Kenaikan Harga Solar Nonsubsidi Dorong Pengguna Mobil Diesel Beralih ke EV

Kenaikan Harga Solar Nonsubsidi Dorong Pengguna Mobil Diesel Beralih ke EV

Lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis solar nonsubsidi memicu perubahan pola konsumsi pengguna mobil diesel di Indonesia yang kini mulai membatasi mobilitas harian pada Rabu (6/5/2026). Dilansir dari Otomotif, sejumlah pemilik kendaraan SUV bermesin diesel memilih beralih ke kendaraan listrik guna menekan biaya operasional yang meningkat tajam.

Ali Fahmi, seorang pemilik Toyota Fortuner TRD 2019 sekaligus anggota komunitas ID42ner 1451, mengungkapkan bahwa dirinya kini lebih selektif dalam menggunakan kendaraan pribadinya. Penggunaan mobil diesel yang biasanya menjadi andalan aktivitas harian kini dialihkan hanya untuk perjalanan luar kota saja.

"Semenjak solar nonsubsidi naik, saya tidak pakai Fortuner lagi untuk harian. Sekarang hanya untuk luar kota saja," ujar Ali kepada KOMPAS.com, Rabu (6/5/2026).

Keputusan tersebut diambil lantaran pembengkakan anggaran bahan bakar yang dirasakan sangat signifikan setiap bulannya. Ali memberikan rincian bahwa pengeluaran rutin untuk pengisian bahan bakar jenis Dexlite kini mengalami kenaikan hingga tiga kali lipat dari biasanya.

"Biasanya saya isi Dexlite di kisaran Rp 4 juta sampai Rp 5 juta sebulan, sekarang bisa tiga kali lipat. Jadi sekitar Rp 12 juta sampai Rp 15 juta," kata Ali.

Tren pergeseran ke kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) juga mulai terlihat di kalangan komunitas pengguna mobil diesel untuk menyiasati mahalnya harga bahan bakar. Banyak anggota komunitas yang sudah mulai mengadopsi teknologi EV demi efisiensi biaya saat berkendara di dalam kota.

"Teman-teman di grup komunitas sudah banyak yang beli EV juga, lebih irit," ucap Ali.

Meskipun terjadi tekanan ekonomi akibat kenaikan tersebut, Ali menyatakan masih terdapat batas toleransi harga tertentu bagi pemilik mobil diesel untuk tetap menggunakan kendaraannya. Ia menitikberatkan harapannya agar harga tidak melambung melampaui angka psikologis pengguna.

"Saya berharap kenaikan tidak seperti ini. Harga di bawah Rp 20.000 masih oke lah," kata Ali.

Senada dengan Ali, Andre yang merupakan pengguna Toyota Fortuner VRZ diesel tahun 2021 di Jakarta, mengaku telah mengantisipasi kondisi ini dengan menyiapkan kendaraan listrik. Ia kini lebih memprioritaskan penggunaan EV untuk mobilitas rutin sehari-hari dibandingkan menggunakan mobil dieselnya.

"Mulai agak berat ya, untungnya saya sudah prepare EV. Biasanya Fortuner di pakai sesuai tanggal plat mobil (genap), akan jarang digunakan sekarang. Lebih ke full EV sehari-hari," kata Andre.

Langkah kepemilikan mobil listrik BYD M6 yang diambil Andre tidak hanya didasari oleh faktor penghematan biaya bahan bakar semata. Kendaraan tersebut juga dipersiapkan sebagai cadangan daya dalam kondisi darurat di tengah ketergantungan masyarakat terhadap teknologi dan listrik.

"BYD M6 ini memang sengaja dibeli karena antisipasi hal seperti ini juga, selain sebagai genset berjalan apabila ada apa-apa, karena semua sudah dengan teknologi dan butuh listrik jadi ketika ada kondisi darurat," lanjut Andre.

Artikel terkait

Rekomendasi