Pasar mobil bekas tipe mesin diesel di Jakarta mengalami lonjakan suplai kendaraan sekaligus perlambatan penjualan akibat dampak kenaikan harga bahan bakar solar non subsidi pada Rabu (6/5/2026). Fenomena ini dilansir dari Otomotif dipicu oleh banyaknya pemilik kendaraan yang memilih untuk menjual unit mereka.
Andi, tenaga penjual di showroom Jordy Mobil MGK Kemayoran, menjelaskan bahwa tren pelepasan unit diesel meningkat signifikan sejak harga solar melonjak sekitar 30 persen. Meski suplai melimpah, nilai depresiasi kendaraan diesel secara umum masih stabil pada kisaran 10 hingga 15 persen.
"Banyak pemilik mobil diesel yang menjual mobil sejak harga solar naik. Kenaikan bisa sampai 30 persen," ujar Andi, tenaga penjual showroom Jordy Mobil.
Meskipun terjadi peningkatan suplai, Andi mencatat bahwa permintaan terhadap kendaraan jenis ini masih tetap ada, terutama dari konsumen di luar daerah yang memanfaatkan mobil diesel untuk keperluan operasional usaha.
"Kalau untuk depresiasi mobil diesel kisaran 10 persen sampai 15 persen," kata Andi.
Permintaan dari pedagang di daerah biasanya menyasar pada kendaraan diesel produksi tahun lama yang memiliki keunggulan teknis tertentu dibandingkan model terbaru.
"Yang beli mobil solar kebanyakan pedagang daerah. Untuk daerah tertentu mobil solar masih ada peminatnya," ujarnya.
Kendaraan produksi lama tersebut tetap diminati karena masih kompatibel dengan bahan bakar jenis biosolar yang harganya lebih terjangkau.
"Tapi kebanyakan tahun lama yang masih bisa pakai biosolar," kata Andi.
Di sisi lain, para pelaku usaha kini bersikap lebih waspada dalam mengelola ketersediaan stok mereka di bursa mobil bekas.
"Kalau saya tidak mau beli mobil diesel dulu, mungkin sampai keluar solar yang B50," ucap Andi.
Dampak penurunan minat pembeli juga dikonfirmasi oleh Agus, pemilik showroom Focus Motor, yang menyatakan pasar saat ini tengah berada dalam fase lesu yang cukup dalam.
"Karena harga solar naik betul sekali, tapi kita juga ada rencana bukan tidak membeli, tapi membeli dengan potongan 10 sampai 15 persen dari harga pasaran," ujar Agus, pemilik Focus Motor.
Agus memaparkan bahwa penurunan volume transaksi mencapai angka 60 hingga 70 persen jika dibandingkan dengan kondisi sebelum kenaikan harga solar non subsidi diberlakukan.
"Penurunan penjualan mulai semenjak naik solar non subsidi sekitar 60 sampai 70 persen dibanding periode sebelumnya," kata Agus.
Kondisi ini berbanding terbalik dengan situasi sebelumnya di mana unit mesin diesel menjadi salah satu model yang paling cepat terjual di gerainya.
"Kalau dulu, di saya rata-rata seminggu bisa laku sekitar 15 sampai 30 unit. Kalau sekarang mengalami perlambatan, laku sekitar 7 sampai 10 unit saja," ucap Agus.