus balik modal juga langsung saya lepas. Enggak apa-apa, karena memang kondisi pasar sekarang seperti ini," ujar Zidan.
Sementara itu, Rama dari Rama Dagang Mobil di Rempoa, Tangerang Selatan, mengamati bahwa mayoritas pedagang kini jauh lebih selektif dalam menambah inventaris unit bermesin diesel.
"Namun, kalau bicara soal harga, sebenarnya belum ada penurunan signifikan, pedagang masih menjual dengan harga yang sama," kata Rama.
Langkah preventif diambil oleh para pelaku usaha untuk menghabiskan stok yang sudah terlanjur dibeli sebelum memutuskan untuk masuk kembali ke segmen diesel.
"Perbedaannya, saat ini pedagang cenderung menahan diri untuk tidak mengambil stok mobil diesel seperti itu dulu. Mereka ingin menghabiskan stok yang ada sampai laku terjual," kata Rama.