Honda Alami Kerugian Operasi Perdana akibat Restrukturisasi Mobil Listrik

Honda Alami Kerugian Operasi Perdana akibat Restrukturisasi Mobil Listrik

Kerugian operasi tahunan perdana sejak tahun 1957 dialami oleh Honda Motor Co. akibat tertekan beban restrukturisasi bisnis mobil listrik. Pabrikan otomotif asal Jepang ini mencatatkan nilai kerugian operasi yang fantastis mencapai Rp45,3 triliun.

Kondisi finansial tersebut memaksa perusahaan menurunkan target elektrifikasi secara ambisius yang telah dicanangkan sebelumnya. Dikutip dari Suara, Honda juga resmi membatalkan investasi raksasa untuk pembangunan pabrik mobil listrik dan baterai di Kanada senilai Rp192 triliun.

Laporan keuangan untuk tahun fiskal yang berakhir pada Maret 2026 menunjukkan kerugian operasi Honda menyentuh angka JPY 414,3 miar atau setara Rp45,3 triliun. Catatan ini berbanding terbalik dengan tahun fiskal sebelumnya, di mana perusahaan masih meraup laba JPY 1,2 triliun atau berkisar Rp130,9 triliun.

Sektor kendaraan listrik menjadi pemicu utama kemerosotan keuangan ini. Total kerugian yang bersumber dari divisi EV dilaporkan menembus JPY 1,45 triliun atau sekitar Rp158,9 triliun.

Tekanan finansial diprediksi masih akan berlanjut pada periode berikutnya. Manajemen Honda memperkirakan ada tambahan biaya restrukturisasi EV sebesar JPY 500 miliar atau setara Rp87,3 triliun untuk tahun fiskal mendatang.

Pembatalan Proyek Raksasa di Kanada

Menanggapi situasi ini, CEO Honda Toshihiro Mibe mengonfirmasi bahwa perusahaan tidak akan lagi mengejar target kendaraan listrik yang terlalu ambisius. Target awal yang menetapkan mobil listrik harus menyumbang 20 persen dari total penjualan baru pada tahun 2030 kini resmi dihapus.

Sikap realistis juga diambil terhadap target jangka panjang operasional perusahaan. Komitmen penjualan 100 persen mobil listrik atau kendaraan fuel cell pada tahun 2040 mendatang kini dinilai tidak lagi masuk akal untuk dikejar.

Sebagai langkah konkret pembatasan ambisi, proyek bernilai USD 11 miliar atau Rp192 triliun di Kanada resmi dihentikan. Fasilitas yang awalnya disiapkan sebagai pusat produksi mobil listrik dan komponen baterai tersebut tidak akan dilanjutkan demi menghindari persaingan pasar yang terlalu berisiko.

Peralihan Fokus ke Sektor Sepeda Motor

Meskipun divisi roda empat elektrik mengalami keterpurukan, manajemen tetap optimistis mampu membukukan laba JPY 500 miar atau Rp87,3 triliun pada tahun ini. Angka keuntungan tersebut bertumpu pada kinerja positif dari lini bisnis lainnya.

Sektor sepeda motor menjadi penyelamat finansial utama bagi perusahaan. Lini bisnis roda dua ini berhasil menorehkan rekor penjualan tertinggi sepanjang sejarah sekaligus menyumbang keuntungan yang masif bagi kas internal.

Langkah efisiensi biaya secara ketat di berbagai sektor juga terus digenjot. Strategi ini diharapkan mampu menutup celah kerugian yang dihasilkan dari operasional divisi mobil listrik.

Bagi pasar global termasuk Indonesia, kebijakan konservatif ini berpotensi membatasi ketersediaan varian mobil listrik Honda dalam beberapa tahun ke depan. Di tengah masuknya kompetitor agresif seperti Tesla dan BYD, Honda memilih bertahan lewat reputasi kuat di segmen kendaraan konvensional serta sepeda motor.

Artikel terkait

Rekomendasi