Lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis solar non subsidi memicu pembengkakan biaya operasional pemilik kendaraan diesel mewah di Jakarta hingga Sabtu (9/5/2026), meski tren penjualan unit bekas di bursa otomotif terpantau masih stabil. Kenaikan harga pada sejumlah penyedia BBM membuat pengeluaran pengisian penuh tangki meningkat hingga dua kali lipat dibandingkan periode sebelumnya.
Data harga pasar menunjukkan harga Dexlite kini menyentuh angka Rp26.000 per liter, sementara Pertamina Dex berada di level Rp27.900 per liter. Di sektor swasta, harga terpantau lebih tinggi dengan BP Ultimate Diesel dipatok Rp29.890 per liter dan VIVO Diesel Primus mencapai Rp30.890 per liter.
Kondisi ini dikeluhkan oleh May, warga Jakarta pengguna Mitsubishi Pajero Sport, yang merasakan dampak langsung pada pengeluaran harian untuk mobilitas rutinnya.
"Luar biasa mahalnya, naiknya sampai dua kali lipat. Dulu Rp 500 ribu tuh udah full tank, sekarang full tank harus Rp 1,5 juta," kata May kepada CNNIndonesia.
Meski biaya membengkak, May memilih bertahan dengan kendaraannya saat ini daripada beralih ke bahan bakar bersubsidi yang berisiko merusak komponen mesin.
"Takutnya mesinnya rusak kalau ke biosolar atau Pertalite, takutnya enggak cocok. Mau ganti mobil apaan? Sayang itu mobilnya mau diapain? Ya udah pasrah aja," katanya.
Keluhan serupa disampaikan Ari, seorang pekerja di Mega Kuningan yang menggunakan Toyota Innova diesel tahun 2019. Ia kini mulai membatasi penggunaan mobil pribadi dan beralih ke transportasi umum pada akhir pekan guna menekan biaya.
"Bikin emosi dong. Naiknya enggak kira-kira sekarang naik hampir 100 persen. Tapi enggak mau juga sih pakai solar, kasihan mobilnya," kata Ari.
Penyesuaian gaya hidup menjadi pilihan Ari di tengah tingginya harga BBM diesel saat ini.
"Jadi males pakai mobil yang diesel. Weekend sebisa mungkin enggak pakai mobil tersebut. I choose to ride bus nowadays," katanya.
Sementara itu, pantauan di pusat mobil bekas WTC Mangga Dua menunjukkan aktivitas perdagangan unit diesel seperti Toyota Fortuner dan Mitsubishi Pajero Sport belum menunjukkan tanda-tanda penurunan harga atau lonjakan unit yang dijual massal. Julian, salah satu pedagang, menyebutkan harga jual kembali masih bertahan di angka Rp400 juta hingga Rp500 juta.
"Soal dampak kenaikan solar non subsidi, belum ada ya, belum ada yang jual Fortuner sama Pajero," kata Julian saat ditemui CNBC Indonesia.
Ia merinci bahwa untuk unit Pajero Dakar tahun 2018 masih dibanderol sekitar Rp400 jutaan.
"Harga masih normal, untuk Pajero Dakar 2018 masih Rp400 jutaan, Fortuner 2.8 VRZ GR Sport Rp475 juta," lanjut Julian.
Pedagang lainnya, Tono, menegaskan bahwa permintaan unit SUV diesel masih cukup tinggi terutama untuk pembeli dari luar Pulau Jawa karena keunggulan mesinnya di medan jalan yang belum merata.
"Belum ada penurunan harga, bahkan enggak ada sampai harga jatuh, yang ngejual bukan karena harga solar mahal, ya masih biasa lah," kata Tono.
Tono menambahkan bahwa karakter jalan di luar Jawa membuat kendaraan jenis ini tetap menjadi primadona di pasar mobil bekas.
"Kalau peminat Fortuner dan Pajero masih ramai ya, apalagi yang di daerah-daerah luar Jawa, karena kan jalanan di sana masih belum sebagus di Jawa, and mobil yang tepat ya Fortuner dan Pajero," tambahnya.
Menurutnya, beberapa pemilik menyiasati kenaikan harga dengan tetap menggunakan biosolar melalui perawatan ekstra pada sistem penyaringan bahan bakar.
"Ya kalau mobil Jepang kan gampang diakalinnya, enggak seperti mobil Korea Selatan yang kalau isi solar subsidi, langsung sensitif, Fortuner sama Pajero bisa sebenarnya, cuma ya harus rajin ganti filter tangki, ya 5 bulan sekali ya," ucap Tono.
Diah, yang juga berdagang di lokasi yang sama, mengonfirmasi bahwa stok Innova Reborn diesel keluaran terbaru masih sangat diminati dengan rentang harga Rp375 juta hingga Rp450 juta.
"Masih banyak yang cari kok Innova Reborn, masalah mau nanti ngisi biosolar pun enggak masalah," kata Diah.