Balai Pengujian Laik Jalan dan Sertifikasi Kendaraan Bermotor (BPLJSKB) mengoperasikan boneka uji tabrak atau crash test dummy senilai Rp8 miliar di fasilitas pengujian Cibitung, Bekasi, Jawa Barat. Alat simulasi ini digunakan untuk mengukur tingkat keselamatan dan perlindungan kendaraan saat terjadi benturan keras.
Penggunaan teknologi ini bertujuan untuk mendapatkan data akurat mengenai potensi cedera manusia tanpa membahayakan nyawa dalam setiap pengujian. Berdasarkan laporan Otomotif, nilai satu unit boneka tersebut setara dengan harga rumah mewah karena dilengkapi teknologi sensor tingkat tinggi.
Kepala Laboratorium Passive Safety BPLJSKB, W Aris Munandar, memberikan rincian mengenai aspek biaya dan efisiensi penggunaan alat simulasi manusia tersebut dalam operasional laboratorium.
“Satu dummy itu harganya hampir Rp 8 miliar. Tapi itu bisa dipakai berulang kali, kalau manusia kan tidak mungkin,” kata Aris Munandar, Kepala Laboratorium Passive Safety BPLJSKB.
Saat ini, fasilitas di Cibitung tersebut mengelola tiga jenis boneka utama yang disesuaikan dengan metodologi pengujian yang berbeda. Hal ini mencakup simulasi untuk tabrakan dari berbagai arah guna memenuhi standar keselamatan yang berlaku.
“Fasilitas ini punya tiga dummy, masing-masing satu set untuk tabrak depan, tabrak samping dan kami juga punya tambahan beberapa dummy seperti cell dummy, bisa buat NCAP,” ujar Aris Munandar.
Setiap unit dummy memiliki perangkat elektronik internal yang mampu mendeteksi gaya benturan pada titik-titik krusial tubuh. Karena sensitivitas komponennya, perawatan alat ini memerlukan prosedur khusus yang sangat ketat, terutama terkait pengaturan suhu ruangan.
“Ruangan ini selalu dingin 24 jam walaupun libur ini (AC) tetap menyala,” kata Aris Munandar.
Pengaturan suhu konstan sangat penting karena material logam pada kerangka boneka dapat mengalami pemuaian jika terpapar panas. Ketidakkonsistenan suhu akan memengaruhi tingkat kekerasan material dan menyebabkan validitas data pengujian menjadi tidak sinkron secara internasional.
“Kalau panas rib sensitif, batang logamnya akan memuai, jadi tingkat kekerasannya akan berbeda. Jadi ketika diuji di beda tempat, di sini (Indonesia) atau Eropa, Amerika hasilnya tidak sama,” ujar Aris Munandar.
Untuk menjaga objektivitas hasil, BPLJSKB menetapkan standar suhu ruangan yang sangat spesifik agar selaras dengan parameter pengujian global. Hal ini memastikan bahwa fitur keselamatan seperti airbag dan sabuk pengaman dinilai berdasarkan data yang konsisten.
“Maka itu untuk menyamakan standarnya parameternya harus sama. Temperaturnya kita jaga antara 18-25 derajat tapi kami setting di 20 derajat (celsius),” kata Aris Munandar.